Sekapur Sirih
Haji Ir. Hasan Basyarudin Nasution yang berdiam
di jalan Belitung no.15 Baranangsiang Bogor, bernama kecil: Hasan Basyarudin.
Karena ayahnya bermarga Nasution, maka sejalan Adat Batak di Mandailing, Tapanuli
Selatan, yang menganut garis keturunan patrilenial, maka menjadlah ia: Hasan
Basyarudin Nasution. Karena terlahir di Mandailing, ketika baru lahir di tempat
kelahirannya masyarakat menamakannya si Lian, artinya anak laki-laki; manakala yang
lahir anak perempuan maka dinamakan si Taing.
Dalam persidangan Adat Batak digelar di Padang
Sidempuan ketika menikah dengan Dorom, boru Harahap dari Pargarutan Gunung
Manaon silam, kepadanya dianugerahkan gelar: “Sutan Borotan”. Dengan demikian
sejalan Adat Batak, seorang yang telah bermah tangga nama kecil perlu
digantikan dengan gelar, untuk
mengingatkannya akan tanggungjawab yang diemban, karena panggilan nama kecil,
menurut Hatobangon (Tetua Adat), hanya akan mengingatkannya kepada kehidupan
masa muda. Dengan kelahiran putrinya si Rusmini, menurut kelaziman ma-syarakat
Tapanuli, sebutan padanya harus pula diganti jadi “Amani Rusmini”. Dalam panda-ngan
tetua Hatobangon di Bona Bulu, penyebutan nama kecil (teknonimi) seseorang yang
telah menjadi ayah samalah halnya dengan mengingatkannya kepada hal-hal yang
bercorak masa muda yang lampau lampau baginya. Pengingatan demikian menurut
penilaian cendekiawan Adat Batak, tidak akan mendukung kehidupan seorang ayah
dalam perjalanan waktu. Dengan penyebutan “Amani Rusmini”, selain menghargainya
sebagai seorang ayah, sekaligus juga me-ngingatkan akan tanggungjawab yang sedang
diemban. Itulah sebabnya mengapa sapaan kepa-danya perlu berganti dengan nama
putri sulungnya “Rusmini”, dengan awalan kata “Amangni”, yang secara
keseluruhan berarti “ayahnya si Rusmini”.
Di rumah, oleh anak-anak ia disapa “ayah”,
panggilan akrab anak kepada orang tua laki-laki yang juga dikenal luas dalam masyarakat
Batak di Mandailaing, Tapanuli Selatan. Di lingkungan Masyarakat Kehutanan
Bogor Ir. Haji Hasan Basyarudin Nasution dikenal dengan panggilan “Bapak Hasan”, karena beliau adalah salah seorang
Rimbawan yang dikenal masyarakat di ling-kungan kehutanan Tanah-air.
Dan dengan kelahiran cucu tertua si Titik Darnila
Siregar, maka dengan penalaran Batak yang dihemukakan di atas, sapaan padanya
berganti lagi menjadi: “Ompuni Titik”, yang berarti “ka-kek si Titik”, untuk
menggantikan panggilan “Amangni Rusmini” yang telah berakhir masa pe-makaiannya.
Usai menunaikan Ibadah Haji yang pertama di Tanah
Suci, ketika masih berada di tengah-tengah kota Mekah, sapaan padanya bertambah
satu lagi dengan “Haji”, menjadi: Haji Ir. Hasan Basysrudin Nasution.
Pendahuluan
Zaman Hindia Belanda
Muara Botung adalah sebuah desa yang terletak di
kecamatan Kotanopan, tepatnya di perbatasan
kecamatan Muara Sipongi dengan kecamatan Kotanopan Mandailing, Tapanuli
Selatan. Muara Botung berada di pinggir JALINTENG (Jalan Lintas Tengah) Sumatera
yang menghubungkan kota Bukit Tinggi di Sumatera Barat dengan kota Padang
Sidempuan di Tapanuli Selatan yang melalui: Lubuk Sikaping, Panti, Muara Sipongi,
Kotanopan, Panyabungan, Siabu, dan Pintu Pa-dang terdapat di Propinsi Sumatera
Utara (SUMUT).
Ayah Ir. Haji
Hasan Basyarudin Nasution adalah putra keempat Ompung Hadji Abdoel Gani, gelar
Radja Moelia, lahir di Kotanopan pada tanggal 15 Mei 1915, berasal dari
Muara Botung, Man-dailing. Ayah adalah
anak keempa duabelas bersaudara banyak menghabiskan masa kecil-nya di kampung
halaman bersama saudara dan kaum kerabat. Ketika itu Ompung Hadji Abdoel Gani yang
bernama kecil Syarif Nasoetion dikenal sebagai saudagar hasil bumi di daerahnya,
an-tara lain: kaaret, kopi, dan lainnya, acapkali mengantar sendiri barang
dagangan ke Bukit Tinggi, bahkan sampai ke Singapura. Selain sebagai saudagar
hasil bumi, beliau juga menjabat Kepala Kampung di Muara Botung, dan pada saat
yang sama Ompung juga anggota PSI (Partai Syarikat Islam) di Mandailing di zamannya.
Ayah mengawali pendidikan dengan bersekolah HIS
Kotanopan. Usai HIS ayah memutuskan untuk tidak menlanjutkan sekolah dan ingin
bekerja. Ompung menyambut baik keinginan putra keempat ini, dan memberinya
pekerjaan mengawal pengangkut hasil bumi dan sekaligus pekerja bongkarmuat dagangan.
Setelah beberapa bulan mengikuti kendaraan, ayah kemudian melapor pada Ompung
bahwa pekerjaan yang diberikan terlalu berat baginya untuk dilanjutkan, dan memutuskan
untuk kembali melanjutkan sekolah lagi.
Awalnya ayah mengikuti sekolah MULO di Padang
Sidempuan setahun, lalu memutuskan pin-dah ke HIK (Hollands Inlandsche
Kweekschool) di Bukit Tinggi. Orang di kota itu menamakan HIK “Sekolah Rajo”
(Sekolah Raja), karena pendidikan ini diperuntukkan bagi kaum bangsawan yang
ingin menjadi guru, lalu memilih Onderbouw. Setahun kemudian, ke sekolah yang
sama bergabung Abdul Harris Nasution dari Huta Pungkut yang terletak tidak jauh
dari Kotanopan, juga untuk menjadi guru. Akan tetapi kemudian ia lebih dikenal
dengan: Dr. A.H. Nasution, Jenderal TNI R.I.
Bintang Lima.
Setelah menyelesaikan HIK, ayah tidak segera
menjadi guru, tetapi ingin meneruskan sekolah,
lalu memilih MLS (Middelbare Landbow School) di Bogor karena tertarik pada
pekerjaan bos-wezen (kehutanan) yang digeluti tulangnya (saudara laki-laki
ibunya) di Mandailing kala itu. Meski Abdul Harris Nasution tidak dapat
menyelesaikan Sekolah Raja di Bukit Tinggi karena di-tutup oleh pemerintah Hindia
Belanda yang kehabisan anggaran saat itu, namun ia berhasil me-nammatkan HIK di Bandung. Kini Sekolah Raja
dimana ayah dan Jenderal Dr. A.H.Nasution pernah dahulu belajar telah berubah
menjadi SMA-II Bukit Tinggi, terletak di jalan Jenderal Su-dirman kota itu
tidak jauh dari Polres setempat.
Selama berdiam di Bogor menyelesaikan di MLS,
ayah turut mencari keberadaan bou Mariam, anak perempuan paman ayah Zainal
Abidin Nasution dari Muara Botung, yang selama ini dikh-abarkan merantau ke
pulau Jawa mengikuti bujingnya (saudara perempuan ibu). Bujingnya ini menikah
dengan seorang warga Belanda ketika itu menjadi seorang pejabat Belanda di
Muara Si-pongi, lalu membawa serta bou Mariam saat kembali lagi ke Jawa. Lama
Ompung Zainal Abidin dan sanak saudara di Muara Botung tidak mengetahui
keberadaannya di tanah seberang. Akhir-nya ayah berhasil mendapat tempat
keberadaan saudara sepupunya lewat korespondensi, dan keluarga Belanda yang
diikuti bou ketika itu telah berada di Semarang.
Pada tahun 1937, ayah menyelesaikan MLS Bogor,
dan terhitung tanggal 1 September 1937 ayah diangkat menjadi “Mantri Kehutanan”
(Pejabat Menengah Kehutanan)pemerintah Hindia Belan-da di desa Ciparay, pedalaman
Jawa Barat, Bumi Parahiyangan, Bandung Selatan.
Peta Sumatera-Jawa
Suka duka menjabat Mantri Kehutanan menurut
ceritra ayah amat beragam. Salah satu darinya ketika bertugas di lapangan.
Jalan dilalui bukan seperti yang terdapat di kota besar, akan tetapi penuh
semak dan belukar bahkan hingga rimba. Tidak jarang harus menyeberang riam
hingga sungai berair deras. Rombongan
yang diberi tugas harus menuruni tebing curam untuk sampai ke sungai, lalu melangkahi
bebatuan dan air deras, lalu kembali mendaki tebing untuk sampai di seberang.
Kebiasaan yang ada ketika itu, seorang Mantri Kehutanan harus ditandu saat menye-berang
sungai. Ayah terpaksa menurut, walau merasa dapat dengan mudah menuruni
tebing, melangkahi bebatuan, mendaki tebing seberang, berkat pengalaman hidup
di kampung Muara Botung silam. Ketika menuruni tebing, para penandu
belakang terpaksa bungkuk untuk menjaga
tandu agar selalu mendatar, sebaliknya ketika mendapatkan tebing
seberang giliran para penandu depan melakukan pekerjaan yang sama.
Pada awal tahun 1941, dari Ciparay ayah merintis jalan pulang ke kampung untuk
bertemu ibu yang berdiam di Padang Sidempuan. Semula ayah mengenal Guru Firman
Rangkuti asal Man-dailing yang mengajar
di ibukota Angkola ketika itu. Dengan perantaraan beliau ayah berkena-lan dengan keluarga Ompung Soetan
Moelia, pensiunan Schoolopziener dari Kotanopan untuk bersua dengan ibu.
Setelah kesepakatan antara keluarga kedua belah fihak tercapai, pernikahan
menurut syariat agama Islam dilangsungkan, dan perhelatan adat Batak Angkola
pun dilang-sungkankan.
Selesai melangsungkaan pernikahan, dan diizinkan sanak
keluarga dari Angkola dan berziarah, ayah dan ibu lalu meninggalkan Padang
Sidempuan, ibukota Afdeeling Tapanuli Selatan ketika itu, untuk menyeberang
lautan merantau ke pulau Jawa, berdiam di desa, di pedalaman bumi Parahiyangan.
Sebuah perubahan besar ketika itu bagi ibu, karena adat istiadat yang
mengitari kehidupannya berganti cepat, di
zaman penjajahan Hindia Belanda, di Nederlands Oost Indies (Hindia Belanda
Timur). Selain dari itu bahasa Sunda, satusatunya alat berkomunikasi dengan
masyarakat setempat di Ciparay sama-sekali belum diketahui ibu.
Kehadiran ibu ditengah masyarakat Ciparay masih
menjadi hal langka untuk kebanyakan orang disana ketika itu, terlebih melihat
ayah yang bersusah payah kembali ke kampung asal jauh dipe-dalaman pulau
Sumatera hanya untuk memperoleh teman hidup. Bukankah yang demikian ba-nyak
terdapat di tanah Parahiangan, mudah didapat tanpa perlu bepergian jauh dengan
biaya yang mahal menghabiskan waktu berbilang hari. Karena itu, banyak warga
desa yang tidak habis fikir datang ke rumah di Ciparay hanya untuk menjenguk
ibu, ingin mengetahu seberapa hebatkah ibu sampai perlu didatangkan dari pulau
Sumatera yang jauh menyita banyak biaya dan waktu. Jumlah para penjenguk
datang berkunjung berkurang dalam perjalanan waktu, setelah menyadari bahwa
ibu bukanlah wanita istimewa, dan samasekali tidak berbeda dari
kebanyakan orang yang dapat dijumpai di desa Ciparay.
Zaman Penjajahan Jepang
Jambi
Mengetahui akan
kedatangan Fascist Jepang yang akan menyerbu ke nusantara, banyak masya-rakat Batak dari Bona Bulu meminta kepada
sanak saudara yang berada di perantauan untuk secepatnya pulang guna
menyelamatkan diri. Itulah sebabnya mengapa timbul gelombang pe-ngungsian
ketika itu yang berbondong-bondong masuk ke Tapanuli Selatan dari perantauan,
se-perti: Sumatera Timur, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, sampai dengan dari pulau
Jawa. Tidak seluruh pengungsi yang kembali menuju ke kampung halaman
masing-masing, karena tidak sedi-kit pula dari mereka yang memutuskan berdiam di
Padang Sidempuan untuk mengamati per-kembangan keadaan.
Ayah dan ibu tidak lama tinggal di Ciparay,
karena dalam tahun 1941 ayah lalu dipindahkan ke Jambi. Pada zaman Hindia
Belanda, propinsi Jambi masih menjadi bagian dari keresidenan “Su-den Sumatera”
(Sumatera Selatan). Tidak ada yang mengira kepindahan ayah dan ibu telah di-warnai
perubahan besar perjalanan sejarah
dunia, dimulai dari Eropa di belahan bumi Barat sampai dengan Asia di belahan
bumi Timur, kendati masih belum banyak anak bangsa di tanah jajahan Hindia
Belanda saat itu yang menyadari, karena masih belum memperlihatkan pengaruh
pada kehidupan masyarakat sehari-hari di kota Jambi.
Persetujuan Versailles dibidani: Perancis,
Inggris dan Amerika Serikat pada penghujung Perang Dunia ke-I tidak lagi dapat mengedalikan
perdamaian negara-negara di Eropa ketika, karena ti-dak lagi memenuhi aspirasi sejumlah fihak
di kawasan itu. Perlucutan senjata untuk menghindar-kan perang diantara
negara-negara besar di daratan Eropa yang disepakati guna menjaga perda-maian
tidak lagi dapat berjalan. Konferensi ekonomi Locarno tahun 1925, begitu pula
London tahun 1933, menemui kegagalan. Gagasan pembentukan Liga Bangsa-bangsa
(League of Na-tions) guna mejaga perdamaian dunia, tidak cukup kuat kalau Amerika
Serikat tidak disertakan, masih tinggal rencana yang belum terlaksana, apalagi
lagi mempunyai kekuatan pemaksa.
Setelah berhasil menjadi pemimpin NSDAP
(Nationalsozialistische Deutsche Arbeiter Partei, atau Partai Pekerja Nasional
Sosialis Jerman), disingkat NAZI, pada tahun 1921 Adolf Hitler berkampanye
membangun Jerman kembali yang kalah dalam Perang Dunia ke-I silam. Ia menu-lis
buku “Mein Kamph” (Perjuanganku) yang menjadi pegangan perjuangan bangsanya.
Kini dibawah kepemimpinan Hitler Jerman bangkit kembali, lalu pada tahun 1933
Adolf Hitler me-nyatakan diri sebagai Pemimpin Tertinggi (Reich Chancellor) di
negerinya.
Lalu pada tanggal 1 September 1939, Jerman menyerbu
Polandia dengan theori perang modern usulan Jenderal muda Heinz Guderian.
Diawali serangan udara jam 06.00 waktu setempat, Divisi-3 Jerman pimpinan
Jenderal Fedor von Bock lalu menerobos dari Prusia Timur arah teng-gara. Ia
dibantu Divisi-4 Jerman pimpinan Jenderal Günter von Kluge yang menjebol perbat-asan
Jerman dengan Polandia. Pukulan dua kali lebih besar dilancarkan Divisi-8
Jerman pim-pinan Jenderal Johannes von Blaskowitz, dan Divisi-10 pimpinan
Jenderal Siegmund List menerjang dari Utara Czekoslowakia, menyebabkan Polandia
porakporanda dan pemerintah dan pim-pinan militernya melarikan diri.
Inggris bersama Perancis, dua negara adidaya
Eropa ketika itu, segera mengetahui apa yang telah dilakukan Jerman di
Polandia, dan marah besar. Keduanya langsung memberi ultimatum kepada Jerman
untuk meninggalkan Polandia secepatnya. Akan tetapi ultimatum dua superpower
Eropa saat itu samasekali tidak diindahkan Jerman. Maka pada tanggal 3
September 1939, dua hari setelah penyerbuan Polandia, dikumandangkanlah
Perang Dunia kedua di daratan Eropa.
Jerman dengan cepat menduduki negeri-negeri kecil
di pesisir Barat Laut Eropa yang menyata-kan diri mereka netral. Jerman lalu
menyerbu dan menduduki negeri Belanda bulan Mei tahun 1940 menyebabkan Ratu
Wilhelmina yang mengepalai negeri itu terpaksa hengkang meninggal-kan negeri
dan mengungsi ke Inggris.
Pada tanggal 7 Desember 1941, Kaigun (Angkatan
Laut) Jepang pimpinan Vice-Admiral Chui-chi Nagumo melaksanakan serangan
mendadak ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, pulau
Oahu, di gugusan kepulauan Hawai. Jepang berhasil melumpuhkan pangka-lan Angkatan
Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik, tetapi tidak mendudukinya. Ada
analist Jepang ketika itu yang mengibaratkan serangan Nagumo itu sebagai orang
yang membangunkan harimau tidur, begitu terjaga akan menerkam langsung.
Dalam serangan itu Kaigun mengerahkan 6 buah kapal
induk mengangkut 360 pesawatterbang
dikawal: 2 kapal perang, 2 penjelajah berat, 11 kapal perusak
(destroyer), dan lainnya. Di pangkalan Pearl Harbor, pada hari naas itu tengah
bersandar 70 kapal perang Paman Sam berikut 24 kapal pendukung; kebanyakan masih
tertambat karena sedang hari libur. Keesokan harinya Ame-rika Serikat lalu
mengumumkan perang kepada Jepang, dan Perang Dunia kedua pun merambah di
kawasan Asia.
Jepang tidak ingin kehilangan peluang dan ingin
segera mewujudkan impiannya mendirikan: “The Greater East Asia Co-Prosperity”
(Per-Semakmuran Asia Timur Raya) meliputi sejumlah wilayah Asia, terdiri dari negeri-negeri:
Korea, Cina, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja), Ma-laya, Birma (Myanmar),
Filipina, dan tanah jajahan Hindia Belanda; dibawah pimpinan Kaisar Hiro Hito
dari Negeri Matahari Terbit.
Pasukan Jepang pimpinan Jenderal Yamashita lalu
dengan cepat bergerak ke Selatan lewat pulau Hainan (Cina), lalu menerobos
jajahan Perancis Indocina dan Thailand. Sebagian pasukan Je-pang memisahkan
diri, dan bergerak ke Barat menuju Birma (Myanmar) sebuah tanah jajahan
kerajaan Inggris. Lainnya. langsung menuju Selatan mengendarai sepeda
menelusuri semenan-jung Malaya dan tiba di Kuala Lumpur dan Penang masih tahun
yang sama, ialah tanah jajahan kerajaan Inggris lainnya. Kapal perang
Inggris: Prince of Wales dan Repulse yang menghadang armada Jepang untuk
melindungi kota Singapura dihancurkan dalam sekejap, membuat pemerin-tah
Inggris yang berkedudukan di kota Singa itu terpaksa lari tunggang langgang
untuk menyela-matkan diri.
Serangan airbah Dai Toa Senso (Perang Asia Timur
Raya) pimpinan Jendral Imamura di kawa-san Pasifik Barat Daya atau Asia
Tenggara, ketika itu menyebabkan gabungan pasukan ABDA-COM (Australian,
British, Dutch, dan American Components) dari SEAC (South East Asia Command)
pimpinan Jenderal Sir Archibald P. Wavell yang ditugaskan melindungi tanah
Hindia Belanda hanya mampu bertahan 10 hari, kemudian dihancurkan tanggal 26
Februari 1942, membuat para pemimpin tiap pasukan yang berpangkat Jenderal
terpaksa berlari menyelamat-kan diri ke India dan Australia ketika itu.
Tujuan Jenderal Imamura jelas, secepatnya menduduki
dan menguasai nusantara, dan memaksa pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial dan tak berdaya di Batavia, ibukota Hindia Belanda kala itu, menyerah
tidak bersyarat, dan menjalankan terus ladang-ladang minyak beserta
kilang-kilangnya untuk menyediakan keperluan berjenis mesin perang dahaga bahan
bakar dan minyak pelumas.
Jepang masuk ke tanah jajahan Hindia Belanda
diawali serangan udara terhadap sejumlah kota: Tarakan di Kalimantan Utara pada
tanggal 11 Januari 1942, lalu Menado di Sulawesi Utara pada tanggal 17 Januari
1942, lalu Balikpapan di Kalimantan Timur tanggal 22 Januari 1942, Ponti-anak
di Kalimantan Barat tanggal 1 Februari 1942, Palembang di Sumatera Selatan
tanggal 14 Januari 1942, dan pulau Bali tanggal 26 Januari 1942.
Serdadu-serdadu Jepang menyerbu pulau Jawa tanggal
28 Februari 1942, dan melakukan pen-daratan serentak di tiga tempat, yaitu:
Banten, Indramayu dan Rembang. Dari Banten mereka bergegas menuju Batavia
lalu mematahkan perlawanan tentara Belanda dalam 4 hari. Yang dari Indramayu
langsung menuju lapangan terbang Kalijati, tidak jauh dari Subang, untuk
mencegat Gouverneur-Generaal (Gubernur-Jenderal) Hindia Belanda Tjarda van
Starkenberg Stachhouer dan pimpinan tertinggi KNIL (Koninklijke Nederlads Indie
Leger, yakni Angkatan Darat Kerajaan Belanda), Luitenant-Generaal
(Letnan-Jenderal) ter Poorten yang melarikkan diri lewat u-dara ke Australia.
Pada tanggal 8 Maret 1942 kedua pimpinan
tertinggi pemerintah Hindia Belanda itu menyerah tidak bersyarat setelah melakukan
perlawanan kurang dari 9 hari, lalu menandatangani perjanjian bertekuk lutut
pada Jepang yang mempermalukan bangsa Belanda dihadapan anak-anak pribumi dan
bangsa-bangsa Asia lainnya. Dengan demikian pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial dan berkusa di nusantara, dimulai kedatangan Cornellis de Houtman di
Banten tahun 1596, di-lanjutkan Jan Pieterszoon Coon yang mendirikan benteng
VOC di Batavia tahun 1619; setelah 346 tahun berkuasa, terpaksa berakhir dan masuk
kedalam sejarah.
Keesokan harinya, Jenderal ter Poorten
memerintahkan seluruh pasukan yang ada di tanah Hindia Belanda menghentikan
perlawanan menyerah kepada Jepang lalu membubarkan KNIL. Di pulau Sumatera
Generaal-Majoor (Mayor-Jenderal) Overtrakker dan rekannya Gozenson juga harus
menyerah kepada Jepang di perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara tidak jauh dari
Kotacane pada tanggal 28 Maret 1942.
Rakyat dimana-mana di seluruh nusantara dengan
mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana bangsa Belanda (orang Eropa dari
Barat), penjajah nusantara berbilang abad, bertekuk lutut begitu saja kepada
bala tentara Dai Nippon dari Jepang (orang Asia dari Timur), nyaris tidak me-nunjukkan
perlawanan berarti. Orang-orang Belanda yang kalah perang dijadikan internir
(tawan perang) Jepang, disuruh melakukan kerja kasar (koeli), melaksanakan rodi
(kerja paksa). Mereka diperintah tentara
Jepang: dihardik, dipukul, dicemeti, dan ditendang ketika tidak segera
memperlihatkan kepatuhan. Kepada mereka yang bersalah: digantung, dipancung,
dan ditembak mati oleh regu-regu pelaksana hukuman mati Jepang didepan orang
banyak.
Kota-kota di pulau Sumatera lalu berjatuhan ke
pangkuan pemerintah Facist Jepang pada tahun 1942, antara lain: Palembang 14
Februari, Jambi 26 Februari, Medan 12 Maret, dan Banda Aceh 13 Maret. Dengan berdiam
di Jambi, ibu menemukan pula lingkungan hidup yang baru dengan adat istiadat dan
bahasa daerah baru, yakni: adat-istiadat dan bahasa Jambi bercorak Melayu.
Banyak kenangan yang ibu dapatkan dari berdiam di Jambi dari pergaulan dengan
warga di kota itu.
Dari Jambi, sejak tanggal 1 April 1942, ayah lalu
dipindahkan ke Sidikalang, ibukota Tanah
Da-iri, menjadi pegawai menengah pemerintah Jepang. Di kota yang terletak di
Barat Danau Toba ketika itu administrasi pemerintah Hindia Belanda telah
digantikan Jepang semuanya, setelah yang disebut terdahulu menyerah dengan
tidak bersyarat. Masyarakat pribumi disana, termasuk ayah dan ibu, mulai
merasakan kehidupan dibawah pemerintah Jepang, dan zaman Hindia Be-landa kemudian
berganti menjadi zaman Jepang.
Sebelum Belanda masuk ke Tapanuli lewat Rao
tahun 1833, kawasan itu telah terlebih dahulu dikuasai sejumlah kerajaan Batak
yang menguasai luhat, dan setiap dari padanya memiliki peme-rintahan berdiri
sendiri yang bersifat otonom. Mereka belum mengenal kehadiran pemerintah pusat
yang mengatur kehidupan dari luar wilayahnya. Diantara berbagai luhat yang terdapat
di Tapanuli Selatan dapat dikemukakan ketika itu, ialah: Luhat Sipirok, Luhat
Angkola, Luhat Marancar, Luhat Pa-dang Bolak, Luhat Barumun, Luhat Mandailing,
Luhat Batang Natal, Luhat Natal, Luhat Sipiongot dan Luhat Pakantan. Semua
luhat yang terdapat di Tanah Batak terletak di sebelah Utara pulau Sumatera: di
Utara berbatasan dengan Tanah Aceh, di Timur dengan Ta-nah Melayu, di Selatan
dengan Tanah Minang, dan di Barat dengan Samudera Hindia.
Luhat, juga dinamakan Banua, ketika itu masih berupa
sebuah kesatuan genealogi wilayah atau territorial, dan berada dibawah
pemerintahan yang dilaksanakan menurut Adat Batak berlandas-kan kekerabatan Dalihan Na Tolu
(Tungku Yang Tiga) diajarkan leluhur sebagaimana yang ter-cantum dalam surat
Tumbaga Holing. Sebuah luhat, atau banua, selain berdiri sendiri juga setara satu
dengan lainnya. Pucuk pimpinan luhat/banua ialah Raja Panusunan Bulung (RPB), awalnya
datang dari keluarga-keluarga Sisuan Haruaya (Sipenanam Beringin, yakni keluarga
para pendiri Luhat) di kawasa itu. Didalam luhat terdapat berbagai huta
(kampung), yang disebut “Bona Bu-lu” (pohon bambu), karena ketika itu huta
memang dipagari rumpun bambu untuk melindungi-nya dari musuh yang datang menyerang.
Terdapat juga Bona Bulu yang membawahi beberapa pagaran (anak kampung) saat
itu.
Huta selain tempat berdiam, juga wilayah tempat
mencari nafkah, dengan adanya: sawah, la-dang; perairan (sungai, danau, laut),
padang, semak/belukar, hutan, lembah, dan gunung yang mengitari; dimana beragam
keperluan hidup dapat ditemukan. Pucuk pimpinan huta atau bona bulu ialah Raja
Pamusuk, awalnya datang dari keluarga sisuan bulu (si penanam bambu) di ka-wasan
itu. Huta yang besar penghuninya karena subur tanahnya dan kaya lingkungan
alamnya, juga dipimpin seorang Raja Pamusuk akan tetapi dibantu Kepala Ripe
(Kepala Keluarga).
Raja dalam pemahaman masyarakat Batak bukanlah
orang-orang ternama sebagaimana yang terdapat dalam buku sejarah Eropa zaman
feodal dipelajari di sekolah menengah pertama, akan tetapi orang-orang yang
sangat dihormati dalam masyarakat, juga dinamakan tetua Luhat atau Huta karena selain
pandai, juga memiliki pengetahuan dan pengalaman luas dalam hidupnya; tepatnya
seorang yang bijak diantara semua (primus interpares) datang dari keluarga
pendiri Lu-hat atau Huta. Ia dijuluki sebutan: Haruaya Parsilaungan (Pohon
Beringin Tempat Berteduh) dalam adat Batak; di Angkola dan Sipirok dikenal
degan istilah Banir Parkolipkolipan, sedangkan di Mandailing dinamakan Banir
Parondingondingan.
Pemerintahan sentralistis pertama kali
diperkenalkan Belanda dengan menjadikan Tanah Batak bagian dari pemerintah
Hindia Belanda yang kolonial dengan mengangkat seorang Asistent Resi-dent
Nederlads Indie (Asisten Residen Hindia Belanda) di Natal, lalu disusul
menempatkan seorang Resident Nederlands Indie (Residen Hindia Belanda) di
Sibolga. Pemerintah Belanda di Tapanuli saat itu adalah bagian dari pemerintah
Hindia Belanda yang menjajah nusantara
berke-dudukan di Batavia, pulau Jawa, yang dipimpin seorang
Gouverneur-Generaal Nederlads Indie (Gubernur-Jenderal Hindia Belanda).
Gubernur-Jenderal Hindia Belanda di Batavia ketika itu adalah wakil Raja
Belanda berkedudukan di Den Haag yang mengurus tanah jajahan seberang lautan
bernama: Oost Nederlands Indie (ONI), atau Hindia Belanda Timur (HBT). Raja
Belanda masih mempunyai tanah jajahan seberang lautan lain yang bernama: West
Nederlands Indie (W-NI), atau Hindia Belanda Barat (HBB) yang dikenal dengan nama:
Suriname di Amerika Selatan.
Semula, pemerintah Hindia Belanda menamakan
afdeeling Batak Landen (bagian Tanah Batak) untuk kawasan yang terletak
disekitar danau Toba dan menjadikan Tarutung sebagai ibukotanya. Bagian Tanah
Batak lain dinamakan afdeeling Padang Sidempuan untuk Tapanuli Selatan, dan
afdeeling Sibolga untuk Tapanuli Tengah. Penggabungan ketiga afdeeling menjadi sebuah
kere-sidenan Tapanuli dalam lingkungan pemerintah Hindia Belanda muncul dari
hasil penelitian Et-noloog (Belanda) atau Etnologist (Inggris); yakni ahli
bangsa dengan suku-sukunya bangsa Be-landa yang menemukan kesatuan logat
(bahasa) dan adat-istiadat yang tampak jelas di ketiga afdeeling itu; baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun upacara adat dalam masyarakat di ketiga
tempat ini. Lingkungan alam yang memudahkan perhubungan, perkawinan, dan agama saat
itu juga turut mempengaruhi. Pemerintahan Hindia Belanda lalu mengelompokkan
ketiga suku bangsa Batak yang terdapat di daratan pulau Sumatera menurut logat
dan kehidupan mereka ke-dalam sejumlah puak, masing-masing: Karo, Simalungun,
Pakpak dan Dairi, Toba, Angkola, dan Mandailing, yang dikenal sampai saat ini.
Pada tahun 1867 Tanah Batak masih menjadi bagian
dari Gouvernement van West Kust (Gu-bernemen Sumatera Barat) berkedudukan di
Padang, Sumatera Barat, dengan ibukota Padang Sidempuan. Kemudian pada tahun
1906 ketiga afdeeling Tanah Batak ini memisahkan diri lalu membentuk
keresidenan Tapanuli dengan ibukotanya Sibolga. Selanjutnya pemerintah Hindia
Belanda memecah Keresidenan Tapanuli menjadi dua afdeeling, masing-masing:
Afdeeling Ta-panuli Utara dipimpin Asisten Residen berkedudukan di Tarutung,
dan afdeeling Tapanuli Sela-tan dipimpin Asisten Residen berkedudukan di Padang
Sidempuan.
Oleh pemerintah Hindia Belanda tiap afdeeling
kemudian dipecah menjadi 8 (delapan) Onder-afdeeling, masing-masing dipimpin
seorang Controleur masing-masing berkedudukan di: Batang Toru, Angkola,
Sipirok, Padang Bolak, Barumun, Mandailing, Ulu dan Pakantan, dan Natal. Di-bawah
Onderafdeeling, pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Distrik yang
dikepalai seorang Demang. Lalu
dibawahnya diperkenalkan Onderdistrik yang dipimpin seorang Asisten Demang.
Dibawah asisten Demang pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Kuria untuk
memimpin Hakuriaan (Kekuriaan) yang membawahi sejumlah kampung berikut sawah,
ladang, dan lingkungannya.
Kata Kuria berasal dari Curia, yakni istilah
pemerintahan yang digunakan Gereja Katholik di Va-tikan, Roma, Italia. Oleh
pemerintah Hindia Belanda istilah ini diperkenalkan di Tanah Batak. Dari Kuria
lahirlah Hakuriaan dalam bahasa Batak. Dengan Hakuriaan pemerintah Hindia Be-landa
berusaha menghilangkan Luhat, atau Banua, yang dipimpin Raja Panusunan Bulung (RPB) kebanggaan daerah yang telah bersemayam dalam
ingatan orang-orang Batak dari peredaran. Pemerintah Hindia Belanda
tampaknya tidak ingin mencampuri urusan pemerintahan huta atau kampung yang ketika
itu masih dijalankan menurut adat Batak setempat, akan tetapi dalam
pelaksanaannya Belanda banyak mempengaruhi siapa yang sebaiknya menjadi Raja
Pamusuk yang memimpin sebuah kampung.
Dengan semakin merosotnya anggaran pendapatan
pemerintah Hindia Belanda menelang Perang Dunia ke-II, onderafdeeling yang delapan
bilangannya di Tapanuli Selatan ketika itu lalu disu-sutkan menjadi 4 (empat),
masing-masing: Angkola dan Sipirok, Mandailing Besar dan Kecil Ulu serta
Pakantan, Natal dan Batang Natal, dan Padang Lawas. Dan menjelang bertekuk
lutut-nya pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang, maka yang akhir ini
menyusutkan lagi Onder-afdeeling yang empat buah buah menjadi 3 (tiga),
masing-masing: Angkola dan Sipirok, Padang Lawas, dan Mandailing dan Natal.
Jepang yang menggantikan pemerintah Belanda di
Tanah Batak lalu memindahkan kantor Residen Tapanuli dari Sibolga ke Tarutung, guna
melindungi ibukota itu dari serangan sekutu yang datang dari laut. Saudara tua
dari Negeri Matahari Terbit itu tak ayal lagi memperkenalkan sejumlah istilah di Tanah Batak dalam
pemerintahan yang tergolong sentralistis di Tapanuli ke-tika itu. Residen digantinyanya
dengan Cokan, Bupati menjadi Kenco, Wedana menjadi Gunco, Kepala kampung
menjadi Kuco. Dalam lingkungan angkatan perangnya, Jepang menggunakan istilah:
“Rikugun” untuk Angkatan Darat, yang ketika itu menjalankan pemerintahan atas
pulau-pulau Jawa dan Madura. Untuk Angkatan Laut Jepang menggunakan istilah:
“Kaigun”, dan pada ketika itu menjalankan pemerintahan di kepulauan nusantara
lainnya termasuk pulau Sumatera. Untuk Polisi Militer Jepang menggunakan
istilah “Kem Pei Tai”.
Selain dari itu ada pula istilah “Sendenbu” yang
artinya Badan Penerangan Jepang. “Seinendan”, ialah organisasi pemuda yang mengikuti
latihan militer yang bernama “Kyoren”. Ada lagi “Fuzinkai”, ialah aktifis
wanita yang membantu Bala Tentara Jepang. “Keibodan” ialah badan membantu kepolisian untuk mematamatai
penduduk pribumi. “Heiho” adalah para pemuda yang direkrut membantu bala tentara
Jepang di medan perang: di pulau Jawa bernama “Kaigun-Heho” sedangkan di pulau
Sumatera dinamakan “Rikugun-Heho”. Ada lagi istilah “Romusya”, untuk tenaga
kerja yang dihimpun “Romukyoku” (Jawatan Tenaga Kerja Jepang) untuk berbagai keperluan
termasuk perang yang tidak sedikit jumlahnya.
Di ibukota Tanah Dairi ini lahir anak ayah yang tertua,
seorang putri, pada tanggal 7 Juli 1942, dan diberi nama si Rusmini.
Terusirnya pemerintah Hindia Belanda dari nusantara
telah lama menjadi keinginan anak-anak bangsa di tanah-air. Dalam pemahaman anak-anak
negeri ketika itu orang-orang Belanda sebagai pendatang dari Eropa memperlihatkan
sikap dan prilaku angkuh. Dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Belanda ini tergolong
jauh dari rakyat kebanyakan, manakala dibandingkan dengan orang-orang asing
lain, antara lain orang-orang: Arab, Cina, Keling (India), yang adalah juga pendatang
ke nusantara, bahkan lebih dahulu.
Keserakahan terhadap kekayaan alam berupa hasil
bumi, seperti: perkebunan, pertambangan, juga perdagangan sampai industri, dan lainnya
yang berada dibawah kekuasaan orang-orang Belanda, mereka tunjukkan kepada
anak-anak bangsa sepanjang waktu berkuasa yang demikian panjang, nyaris tidak berbagi dengan anak-anak
negeri untuk mensejahterakan kehidupan yang disebut akhir ini di tanah jajahan.
Orang-orang Belanda menghormati Jenderal van
Heutz, yang dengan kecerdasan dan kerja kerasnya berhasil mengalahkan begitu
banyak kerajaan besar dan kecil, menundukkan Raja-raja di seluruh nusantara,
dalam menciptakan tanah jajahan Oost Nederlands Indie yang luas dari Sabang
sampai ke Merauke, dibawah Raja Belanda dari Den Haag di Eropa, akan tetapi
tanah jajahan yang luas itu tidak berbuat apa-apa kepada anak-anak negeri
di tanah kelahirannya sendiri.
Dalam kurun waktu ratusan tahun anak-anak negeri
membantu pemerintah kolonial dengan be-kerja rodi (kerja paksa) menguras tenaga
tanpa imbalan berarti, mengabdi kepada pemerintah Hindia Belandal, membangun
prasarana ekonomi berupa: jalan dan jembatan yang diperintah Dandels. Juga
menjadi koeli di berbagai perkebunan yang diusahakan orang-orang Belanda degan
imbalan segobang (dua setengah sen uang Belanda) sehari, bahkan
ditransmigrasikan ke sejumlah tempat di luar pulau Jawa.
Tidak sedikit jumlah anakanak negeri yang
dieksport ke luar negeri untuk menjadi pekerja rodi, seperti: Suriname di
Amerika Selatan begitu juga New Caledonia di Timur Australia, untuk menjadi
koeli di berbagai perkebunan yang dikuasai kerajaan Belanda dan perusahaan
asing lain-nya. Dapat difahami apabila dalam masa penjajahan yang begitu
panjang lalu timbul dimana-mana: rasa tidak puas, protes, pembangkangan,
penolakan, sampai dengan pemberontakan kepada pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial ketika itu.
Dengan diperkenalkanya Pendidikan Barat, lahir
gerakan nasional di tanah-air bentuk perkoempoelan, bernama: Jong Java, Jong
Sumateranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Cele-bes, dan Jong Bataks
Bond. Ada pula Nederlandsch Indische Padvinderij Vereniging (NIPV) a-tau
Persatuan Kepanduan Hindia Belanda. Selai dari itu, ada pula: Jong Islamieten
Bond dan Jong Islamietiesche Meisjes Bond di Jakarta. Kemudian bermunculan
berbagai partai: SDI (Sarikat Dagang Islam), PSI (Parteij Sarikat Islam); pada
tanggal 24 Oktober 1943 lahir Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI), kemudian menjadi
Majelis Suro Muslimin Indonesia disingkat Masyumi, lalu pada tanggal 7 Nopember
1945 menjadi partai politik. Pada tahun 1909 di Negeri Belanda muncul Indische
Vereniging (IV), atau Perhimpoenan Hindia, yang berubah menjadi Indonesische
Vereniging (IV), kemudian Perhimpoenan Indonesia (PI). Semuanya digerakkan kaum intelektual muda anak-anak bangsa yang
sadar akan penderitaan rakyat di tanah jajahan Hindia Belanda, untuk menuntut
perbaikan nasib yang begitu lama terabaikan.
Hingga dengan kedatangan serbuan Jepang ke
nusantara, semua kebijakan yang diambil kerajaan Belanda dari Eropa terhadap Oost
Nederlands Indie atau Hindia Belanda Timur, telah menjadikan yang disebut akhir
ini menjadi: pemerintahan kolonial terlemah di dunia, rakyat yang buta-huruf
terbanyak di bumi, penduduk miskin terhina di muka bumi, dan militer terle-mah di wilayah Asia. Meski telah berlaku
buruk terhadap anak-anak negeri di tanah Hindia Belanda, masih ada orang
Belanda bernama Helfferich yang tega mengatakan anak-anak negeri :“Een Natie
van Koelies, en een Koelie onder de Naties” (Bangsa Kuli, dan Kuli dibawah Bang-sa-bangsa).
Luka lahir dan bathin yang mendera ditinggalkan pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial terhadap anak-anak negeri sangat menyakitkan, sehingga tidak terdapat cukup
kata da-lam perbendaharaan bahasa yang dapat mengungkapkan semuanya. Demikianlah
kegetiran yang dirasakan anak-anak pribumi di tanah tumpah darahnya sendiri pada
saat itu.
Jepang faham duka lahir-bathin yang dirasakan
anak-anak negeri di tanah Hindia Belanda ketika itu, lalu dengan cerdik
memanfaatkannya. Itulah sebabnya, Jepang dengan cepat menawarkan janji
kemerdekaan kepada rakyat bersama kemakmuran bagi seluruh Asia, sebagaimana
gagasan Greater East Asia Co-Prosperity yang dikumandangkannya, dan menyerukan
gerakan 3A (Asia): “Nippon tjahaja Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin
Asia”. Dengan sendirinya a-nak-anak negeri lalu bersuka cita di seluruh nusantara
menyambut kedatangan serdadu-serdadu Jepang, apalagi diiriungi sikap ramah
tamah dan hormat yang dipertontonkan saudara tua penda-tang baru. Pada tahap
ini, keinginan rakyat di nusantara yang diwakili para pemimpinnya sejalan
dengan keinginan Jepang, yakni secepatnya mengenyahkan pemerintah Hindia
Belanda yang ko-lonial dari bumi pertiwi.
Setelah pemerintah Hindia Belanda tumbang, rakyat
lalu menuntut janji kemerdekaan pada Je-pang.
Bahkan ada anak negeri ketika itu yang menyodorkan calon presiden pribumi berikut
para menterinya sekali, akan tetapi saudara tua dari Timur itu terpaksa
mengulur waktu. Baru setelah anak-anak negeri menyaksikan dengan mata kepala
sendiri orang-orang Jepang menduduki ber-bagai jabatan yang ditinggalkan
Belanda, mereka lalu sadar akan apa maksud kedatangan orang-orang yang mengaku
sebagai saudara tua itu. Kini, keinginan rakyat di nusantara dengan ke-pentingan
Jepang sudah berseberangan, bahkan telah menuju benturan kepentingan. Anak-anak
negeri lalu membayangkan kedatangan penjajahan babak kedua nusantara, tetapi
kini oleh yang orang bernama saudara tua dari Asia Timur.
Apa yang segera dibutuhkan Jepang ketika itu:
tenaga kerja, puluhan bahkan ratusan ribu orang anak bangsa berkingrohoshi
(melakukan kerja bhakti) menjadi heiho membantu perajurit Jepang di medan
perang Dai Toa Senso untuk menghadapi sekutu. Begitu pula romusha yang akan mendirikan
benteng-benteng pertahanan, menyiapkan lapangan terbang, membongkar/pasang rel
kereta-api di: Tratak dan Petain, 170 km di Baratdaya Pekan Baru; membuat kubu-kubu
per-tahanan, menyiapkan barisan tanggul, menyediakan tempat-tempat perlindungan
bagi serdadu-serdadu Jepang, membuat terowongan dan gua tempat perlindungan
psukan Jepang, dan masih banyak lainnya. Tenaga kerja diperlukan tidak hanya untuk
tanah-air, tetapi yang juga dieksport ke luar negeri sebagaimana dilakukan
pemerintah Hindia Belanda yang kolonial silam, tetapi kini dilakukan pemerintah
Fascis Jepang untuk memenangkan perang Dai Toa Senso.
Jepang tidak disangkal lagi juga memerlukan
pangan: beras, sayur, daging, buah, dikumpulkan dari para petani, peternak,
dibayar dengan uang Jepang. Jepang juga memerlukan anak-anak negeri dijadikan
polisi untuk megamankan masyarakat di garis belakang. Kini serdadu-serdadu Je-pang
telah menanggalkan semua keramah-tamahan yang diperlihatkan sebelumnya, lalu
menu-karnya dengan kekerasan hingga kekejaman menggunakan senjata. Serdadu-serdadu
Jepang lalu memperlakukan anak-anak pribumi dengan kasar, bengis, kejam, agar cepa
mematuhi perintah. Jepang juga memerlukan bantuan aktif rakyat untuk
mempertahankan nusantara dari serbuan pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat.
Karena serdadu-serdadu Dai-Nippon telah memperlihatkan
keperkasaan mengusir pemerintah Hindia Belanda dari bumi nusantara, mengamati
kecepatan perubahan prilaku Jepang mengambil alih jabatan-jabatan penting
ditinggalkan Belanda, anak-anak negeri berikut para pemimpinnya di tanah-air harus
mengalah. Mereka sadar, Jepang datang ke tanah jajahan yang ditinggalkan
Belanda memang untuk merebutnya. Maka unuk menghindarkan pertumpahan darah
sia-sia melawan pasukan pendudukan Jepang yang perkasa, kasar, bengis, kejam,
dan tidak beradab itu anak-anak negeri terpaksa memilih jalan koopertif dengan
mengikuti keinginan saudara tua itu.
Serangan bala tentara Jepang yang
meluluhlantakkan pasukan SEAC dan pertahanan Hindia Be-landa di tanah
jajahannya, lalu diarahkannya ke Australia. Dengan terlebih dahulu menduduki
Rabaul yang terdapat dalam gugusan kepulauan Bismarck, Jepang melangkah ke
semenanjung di bagian Utara benua kanguru, untuk memotong alur pengiriman
senjata dari Amerika Serikat. Akan tetapi malang, dalam pertempuran Laut Coral
(Laut Karang) pada tanggal 4 Mei tahun 1942, angkatan laut Jepang pimpinan
Jenderal Hyakutake terpukul telak, dan terpaksa terdesak mun-dur, disusul
jatuhnya Guadalkanal kepada sekutu tanggal 6 Nopember 1942. Sebelumnya, bulan
Juni tahun yang sama, empat buah kapal induk Jepang sarat pesawat tempur
berhasil ditengge-lamkan Amerika Serikat dekat Midway. Kekalahan terbesar dialami
Jepang ketika itu ialah te-wasnya laksamana Yamamoto pada tanggal 1 Maret 1943.
Kendati Jepang berupaya terus menyerang, akan
tetapi setelah Jenderal Hyakutake digantikan Jenderal Imamura di penghujung
tahun 1942, pasukan Jepang terus saja terpukul mundur dari kawasan Australia
Utara. Duet Jenderal Nimitz dari Pearl Harbor dengan Jenderal McArthur yang
ditarik ke Australia dari Filipina oleh Amerika Serikat, dengan mudah melakukan
gerakan “leap frog” (katak lompat) dari pulau ke pulau dari gugusan kepulauan:
Marshall, Gilbert, Mariana, dan Carolina; memaksa serdadu-serdadu Jepang mengambil
strategi perang mundur sambil bertahan cara bergantian.
Dalam periode waktu antara tahun 1942 hingga
1943, Jenderal McArthur berhasil memburu pa-ukan Jepang yang bergerak
mundur dari Papua menuju Morotai, lalu Filipina, kemudian Tai-wan, akhirnya
Okinawa, dan tanah-airnya Jepang sendiri. Dalam gerakan mundur sejak dari Fili-pina,
Jepang benar-benar mempelihatkan perlawanan sengit mengerahkan gelombang
squadron tempur Kamikaze (angin utusan
Tuhan) dikemudikan penerbang-penerbang berani mati. Mereka menyerang armada
kapal perang sekutu yang bergerak dalam formasi menuju perairan Jepang, membuat
yang disebut akhir banyak terbakar dan tenggelam. Gerakan gunting yang dilakukan
Jenderal McArthur mulai dari Australia menyebabkan bala tentara Jepang yang berada
di pulau-pulau: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan terpencil dari induk pasukannya
di wilayah Pasifik Barat.
Banyak pertempuran yang mempertontonkan kehebatan
mesin-mesin perang mutakhir buatan Amerika Serikat dengan sekutunya, demikian
juga Jerman dan Jepang yang menjadi lawan ke-tika itu, telah diangkat ke layar
perak untuk memuaskan dahaga orang banyak yang ingin tahu akan malapetaka dunia
bikinaan manusia pada pertengahan abad ke-20 silam, untuk meramaikan panggung
bioskop dunia dimanamana, dan gemanya terus bergaung menerobos abad-abad selanjutnya
di berbagai bidang, seperti: politik, ekonomi, sosial, budaya, strategi, dan
lain seba-gainya. Dan yang tidak kalah menarik perhatian ialah kepahlawanan
yang dipertontonkan para perajurit kedua belah fihak berlawanan di berbagai
medan laga di daratan Eropa dan Asia.
Keberhasilan Amerika Serikat dengan sekutunya di
Pasifik, disusul keberhasilan tentara Inggris mengusir serdadu-serdadu Jepang
meninggalkan Birma dari Asia Tenggara, yang memburu semuanya kembali
semenanjung Malaya. Kedatangan pasukan dari Australia yang menduduki nusantara
di bagian Timur, menyebabkan pasukan Jepang yang tergunting oleh gerakan Jenderal
McArthur terkurung di pulau-pulau: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan kian
terjepit. Kejadian ini mebuat nasib anak-anak negeri di ketiga pulau dibawah
kekuasaan Jepang memburuk, karena segala kebutuhan mereka menjadi tergantung
dari pemerasan milik rakyat, mulai hasil bumi sampai dengan harta benda.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup di pulau-pulau
disebutkan, seperti: pangan, tenaga kerja, dan lainnya, serdadu-serdadu Jepang
mengandalkan senjata ditangan, prilaku kasar, dan kekejaman, agar anak-anak
negeri cepat mematuhi perintah, dan menyerahkan segala apa yang dipinta sece-patnya.
Dengan demikian Jepang mudah merekrut ratusan ribu pemuda, dari kota sampai
desa yang dikuasai menjadi heiho dan romusha yang dikirim ke Singapura, Malaya,
Siam (Thailand), Birma (Myanmar), Nikobar, dan Andaman, untuk menahan serangan
sekutu. Banyak para heiho terbunuh sebagai umpan peluru karena tidak
bersenjata, tenggelam dilaut, hilang tak tentu rim-banya, terlantar kurus
kering di rantau orang, terluntalunta menjadi gelandangan di tanah seberang
laut.
Banyak para romusya yang tidak diketahui lagi statusnya,
karena samasekali tidak terdaftar. Ada kumpulan romusya penggali perlindungan serdadu-serdadu
Jepang yang kemudian dibunuh setelah menyelesaikan pekerjaan untuk merahasiakan
tempat. Tidak sedikit anak-anak negeri yang menanyakan nasib sanak saudara
mereka yang direkrut Jepang, akan tetapi pemerintah yang akhir ini tidak terlalu
menghiraukannya. Banyak kampung atau desa yang kemudian keku-rangan tenaga orang
muda untuk mengolah tanah pertanian penghasil pangan yang menghidupi rakyat di
berbagai daerah tanah-air.
Memasuki akhir penjajahan Jepang yang setahun
jagung lamanya, banyak serdadu Jepang yang telah kehabisan bekal karena tidak
memperoleh bantuan dari induk pasuknnya. Untuk tetap bertahan hidup, mereka
menggantungkan diri kepada makanan pokok rakyat: beras, jagung, ketela dan
lainnya. Dengan senjata ditangan dan sikap kasar, serdadu-serdadu Jepang krmudian
menghimpun hasil pertanian lalu menimbun semuanya. Kepada mereka yang setia
kepada Jepang diminta mengantri untuk meperoleh jatah distribusi pangan. Hal
ini menyebabkan berbagai tempat di pulau-pulau: Sumatera, Jawa dan Kalimantan,
rakyat menderita kekurangan pangan. Orang-orang yang kelaparan lalu mencari
pengisi perut ke hutan dari buah pohon atau umbi yang mereka ketahui dari leluhur
dapat dimakan. Keracunan pangan lalu terdengar dimana-mana, karena banyak yang
tidak faham lagi bagaimana menyiapkannya untuk disantap.
Perlakuan pasukan Jepang yang terkurung terhadap
para anak negeri tidak alang kepalang kasar dan menyakitkan. Kepada mereka yang
tidak segera menghormat ketika bersua langsung ditempeleng. Kepada yang tak
sudi atau ragu mengikuti perintah ditendang dan dipukuli gagang se-napan.
Mereka yang diketahui bersalah lalu dicemeti lapangan. Musuh dan penghianat
yang ter-tangkap serdadu Jepang langsung dipancung, atau tembak mati. Dalam
zaman penjajahan Jepang yang Fascis, tidak ada pengadilan dimana orang dapat
membuktikan kesalahan atas perkara yang dituduhkan kepada seseorang, konon lagi
menegakkan kebenaran dan menghormatinya.
Dengan mempertontonkan kekerasan dan kekejaman,
serdadu-serdadu Jepang berharap anak-anak negeri akan segera tunduk pada
perintah tanpa perlu berfikir. Tujuan Jepang jelas, untuk membangun rasa takut
guna memelihara keamanan dan ketenteraman di garis belakang selama masa
pendudukannya. Berbeda pendekatan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial di zamannya untuk menjaga keamanan dan ketenteraman yang dikenal
anak-anak negeri selama ini. Di fihak lain bahasa kekerasan dan kekejaman
digunakan Fascis Jepang berdampak buruk terhadap anak-anak negeri, karena menimbulkan
trauma berat pada jiwa putra dan putri pribumi, karena yang disebut akhir ini tidak
dapat menemukan dalam perbendaharaan akal-budi mereka, kesalahan apa gerangan
yang pernah mereka lakukan silam yang membuat nasib begitu buruk menghampiri
kehidupan di alam fana ini.
Meski pasukan pendudukan Jepang telah berlaku
kasar dan memperlihatkan kekejaman, akan te-tapi tidak berarti anak-anak pribumi
urung memperlihatkan perlawanan. Rakyat Singaparna di Jawa Barat pimpinan K.H.
Zaenal Mustafa ketika itu menolak seikeirei (menyembah) Tenno Heika ke arah
Tokyo, karena akan menyalahi ajaran Darul Islam yang diyakini rakyat. Sang
Kiayi mengatakan sembahyang hanya menuu Ka’bah di Mekah, Saudi Arabia, bukan
Tokyo, Jepang, seperti yang diperintahkan para perajurit Jepang. Pemberontakan
Indramayu lalu meletus ketika itu, setelah lebih dahulu dipicu kebencian rakyat
atas kelakuan serdadu-serdadu Jepang yang melakukan pemerasan kekayaan rakyat
yang melampaui batas.
Mendekati penghujung pendudukan Jepang, kehidupan
yang dirasakan rakyat kian menghimpit dari hari ke hari, terlebih adanya
blokade yang dilakukan sekutu. Beragam bahan makanan dan pakaian yang pada zaman
Hindia Belanda mudah didapat karena banyak didatangkan dari luar negeri, dalam
zaman pendudukan Jepang hilang dari pasaran. Kalau pun ada, akan sangat sukar didapat,
tidak terkecuali obat-obatan. Yang pertama menderita anak-anak para pengungsi
yang memerlukan makanan berbahan dasar susu. Kaum ibu harus mengusahakan
makanan tambahan untuk anak-anak guna mencukupi gizi.
Demkian pula pakaian yang tidak dapat lagi dibeli
dipasar, sehingga banyak dijumpai orang yang masih mengenakan pakaian yang
dibeli pada zaman Hindia Belanda, dan terus dikenakan sampai cabik di badan. Manakala telah koyak dimakan
usia, tambal sulam bukan halangan. Banyak pa-kaian dikenakan orang yang
berlalulalang sudah bertambal sulam dimana-mana ketika itu. Beragam warna kain
dijahitkan orang menghiasi baju atau celana dari luar. Orang-orang berpakaian
compang-camping berkeliaran di jalan-raya dimanamana menjadi pemandangan
sehari-hari di zaman Jepang. Ada sementara anak negeri yang mengenakan pakaian
bahan goni (karung), bahan tenda, atau terpal yang dikupas dari selang air di berbagai
kota; sedangkan di kampung-kampung diemukan rakyat yang mengenakan kulit kayu
dan bagor (karet giling tipis) pengganti kain pembalut badan.
Yang juga lenyap dari pasar selama pendudukan
Jepang mainan anak-anak yang sebelumnya banyak diperjualbelikan di pasar. Banyak
orang tua yang harus membantu anak-anak mereka membuat mainan bagi anak-anak untuk
merangsang berfikir dan berkreasi dari imajinasi masing-masing. Peralatan bemain
dibuat dari bahan apa saja yang ditemukan di tempat berdiam. Dengan alat-alat bermain
seadanya di zaman Jepang, orang-orang tua terus berupaya mencerdaskan putera
puteri, sekaligus mengantarkan anak-anak ini hidup bermasyarakat dengan
anak-anak lain di tempat mengungsi. Kaum ibu juga tidak ketinggalan menyiapkan
mainan bagi anak-anak pe-rempuan agar mereka juga dapat bergaul dengan
sebayanya di tempat berdiam.
Selama tinggal di Sidikalang, ayah dan ibu berkenalan
dengan: dr. Li Ting Sioe dengan istrinya tante Erna, Patuan Sorimuda dari
Baringin dengan istrinya, Muhammad Hasibuan dengan istri-nya tante Rata. Dan
yang disebut terakhir adalah adik kandung Hadeli Hasibuan S.H., seorang
pengacara ternama di Jakarta. Dengan pasukan Dai Nippon yang semakin terpukul dalam
perang Dai Toa Senso di kawasan Pasifik, pada tanggal 7 September 1944 Perdana
Menteri Jepang Koisho menyatakan dihadapan sidang parlemen di negaranya, akan
dengan resmi memberikan kemerdekaan kepada bangsa In-donesia. Janji kemerdekaan
ini lalu diulanginya kembali pada tanggal 29 April 1945, lewat pengumuman resmi
pemerintah Kekaisaran Jepang ketika itu.
Zaman Perang Kemerdekaan
Tarutung
Dari Sidikalang,
terhitung tanggal 17 Agustus 1945, oleh pemerintah Jepang ayah dipindahkan
bertugas Tarutung, dan diangkat menjadi pejabat menengah bidang kehutanan. Di
kota yang terletak si Selatan Danau Toba ini, lahir anak ayah kedua, putri,
tanggal ….1944, dan diberi nama si Nurhasni. Kelahiran putri ayah kedua disusul
lagi dengan kelahiran anak ayah ketiga, lagi putri, si Butet, tanggal 17
Mei 1945 dan diberi nama si Nilawati.
Tidak ada yang
menyangka bahwa kepindahan ayah ketika itu diwarnai pula oleh perubahan besar perjalanan
sejarah dunia, mulai Eropa di belahan bumi Barat hingga Asia di belahan bumi
Timur, tetapi kini untuk arah yang sebaliknya.
Dengan keterlibatan Amerika Serikat di daratan Eropa
membantu: Inggris, Perancis, dan lainnya kedalam sekutu dari Eropa Barat, lalu
Uni-Sovyet (sekarang Rusia) menyerang dari Eropa Timur, Nazi Jerman pimpinan
Adolf Hitler menjadi terjepit di tengah medan perang sehingga dapat ditaklukkan; dan Perang Dunia ke-II di benua
Eropa berakhir. Kemenangan pasukan sekutu di Eropa lalu dirayakan
besar-besaran oleh masyarakat tanggal 8 Mei 1945. Perang dahsyat itu telah
meluluhlantakkan Jerman berikut aliansinya oleh gempuran Sekutu yang lebih perkasa,
me-nyebabkan pemerintah Fascist Jerman yang digerakkan Partai Nazi itu terpaksa
bertekuk lutut tidak bersyarat, dan menandatangani perjanjian Potsdam (kota
kecil dekat Berlin) yang menya-kitkan. Dalam perjanjian itu dikatakan bahwa
seluruh negeri Jerman harus dibagi kedalam empat sektor sesuai banyaknya negara
yang bersekutu untuk menaklukkannya,
yakni: Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni-Sovyet.
Kendati Perang Dunia ke-II telah berakhir di daratan
Eropa, akan tetapi hal itu samasekali belum berlaku di Asia, walau Jepang telah
kehilangan aliansi perangnya di belahan bumi Barat. Kini Jepang terpaksa berperang
sendirian dengan semua kemampuan militer yang dimiliki berhadapan langsung
dengan Amerika Serikat yang dibantu sekutu perangnya dari Eropa: Inggris, dan
Belan-da, yang mempunyai kepentingan besar di Asia Tenggara, karena memiliki
tanah jajahan luas lagi kaya akan berbagai sumber daya alam yang belum lama
dirampas Fascist Jepang. Seteru lain Jepang di Asia Pasifik ketika itu ialah
Cina Nasionalis pimpinan Jenderal Chiang Kai Shek yang bukan komunis, dan
Australia.
Dengan semakin dekat kedudukan Jenderal McArthur
dan pasukannya memasuki perairan negeri Sakura, Jepang menampakkan perlawanan
beragam di laut dan udara. Selain oleh angkatan laut dengan beragam kapal
perang di laut, Jepang juga mengembangkan ribuan kapal motor jibaku (bunuh diri)
pengantar bom: mulai kapal selam mini pembawa torpedo dijalankan perajurit
berani mati sampai perahu cepat pengejar kapal perang; semuanya disebar ke
seluruh laut dise-putar kepulauan Negeri Sakura, guna mengkaramkan armada
sekutu yang berani mendekat. Pasukan sekutu yang menghampiri Jepang benar-benar
kewalahan dan mendapat rintangan amat besar berhadapan dengan para perajurit
jibaku yang beragam dan besar jumlahnya ketika itu, karena berhasil mengkaramkan
banyak kapal. Sekutu terpaksa berpaling untuk menggunakan keunggulan
teknologi senjata untuk memaksa Jepang segera bertekuk lutut. Pilihan yang kemudian
diambil ialah dengan menjatuhkan bom atom yang diberi nama: “Little Boy”.
Dua kota industri di Jepang dibidik untuk menjadi
sasaran, masing-masing: Hiroshima di pulau Honshu, dan Nagasaki di pulau
Kyushu. Bom pertama dijatuhkan di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dilontarkan
dari lambung pesawat pembom B-29 bernama: “Enola Gay”, pimpinan Kapten
Penerbang Warfield Paul Tibbets Jr, dan merenggut nyawa sedikitnya 120.000
orang dalam sekejap, disusul 80.000 orang mati perlahan terkena badai
radio-aktif. Melihat kengerian yang ditimbulkan bom atom pertama yang
menghantam Jepang di tanah-airnya, maka pada hari itu juga kabinet Jepang langsung
bersidang. Tiga hari kemudian, bom atom kedua dijatuhkan pula di Nagasaki pada tanggal
9 Agustus 1945, dan merenggut 80.000 jiwa dalam seketika. Tak pelak lagi, negeri
Matahari Terbit itu mengibarkan bendera putih tanda menyerah, sekaligus ber-sedia
mengikuti Jerman menerima perjajian Potsdam tidak bersyarat yang memilukan hati
para samurai, dan mempermalukan semuanya.
Pada tangal 14 Agustus 1945 Presiden Amerika
Serikat: Truman dan Perdana menteri Inggris: Lord Attlee mengumumkan ke seluruh
penjuru dunia, bahwa Jepang telah bertekuk lutut tidak bersyarat. Kemudian
Kaisar Hirohito memerintahkan semua pasukan Jepang yang berada di kawasan
pasifik segera "menghentikan perlawanan”. Pilihan kata akhir diambil
Kaisar, bukan “menyerah”, untuk tidak menyakiti hati bangsanya. Kemudian pada
tanggal 18 Agustus 1945, Menteri Luar Negeri Jepang: Shigemitsu mengumumkan
kekalahan Jepang terhadap sekutu ke seluruh penjuru dunia, maka Perang Dunia ke
II atau Perang Dai Toa Senso, yang dimulai Jepang di kawasan Asia pun lalu berakhir.
Zaman
Kemerdekaan Republik Indonesia
Demokrasi Parlementer
Kabinet Sukarno-Hatta
Sejak dari tanggal 18 Agustus 1945, sejak saat tentara
Dai Nippon menyerah kepada Sekutu di negerinya hingga dengan pasukan Sekutu memasuki
nusantara tanggal 15 September 1945, telah timbul vakum kekuasaan di bekas tanah
jajahan Hindia Belanda. Dalam masa kekosongan keku-asaan itu, lalu timbul keinginan
anak-anak bangsa untuk menolak kembalinya pemerintah Hindia Belanda yang baru, ketika
itu membonceng Sekutu dinamakan NICA. Orang-orang muda yang sudah bertang-jawab
kepada tanah-airnya lalu mengorganisasi diri untuk menghimpun kekuatan yang akan
menolak kedatangan pemerintah NICA buatan Balanda usai perang Dunia ke-II.
Negara Republik Indonesia (NRI) kemudian
diproklamirkan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh anak-anak negeri,
akan tetapi tidak diakui Belanda dan Sekutu. Propinsi Sumatera ke-tika itu
masih sebuah pulau besar nusantara termasuk gugusan pulau berdampingan
mengitari, lalu dijadikan bagian paling Barat NRI dengan ibukotanya Medan.
Untuk memimpin propinsi paling Barat, diangkat Mr. Teukoe Moehammad Hasan
sebagai Gubernur dengan wakilnya Dr. Amir. Dengan demikian kedaulatan NRI atas
pulau Sumatera berikut semua gugusan kepulauan mengitari telah ditegakkan.
Pada awal masa kemerdekaan, propinsi Sumatera
Utara yang dikenal saat masih merupakan dua keresidenan berdiri sendiri,
masing-masing: Keresidenan Sumatera Timur dengan ibukotanya Medan, dan
Keresidenan Tapanuli dengan ibukotanya Sibolga. Pembagian ini masih berasal
dari zaman penjajahan Hindia Belanda sebelumnya.
Meski Gubernur dan Wakilnya propinsi Sumatera telah
berada di Medan, akan tetapi pengambil-alihan kekuasaan dari Jepang oleh NRI berjalan
lambat. Banyak warga masyarakat ketika itu yang belum mengetahui apa yang sesungguhnya
berlangsung di muka bumi saat itu oleh keterbatasan komunikasi, transportasi,
surat khabar, dan beragam sumber berita lainnya. Masih terlihat banyak keraguan
dikalangan masyarakat tentang kemerdekaan, karena pasukan Jepang ketika itu masih
secara defakto mengendalikan kekuasaan.
Di Keresidenan Tapanuli saat, beredar khabar dari
para penyusup yang mengatakan akan kembalinya pemerintah Hindia Belanda pasca
Perang Dunia ke-II, sedangkan dari kaum pergerakan yang berseberangan menuntut
kemerdekaan segera dikumandangkan; yang akhir ini akan melawan Belanda yang
kembali datang untuk menjajah tanah-air. Inisiatif merdeka kemudian ter-pulang pada
keinginan rakyat banyak di daerah-daerah Sumatera Timur dan Tapanuli, yang pada
masa itu digerakkan kaum pemuda beragam aliran yang ada dalam masyarakat
termasuk unsur-unsur politik beraliran faham kanan dan kiri.
Baru pada tanggal 17 September 1945, sebulan
kemudian, kemerdekaan NRI diproklamasikan u-lang di Medan oleh Panitia
Kebangsaan. Lalu pada tanggal 30 September 1945 dibentuk Barisan Pemuda
Indonesia (BPI), dan tanggal 2 Oktober 1945 dilangsungkan pawai besar di kota
Medan yang mengibarkan spanduk-spanduk besar bertuliskan ”We are a Free
Nation”, “Down with Im-perialism”, dan lain sebagainya. Latihan-latihan militer
lalu mulai digiatkan dilaksanakan kaum muda beragam organisasi pasukan yang melahirkan
lasykar partikelir. Aktivitas yang dimulai dari Sumatera Timur itu kemudian menyebar
pula ke segala penjuru keresidenan Sumatera Timur, dan menyusup ke keresidenan
Tapanuli di bagian Barat.
Pengambilalihan kekuasaan dari tangan Jepang,
dilakukan anak-anak bangsa yang telah menya-takan berdaulat, diawali tanggal 2
September 1945 oleh NRI Sumatera Utara, semula berjalan lancar di sejumlah
tempat, dengan menurunkan Hino-Maru (bendera Jepang) dan menaikkan sang Merah-Putih.
Akan tetapi di berbagai tempat lainnya, antara lain Tebing Tinggi (Deli), hal itu
menuntut pengorbanan jiwa. Masih banyak terdapat persekongkolan antara pasukan
Jepang yang telah ditaklukkan dengan orang-orang Belanda didalangi pasukan
komando yang diterjun-kan Belanda sebelumnya. Juga antara orang-orang Belanda
bekas internir (tahanan) yang sudah bebas dengan para serdadu Jepang, yang memungkinkan
mereka berkampanye untuk menegak-kan pemerintah Hindia Belanda yang baru di daerah
Sumatera Timur.
Pada tanggal 3 September 1945 Komite Nasional
Indonesia (KNI) terbentuk di Medan. Sadar akan tidak jelasnya sikap Sekutu
terhadap NRI di Sumatera Timur ketika itu, lalu muncul perla-wanan anak-anak
negeri di berbagai tempat di Sumatera Timur terhadap pelaksanaan serahterima
kekuasaan daerah itu dari tangan Jepang. Berbagai usaha partikelir dilakukan
anak-anak bangsa guna mempertahankan kemerdekaan yang belum lama diproklamirkan
ulang.
Orang-orang Belanda yang membonceng Sekutu
berusaha keras untuk mempertahankan kembali kedaulatan pemerintah Hindia
Belanda yang baru, meski mendapat perlawanan masyarakat di Sumatera Timur.
Peristiwa 13 Oktober 1945 di jalan Bali, Medan, merupakan awal pemicu ben-turan
kepentingan antara orang-orang Belanda pendatang dengan anak-anak negeri di
Sumatera Timur ketika itu. Begitu juga provokasi yang dilakukan penyusup-penyusup
Belanda yang me-nembaki Merah-Putih yang tengah berkibar di halaman asrama BPKI
(Badan Pelaksana Kemerdekaan Indonesia) Pematang Siantar. Rakyat yang marah
lalu memburu kaum provokator ke tempat persembunyian di Hotel Siantar dan
membakarnya sehingga para provokator terpaksa menyerah.
Pada tanggal 23 September 1945 dibentuk Barisan
Indonesia Muda di Medan bersemboyan: “merdeka atau mati”. Untuk mempertahankan
NRI di Sumaera Timur dan Tapanuli muncul
or-ganisasi-organisasi kemasyarakatan pendukung kemerdekaan, antara lain: TRI
(Tentara Republik Indonesia); Naga Terbang pimpinan Timur Pane, Harimau Liar dipimpin
Saragih Ras, Halilintar pimpinan Slamet Ginting, Napindo PNI, Brigade Tapanuli,
Pesindo PSI (Pemuda Sosialis Indo-nesia), Mujahidin dari Masyumi, dan banyak
lagi lainnya. Kemudian dengan diizinkannya ber-diri partai politik yang baru
oleh Wakil Presiden, disamping PSI, PSII, Masyumi, PNI, yang te-lah lama ada,
muncul pula partai-partai politik baru, baik dari sayap kanan maupun sayap kiri
di nusantara; semuanya bahu membahu berjuang untuk membela kemerdekaan NRI yang
telah diproklamirkan kembali di Medan.
Derasnya arus informasi yang menyusup ke Tapanuli
dari berbagai penjuru membuat kaum per-gerakan: pemuda, pemuka
masyarakat, kaum terpelajar di Tarutung menuntut janji kemerdekaan dari Jepang,
mengakibakan ibukota Tapanuli versi Jepang itu bergolak. Masyarakat ingin lebih
tegas lagi menuntut kemerdekaan pada Jepang. Langkah baik semula diperkirakan berlangsung
tanggal 8 September 1945, menjelang “Hari Raya Idulfitri 1365 H”, setelah pimpinan
pergerakan sehari sebelumnya meminta rakyat dimana-mana mengibarkan bendera
Merah-Putih pada setiap rumah. Akan tetapi anjuran diserukan belum ditanggapi
merata. Baru pada tanggal 14 September 1945, ratusan pemuda dari berbagai
pelosok Tapanuli dapat dikerahkan untuk berdemonstrasi di Tanah Lapang kota Tarutung.
Kaum demonstran dengan luapan emosi yang
memuncak, lalu bergerak menuju kantor Cokan (Residen Tapanuli versi Jepang) dan
menuntut kepada Jepang segera menyerahkan kekuasaan. Sanyo, seorang putra
pribumi yang diangkat Jepang sebagai pejabat di kantor itu, langsung ambil bagian,
dan segera melakukan serah terima kekuasaan dari Jepang ke NRI di Tarutung secara
damai. Maka pada tanggal 3 Oktober 1945, surat keputusan pemerintah NRI dari
Jakarta dikirim untuk mengangkat Dr. Ferdinand Lumban Tobing menjadi Residen
NRI pertama di Tapanuli berikut wakilnya Abdul Hakim Harahap. Dengan demikian
Keresidenan Tapanuli dengan resmi menjadi bagian dari NRI dengan ibukotanya
Tarutung.
Pada tanggal 4 Oktober 1945 lalu dibentuk KNI
(Komite Nasional Indonesia) Tarutung setelah terlebih dahulu BKR dibubarkan.
Adapun susunan para anggota KNI Tarutung dari ketua hingga anggotanya, adalah sebagai berikut: Ketua M.
Jakoeb Siregar, gelar Soetan Naga; dan anggota-nya: Soetan Koemala Pontas, G.
Silitonga, Roefinoes L. Tobing, M. Simatoepang, A. Loebis, M. Siregar, Soetan
Soemoeroeng, Radja Djoendjoengan, R. M. Sodjoeangon, Hasan Basjaroedin
Nasoetion, dan F. Nasoetion. Lalu sidang pleno KNI Tapanuli diselenggarakan
pada akhir tahun 1945.
Lalu pada tanggal 17 Oktober 1945, dua bulan
kemudian kemerdekaan NRI diproklamasikan ulang pula di Tapanuli, di ibukota versi
Jepang Tarutung, di Tanah Lapang, dan dibanjiri tidak kurang dari 15.000 orang
beragam golongan masyarakat datang dari berbagai pelosok Tanah Batak. Pada
kesempatan itu dibacakan pula ikrar Rakyat Tapanuli yang menyatakan setia pada
Presiden dan Negara Republik Indonesia. Pemerintah NRI di Tapanuli dibentuk,
dan anggotanya dihimpun dari orang-orang muda pergerakan, baik untuk Eksekutif
maupun Legislatif yang ber- otonomi penuh telah disepakati ketika itu.
Maka tanggal 7 Januari 1946 berlangsung rapat
Badan Eksekutif pemerintah NRI Tapanuli
per-tama di Tarutung, sekaligus memperkenalkan para pejabat di daerah
itu. Dalam rapat kedua ber-langsung di
Sipoholon tanggal 16 Januari 1946, diatur hubungan kerja antara badan-badan Ek-sekutif
dan Legislatif. Lalu pada tanggal 28 Januari 1946 oleh Badan Legislatif disusun
pula aturan baru berkaitan dengan Dewan Negeri, sehingga segala ketentuan yang telah
berlaku sebe-lumnya dengan demikian diperbaharui semua. Lalu pada tanggal 15
Mei 1946 ibukota NRI Kere-sidenan Tapanuli dipindahkan dari Tarutung kembali ke
Sibolga, bekas ibukota Keresidenan Tapanuli pada zaman Hindia Belanda.
Dari Tarutung, ayah ditugaskan ke Padang Sidempuan,
sebuah kota yang lebih ke Selatan le-taknya. Terhitung tanggal 1 Desember 1946,
ayah diangkat menjadi guru “Sekolah Opseter Kehutanan” di kota besar tanah
Angkola itu. Opseter kehutanan saat itu diperlukan untuk mengambil alih
tanggung jawab pengawasan, pemeliharaan, dan pengelolaan hutan-huyan pulau
Sumatera memasuki alam kemerdekaan.
Tidak banyak warga masyarakat di Tapanuli ketika
itu yang tahu apa yang sesungguhnya sedang berlangsung di muka bumi, oleh
miskinnya berita, terbatasnya sarana perhubungan dan peralatan komunikasi. Kebanyakan
habar yang masuk ke Tanah Batak dibawa orang yang bepergian, baik yang
disampaikan cara lisan maupun dengan surat yang dibawa. Keadaannya diperburuk
lagi o-leh tingkat pengetahuan rakyat tentang dunia yang masih rendah oleh
belum terdapat pendidikan masyarakat yang memadai.
Belum seberapa persen penduduk di Tapanuli yang
pernah duduk di bangku sekolah ketika itu; dan kalau pun ada, kebanyakan baru
keluaran Sekolah Gouvernement: Volks School 3 tahun, dengan lanjutan Vervog School 2 tahun
bahasa Melajoe tulis Latin. Meski telah ada sejumlah sekolah yang diusahakan
masyarakat setempat, antara lain madrasah, akan tetapi yang akhir ini lebih
memusatkan perhatian pada pengajaran agama Islam ketimbang mengajarkan
pengetahuan umum tentang bumi dimana manusia berdiam. Dengan latar belakang
pendidikan demikian kebanyakan warga di Tanah Batak masih belum dapat mengikuti
perjalanan sejarah dunia lewat berita
yang disampaikan surat khabar.
Lebih sedikit lagi mereka yang pernah duduk di
bangku: HIS, MULO, AMS, dan lain diatasnya
berbahasa Belanda, maupun yang menyelesaikannya. Kebanyakan dari mereka tinggal
di kota di Tapanuli ketika itu. Itulah sebabnya mengapa perkembangan dunia
luput dari pemantauan keba-nyakan warga di Tanah Batak termasuk di kota Padang
Sidempuan. Selain dari itu, pesawat radio milik masyarakat masih di tangan Jepang,
menyebabkan perkembangan keadaan dunia tidak segera tercermin pada kehidupan orang
banyak ketika itu.
Itulah sebabnya mengapa tidak banyak orang yang
tahu di Tanah Batak, bahwa Perang Dunia ke-II telah bertukar haluan. Nazi
Jerman pimpinan Adolf Hitler yang perkasa di Eropa telah ditaklukkan Sekutu
pimpinan Amerika Serikat, begitu pula Fascist Jepang pimpinan Jenderal Tojo di
Asia, telah bertekuk lutut kepada Sekutu dengan dijatuhkannya dua bom atom,
masing-masing di Hiroshima dan Nagasaki oleh pesawat Amerika Serikat.
Tersiar khabar di Tapanuli yang dibawa orang
mengabarkan, Belanda akan masuk lagi ke Suma-tera Timur untuk memulai penjajahan
Hindia Belanda yang baru, dan serdadu-serdadu Belanda pun telah tiba di Medan,
dan akan menuju Simalungun untuk menguasai Tapanuli. Masih banyak warga
Tapanuli yang mengira bahwa pendudukan Jepang masih ada di Tarutung menjalankan
mandat Sekutu. Dikhabarkan pula pemerintah peralihan Jepang tengah menanti
timbangterima kepada Sekutu akan segera dilakukan, meski tanggalnya masih belum
diketahui.
Khabar kedatangan serdadu-serdadu Belanda di
Sumatera Timur, akhirnya sampai juga di Pa-dang Sidempuan di Angkola. Kaum
pergerakan dimotori para pemuda Sumatera Timur dan Tapanuli tidak sudi lagi
melihat kembalinya pemerintah Belanda baru yang membonceng Sekutu, terus membangun
perlawanan. Lahirlah barisan-barisan pembela NRI berbagai bentuk dimana-mana di
Sumatera Timur dan Tapanuli. Suhu politik di kedua kawasan pun lalu mening-kat
mencapai puncak yang akan menyulut pecahnya perang.
Belanda memulai agresi militer pertama
tanggal 21 Juli 1947, dan menamakan tindakan itu politionele actie (aksi polisionil) untuk memulihkan keamanan.
Diawali dengan melanggar gencatan senjata Medan Area tanggal 14 Oktober 1946,
Perjanjian Linggarjati tanggal 25 Maret 1947, Belanda memulai agresi
diperintahkan van Mook dari Batavia. Tujuannya jelas, untuk merebut berbagai wilayah
di Sumatera Timur dan Tapanuli yang secara ekonomi dan politik di-nilai amat
penting ketika itu, antara lain: beragam perkebunan yang terpaksa ditinggalkan
Be-landa saat Jepang masuk.
Belanda mengawali serangan dehgan melanggar garis
van Mook mengitari Medan Area, dilakukan Brigade Z pimpinan Mayor Scholten.
Belanda ingin menerapkan theori perang kilat Heinz Guderian dari Jerman yang
berhasil meluluhlantakkan Polandia, tetapi kini dilakukan di Sumatera Timur.
Belanda mengerahkan empat batalyon infantri kendaraan lapis baja dikawal dari
udara. Agresi Belanda ini akan berhadapan dengan Divisi X NRI pimpinan Kolonel
Hoesin Yoesoef bermarkas di Bahjambi,
tidak jauh dari Pematang Siantar. Pasukan-pasukan Republik terdapat di empat
sektor ketika itu, yakni: Medan Utara berpusat di Binjai, Medan Timur berpusat
di Batang Kuwis, Medan Selatan berpusat di Tanjung Morawa, dan Medan Barat
berpusat di Deli Tua. Se-tiap sektor pertahanan NRI terdiri dari gabungan berbagai
organisasi perjuangan, anggota partai politik, seperti: Napindo (PNI), Pesindo
(Pemuda Sosialis Indonesia), Mujahidin (Masyumi) di-datangkan dari Aceh. Ada
lagi Marechaussee (kepolisian), Tentara Republik Indonesia (TRI), TRIP (TRI
Pelajar), Brigade Tapanuli, dan beragam lasykar rakyat, semuanya ditaksir berke-kuatan
20.000 orang yang dipersenjatai.
Tepat jam 05.30 pagi, Belanda memulai agresi
militer dengan membuka serangan udara pada sektor pertahanan Medan Utara dengan
menembaki kota Binjai dan markas Resimen I dengan senapan mesin lalu
menjatuhkan bom. Serangan datang bertubitubi dan mematahkan perlawa-nan sektor
yang dinilai terkuat dari semua yang dipersenjatai ketika itu. Setelah
melumpuhkan sektor Medan Utara, Scholten dengan cepat menukar haluan ke
Selatan, lalu Timur, dan balik ke Utara lalu menghantam pertahanan sektor Medan
Barat dari belakang, setelah sebelumnya meng-hujani sektor itu dengan serangan
udara bersama sektor Medan Timur. Melihat kedatangan ser-dadu-serdadu Belanda
dari belakang yang tidak disangka-sangka, pertahanan sektor itu pun po-rak-poranda,
maka pasukan NRI terdiri dari berbagai organisasi, kebanyakan masih partikelir,
tidak berpengalaman, dan belum mengertahui strategi dan doktrin perang, menjadi
kocar-kacir berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing.
Komunikasi pasukan dengan markas NRI di Bahjambi
telah lebih dahulu diputus Belanda, se-hingga pasukan NRI yang ada di lapangan
tidak lagi tahu apa yang harus diperbuat. Pada saat yang sama komandan Divisi X
pun sedang bepergian ke Aceh, dan disana pun ia tidak menge- tahui apa yang
terjadi di medan perang. Pasukan Belanda dengan cepat menduduki Binjai, Deli
Tua, Pancur Batu, Tembung dan Tanjung Morawa termasuk wilayah yang mengitari.
Serangan infantri Belanda dengan tembakan udara ke markas-markas TRI di Medan,
termasuk pemboman ke sejumlah tempat yang strategis, menimbulkan banyak korban
dan penderitaan warga masya-rakat di daerah Deli Timur ketika itu.
Agresi militer Belanda di Sumatera Timur menimbulkan
gelombang arus penduduk yang me-ngungsi dari sejumlah daerah konflik di
Sumatera Timur ke wilayah NRI atau Republik di Tapanuli. Dalam gelombang
pengungsian yang bergerak kacau-balau, selain masyarakat sipil yang berusaha
menyelamatkan diri, ternyata ikut pula sejumlah lasykar yang terpukul mundur,
antara lain yang dipimpin Mayor Bejo dan Mayor Malao. Sampai tanggal 20
September 1947, jumlah pengungsi dari Sumatera Timur tidak kurang dari 150.000
orang. Mereka adalah orang-orang yang tidak sudi lagi berdiam di daerah-daerah
pendudukan Belanda, lalu berbondong-bondong meninggalkan: Binjei, Tanjung Pura,
Pancur Batu, Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Rampah, Tebing Tinggi, Pematang
Siantar, dan Kabanjahe; beramai-ramai mengungsi menyelamatkan diri ke sejmlah
daerah Republik untuk mendapatkan perlindungan.
Sejak ibukota keresidenan Tapanuli dipindahkan ke
Sibolga dari Tarutung, terhitung tanggal 10 Oktober 1947 ayah diangkat menjadi
Kepala Kehutanan Keresidenan Tapanuli berkedudukan di Sibolga. Melihat agresi
militer Belanda yang telah melanda Sumatera Timur, ayah memutuskan untuk pergi
seorang diri ke Sibolga melaksanakan tugas Kepala Kehutanan NRI, lalu
menitipkan ibu dengan kedua anaknya di Padang Sidempuan kepada Ompung Maimunah
di jalan Lubuk Raya no.2, Tanah Lapang.
Agresi militer Belanda pertama sebenarnya telah
dimulai tanggal 12 Mei 1947, karena di pantai Barat pulau Sumatera, kapal
perang JT-1 Angkatan Laut Belanda telah masuk ke teluk Sibolga dan menghujani
ibukota keresidenan Tapanuli itu dengan tembakan meriam dari laut 45 menit
lamanya yang menimbulkan kebakaran besar di kota itu. Penduduk Sibolga lalu
berbon-dong-bondong meninggalkan ibukota Tapanuli itu lari ke pedalaman untuk
menyelamatkan diri, mebuat kota pelabuhan itu berubah jadi kota mati.
Agresi militer Belanda bulan Juli menyebabkan
daerah Tapanuli menghadapi persoala besar oleh
aliran ratusan ribu pengungsi
dari Sumatera Timur, termasuk lasykar dan tentara yang terusme-nerus terpukul
mundur akibat tekanan Brigade Z pimpinan Mayor Scholten. Panitia penampung
pengungsi lalu di bentuk di berbagai kota di Tapanuli, antara lain: Sipangan
Bolon, Sidikalang, Tarutung, Balige, Padang Sidempuan dan lainnya, dengan
mendirikan pos-pos Palang Merah, dan kantor-kantor pendaftaran, serta tempat-tempat
penerimaan pengungsi gawat darurat.
Untuk memberi kebebasan bergerak kepada
pemerintah NRI dalam keadaan darurat, maka oleh Dewan Pertahanan Daerah (DPD)
Tapanuli, jumlah Kabupaten yang ada dalam Keresidenan Tapanuli ditingkatkan jumlahnya
dari 4 (empat) menjadi menjadi 9 (sembilan), dan ibukota keresidenan
dipindahkan dari Sibolga (Sibolga I) ke Aek Sitahuis atau Naga Timbul, sebelas
kilometer dari kota Sibolga, dan dinamakan: Sibolga II. Langkah pemecahan
wilayah diambil untuk menghindarkan lumpuhnya pemerintah NRI Tapanuli, apabila
serdadu-serdadu Belanda dalam agresi militernya berhasil menduduki salah sebuah
kabupaten NRI di Tapanuli.
Oleh derasnya arus pengungsi yang mengalir ke
Keresidenan, maka pada tanggal 15 Agustus 1947, pemerintah NRI mencetak ORITA
(Oeang Repoeblik Indonesia Tapanuli) pecahan Rp.5,- dan Rp.10,- sebagai penukar
URIPS (Oeang Repoeblik Indonesia Sementara) pecahan Rp.100,- keluaran Pematang
Siantar yang terlalu besar untuk berbelanja, karena banyak dibawa para pe-ngungsi
dari Sumatera Timur saat masuk ke Tapanuli. Sejalan kelahiran ORITA, beredar juga
uang palsu dilakukan orang-orang yang ingin mengais kesempatan untuk
mengacaukan jalannya perekonomian rakyat di pedalaman.
Ditengah keadaan yang masih belum menentu, begitu
juga tekanan angkatan laut Belanda yang
berusaha menduduki Sibolga di pantai Barat Sumatera, maka setelah
beberapa lama bekerja di ibukota keresidenan Tapanuli, ayah memutuskan kembali
ke Padang Sidempuan dan meneruskan pekerjaan sebelumnya sekaligus berkumpul
dengan keluarga. Perjalanan kembali dari Sibolga terpaksa di tempuh dengan
berjalan kaki dalam kelompok lewat hutan, untuk menghindarkan bertemu dengan
patroli anggota badan intelijen Belanda yang sedang berkeliaran
mengamati.
Dahaga berita amat dirasakan kaum intelektual dan
anak-anak bangsa yang kembali dari peran-tauan, baik memilih tinggal di kota-kota
maupun yang memilih tinggal di desa-desa di Tapanuli Selatan ketika itu, menjadi
beban berat yang terasa dalam perjalanan waktu. Berbagai pesawat radio milik
masyarakat yang disita Jepang sebelumnya belum juga dikembalikan, membuat per-kembangan
dunia dan tanah-air ketika itu luput dari pantauan warga masyarakat yang bermukim
di Tapanuli Selatan.
Tidak ada jalan masuk berita dari Sumatera Timur
karena semuanya telah ditutup Belanda. Tidak banyak orang yang tahu di
Tapanuli bahwa pada tanggal 25 Desember 1947 Negara Sumatera Timur telah terbentuk.
Orang-orang Republik yang berdiam di sejumlah kota pendudukan ba-nyak memembantu
warga masyarakat di pedalaman memperoleh khabar terbaru. Kurir Kantor Residen
Sibolga II sering menyampaikan khabar terbaru kepada warga di pedalaman, antara
lain: pertemuan Hoge Veluwe di Nederland, persetujuan Linggarjati, persetujuan
di atas Kapal Perang Amerika Serikat Renville, berdirinya Komisi Tiga Negara
(KTN) guna menengahi pertikaian In-donesia dengan Belanda di lapangan. Inggris
dikhabarkan menyatakan kekecewaan pada Belan-da tanggal 21 Juli 1947 yang mengatakan
tidak lagi terikat pada perjanian Linggarjati. Belanda melampiaskan kekecewaannya dengan menyerang
Republik dari laut dan udara. Kaum buruh dan mahasiswa Australia melancarkan
demonstrasi di negaranya pada kedutaan Belanda untuk menyampaikan protes. Dewan
Keamanan PBB di New York kemudian membahas persoalan In-donesia di penghujung
bulan Juli tahun yang sama.
Surat kabar Waspada pimpinan Mohammad Said terbit
di Medan, diperdagangkan orang hingga Rantau Prapat. Semakin jauh selembar
surat kabar dari tempat penerbitannya berada, akan sema-kin mahal harganya. Di
Simangambat yang terletak di kecamatan Sipirok, koran Waspada yang sudah berusia
tujuh hari ketika itu dihargai sekaleng beras. Banyak orang yang tidak peduli akan
isi berita yang dimua dalam surat khabar, seperti keberhasilan Belanda
menduduki berbagai wilayah Republik di Tapanuli atau tempat lain, akan tetapi
bagi kebanyakan orang adanya berita saja seakan sudah mengikuti perkembangan
dunia di tempat berdiam.
Ada pula khabar yang dibawa rombongan orang muda yang
melaksanakan “Long March” dengan berjalan kaki dari Tanjung Karang (Lampung)
menuju Kota Raja (Banda Aceh). Rom-bongan yang dipimpin Letnan I Kohar
Chourmain saat itu tiba di Simangambat (Sipirok) tanggal 24 April 1946. Mereka
menyampaikan khabar simpati dunia kepada perjuangan bangsa Indo-nesia melawan
Belanda. Juga disampaikan berbagai kejadian penting di tanah-air yang menyita
perhatian masyarakat ketika itu; disampaikan begitu saja ke tengah kerumunan
orang banyak di lapangan kota atau halaman desa disinggahi sepanjang perjalanan
Long March yang amat meletihkan itu.
Khabar kembalinya pemerintah Hndia Belanda
di Sumatera Timur bernama NICA diketahui o-rang di Tapanuli dibawa orang
berjalan kaki. Begitu juga tentang pemuda beragam organisasi yang berupaya menentangnya.
Di fihak berseberangan ada pula kelompok anak-anak pribumi yang masih meragukan
kemampuan anak bangsa untuk merdeka, apalagi harus berhadapan de-ngan Belanda
yang telah menguasai nusantara selama berbilang abad. Terlebih mereka yang
pernah bertugas di zaman Hindia Belanda silam dan masih setia, yang dikenal
dengan “zaman normal” ketik aitu, antara lain: kaum pamong (Demang, Kuria, dan
lainnya), para guru sekolah Melayoe, kaum ambtenar (pegawai) beragam pelayanan
masyarakat di pulau-pulau: Jawa, Suma-tera, dan lain.
Begitu pula diatara segolongan terpelajar yang telah
mengenyam pendidikan Barat mulai rendah hingga tinggi saat itu. Banyak yang
mengetahui besarnya dukungan Belanda kepada Sekutu di Eropa dalam Perang Dunia
ke-II silam, sebelum tanah jajahan Hindia Belanda di Asia Tenggara jatuh ke
tangan Jepang. Mereka tampaknya masih tidak habis pikir bagaimana anak-anak
negeri kebanyakan masih buta huruf karena belum bersekolah ini nanti akan dapat
mengurus sebuah negara, lalu mempertahankannya dari serangan Belanda yang berpengalaman
menjajah di nusan-tara didukung Sekutu bersenjata moderen pemenang Perang Dunia
ke-II.
Anak-anak negeri berseberangan pandang
terpolarisasi di Tapanuli, meski batas-batasnya tidak tampak jelas. Masing-masing kubu berusaha
membangun kekuatan lalu mencoba merebut hati rakyat dari kota sampai ke desa,
menimbulkan ketegangan sosial dalam masyarakat. Hal ini mempengaruhi
kekerabatan yang sejauh ini diatur adat Batak. Gangguan kekerabatan juga
mem-pengaruhi masyarakat memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari, seperti:
pangan, sandang, pa-pan, pekerjaan, keamanan, keadilan didepan hukum, dan masih
banyak lagi lainnya. Desas-desus siapa yang membantu perjuangan NRI di
Tapanuli; bisik-bisik siapa yang mendukung datangnya pemerintah Hindia Belanda yang baru tersebar
dalam masyarakat dan menjadi rahasia umum. Ada pula desas-desus tentang siapa
yang menjadi kakitangan NICA di daerah Republik; dan se-baliknya di daerah
pendudukan, mengusik ketenteraman hidup rakyat ketika itu.
Tekanan militer Belanda yang didukung Sekutu dari
luar di satu pihak ketika itu, dan perjuangan anak-anak negeri mendukung
kemerdekaan dari dalam negeri di pihak lain, menyebabkan kehi-dupan rakyat di
Tapanuli Selatan terhimpit beban politik. Tidak mudah orang menentukan pili-han
pada ketika itu tidak terkecuali ibukota Tapanuli Selatan Padang Sidempuan.
Memilih ikut pemerintah Hindia Belanda yang baru dijanjikan: pekerjaan, gaji
menarik, pangan, sandang, pa-pan, dan lain sebagainya, atau memilih republik
dengan dijanjikan hidup sejahtera setelah merdeka, namun harus hidup serba kekurangan
sampai waktu yang masih belum dapat ditentu-kan; menyebabkan orang
menentukan pilihan berangkat dari keyakinan sendiri, dan latar belakang hidup
sebelumnya.
Dua kubu yang berseberangan kepentingan di
Tapanuli Selatan saat itu, lalu menyusun kekuatan mulai tingkat daerah, lalu tingkat
nasional, kemudian internasional, membuat suhu politik ketika meningkat itu
dimana-mana. Belanda lalu memanfaatkan situasi dengan Politionele Actie (aksi
polisionil) pertama bulan Juli tahun 1947, karena dari sudut pandangnya
perlu diambil langkah untuk menertibkan kehidupan masyarakat di bekas tanah
jajahan Hindia Belenda, agar NICA yang baru dibentuk dapat berjalan sebagaimana
seharusnya. Akan tetapi anak-anak bangsa di fi-hak Republik yang berseberangan
melihatnya dari sudut pandang sebaliknya, Belanda telah melakukan agresi
militer terhadap NRI yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 di
Jakarta; semakin menjlaskan sikap masing-masing kubu berseberangan dengan para simpatisan.
Mundurnya pasukan NRI dan berbagai lasykar ketika
itu, selain terpukul oleh serangan serdadu-serdadu Belanda setelah yang akhir
ini diperkuat dengan yang baru mendarat di pantai cermin kemudian menduduki
Deli Serdang dan Simalungun; juga dalam mematuhi perintah PBB untuk melakukan
gencatan senjata, dan menetapkan garis demarkasi di lapangan. Oleh lemahnya ko-ordinasi
lapangan dan minimnya sarana komunikasi antar pasukan, mereka yang begerak
mundur dan dipersenjatai menjadi amat berdekatan. Sebagai akibatnya muncul
pertikaian diantara para pemanggul senjata memperebutkan supremasi, antara
lain: territorial, harta, dan lainnya. Yang dikemukakan akhir ini menjadi
alasan mengapa perang antar lasykar di Tapanuli Selatan tidak dapat dihindarkan
ketika itu.
Selain oleh kurangnya koordinasi, komandan para lasykar
yang bergerak mundur juga memperli-hatkan prilaku kurang terpuji, menyebabkan
pertikaian yang timbul dalam wilayah operasi yang semakin menciut tidak
berkesudahan. Sebagai akibatnya, di garis belakang banyak senjata digu-nakan
menghadapi kawan seperjuangan, bahkan kerabat untuk kepeningan pribadi dan
kelom-pok. Keadaan diperburuk lagi dengan keterlibatan sanak saudara pimpinan
pasukan. Sikap tidak disiplin pemimpin-pemimpin pasukan di garis belakang,
menjadi salah satu penyebab mengapa perang saudara di Tapanuli Selatan ketika
itu tidak terelakkan, membuat perlawanan terhadap Belanda tidak menunjukkan kekompakan.
Sebagian Brigade A (bekas lasykar Brigade Naga
Terbang pimpinan Mayor Timur Pane), yang terdesak mundur masuk ke Tapanuli
Selatan lewat Asahan dan Labuhan Batu dan menetap di Gunung Tua. Brigade ini
rupanya tidak mengabarkan kedatangannya pada Brigade B (Brigade Tapanuli) yang ketika
itu bermarkas di Padang Sidempuan, dan menguasai daerah itu. Hal ini membuat
kompi Brigade B pimpinan Letnan I Sutan Muda Harahap bermarkas di Gunung Tua
terpaksa meninggalkan pos tempat bertugas, lalu melapor kepada pimpinan
Batalyon di Padang Sidempuan: Kapten Koima Hasibuan. Di ibukota tanah Angkola
itu pula bermarkas Brigade B pimpinan Mayor Bejo, dan salah satu resimennya
dipimpin: Mayor Maraden Panggabean, sebu-ah batalyonnya dipimpin: Kapten Koima
Hasibuan. Perbuatan Brigade A menimbulkan ketega-ngan militer di Angkola, dan
perang saudara tidak dapat dihindarkan lalu berkecamuk di Sipirok tujuh hari
lamanya. Banyak pasukan dari kedua belah fihak gugur, tertembaknya orang-orang
tak bersalah, terbuangnya amunisi sia-sia, dan kerugian harta benda percuma yang
amat disesalkan.
Agresi militer Belanda yang sama juga membuat
pasukan Brigade A (bekas Harimau Liar pimpi-nan Jakub Siregar, Saragih Ras, dan
Payung Bangun), mundur ke perbatasan Simalungun dan Karo. Karena mereka kurang
disukai masyarakat setempat akibat politik divide et impera wari-san Hindia
Belanda silam, maka oleh Mayjen Dr. Gindo Siregar selaku Gubernur Militer
Daerah Tapanuli/Sumatera Timur, pasukan ini diizinkan pindah ke Sipirok.
Padahal di kota ini Kapten Koima Hasibuan telah menempatkan satu kompinya yang dipimpin
Letnan I August Marpaung. Kompi akhir ini, lebih disukai masyarakat Sipirok
dalam pergaulan sehari-hari, ketimbang yang hijrah dari perbatasan Simalungun
dan Karo, lalu menimbulkan perselisihan diantara para pe-manggul senjata. Para
pendatang perbatasan Simalungun dan Karo rupanya kurang menghormati keluarga
“si Pungka Huta” (Pendiri Kampung) di tempat berdiam yang amat dihargai di kala-ngan
masyarakat Batak Angkola. Begitu juga adat setempat yang menghormati orang tua
oleh yang muda, kurang mendapat perhatikan para pendatang bersenjata yang
terpukul mundur.
Lalu mundur pula pasukan Naga Terbang pimpinan
Habiaran Pane yang bergerak dari Tarutung dan Pahae untuk bergabung dengan
induk pasukannya yang telah berada di Sipirok dan Padang Lawas. Berkat campur
tangan Residen Tapanuli, Dr. Lumban Tobing ketika itu, perseteruan an-tar
pasukan dapat dihindarkan. Dan dengan dinonaktifkannya Mayor Timur Pane, dan
dibubar-kannya Brigade Naga Terbang, lalu dilucuti persenjataan mereka oleh
pasukan Kapten Koima Hasibuan, keamanan dan ketertiban di Tapanuli Selatan
menjadi tanggungjawab Resimen Mayor Maraden Panggabean. Pada suatu hari, malam
pertengahan tahun 1948, pasukan Mayor Malau bekas Brigade A yang pernah dibawah
Mayor Bejo, melakukan serangan terhadap Batalyon VI dan menghalaunya
meninggalkan Sipirok. Batalyon ini lalu mundur, dan melapor kepada induk
pasukannya di Padang Sidempuan. Setelah beberapa hari Mayor Malau dan
pasukannya mendu-duki Sipirok, Mayor Bejo bersama pasukannya datang dari Padang
Sidempuan untuk membebas-kan kota itu. Setelah bertempur hampir seharian di tengah-tengah
kota, pasukan Mayor Malau la-lu melarikan diri, dan meninggalkan kota dalam
keadaan kacau balau.
Begitulah, pada suatu malam setelah berdiam di
Sipirok empat bulan lamanya, pasukan Brigade A melangsungkan sebuah rapat
rahasia untuk membuat makar di Padang Sidempuan. Rapat yang dihadiri pimpinan
dan staf Brigade bermaksud menghancurkan Resimen Mayor Maraden Pang-gabean
dan Batalyon Kapten Koima Hasibuan. Hasil pertemuan lalu dibocorkan seorang ibu
ke-pada Wedana Sipirok. Menyadari malapetaka yang bakal ditimbulkan, sang
pamong mengutus seorang kurir dalam jalur pemerintah untuk bertemu langsung
dengan Mayjen Dr. Gindo Siregar (Gubernur Militer) dan Soetan Doli Siregar
(Bupati Padang Sidempuan), agar berita segera men-dapat tanggapan kedua
komandan. Laporan kurir tidak ditanggapi, karena dianggap tidak akan sampai
hati melakukan makar.
Dua hari sesudah pertemuan rahasia di Sipirok
berlangsung, pada tanggal 10 Februari 1948, pa-sukan Brigade A berangkat menembus
keheningan malam menuju ibukota Angkola, dan men-jelang subuh mereka telah tiba
di luar kota. Pada jam 05.00 , dengan diam mereka melancarkan seragan ke
Batalyon Koima Hasibuan, dan karena pasukan tengah tidur lelap di tangsi
militer, dengan sendirinya tidak dapat melakukan perlawanan. Kapten Koima
Hasibuan sendiri tewas, dan anggota pasukan yang hidup lalu dilucuti. Begitu
pula komandan Resimen Mayor Maraden Panggabean tidak dapat melakukan apa-apa,
lalu ditawan Brigade A di Sipogu, kecamatan Sipi-rok. Kompi yang dipimpin
Letnan I August Marpaung, anak buah Kapten Koima Hasibuan yang sedang bertugas
di Sipirok, samasekali tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia pun kemudian ditawan
pasukan Brigade A yang kembali dari Padang Sidempuan ke induk pasukan di Sipirok.
Dalam situasi menjelang agresi militer Belanda
kedua, Gubernur Militer Mayjen Dr. Gindo Sire-gar yang mewakili pemerintah
pusat dari Jakarta, mengeluarkan pegumuman yang mengatakan bahwa: Tapanuli
Selatan kini berada dibawah Brigade A, dan seluruh anggota pasukan Resimen
Mayor Maraden Panggabean termasuk Batalyon Kapten Koima Hasibuan dinonaktifkan.
Kemu-dian wakil Presiden Drs. Muhammad Hatta, mengeluarkan surat keputusan
melalui Panglima Sumatera Jenderal Soeharjo Hardjowardjo, memerintahkan semua
tawanan Brigade A di Sipogu dipindah ke Bukit Tinggi. Dengan demikian telah terjadi
pengambilalihan kekuasaan (coup d’etat) militer oleh Brigade A terhadap Brigade
B di Tapanuli Selatan yang tidak dapat diperso-alkan lebih lanjut keabsahannya.
Diantara anggota pasukan Batalyon Koima Hasibuan
yang gugur dalam makar di Padang Sidem-puan tulang Amir Samsi Harahap, kahanggi
ibu dari Pargarutan Gunung Manaon, anak sulung Ompung Sutan Pamusuk. Ayah yang sedang
berada di Padang Sidempuan ketika itu, lalu ber-sama ibu ambil bagian dalam menemukan
kerabat yang tewas dalam kejadian berdarah tanggal 10 Februari 1948 di ibukota
tanah Angkola, untuk diselesaikan menurut agama Islam dan adat Batak. Almarhum
tulang lalu dimakamkan sebagaimana yang diinginkan kerabat yang tengah berduka ketika
itu. Ompung Sutan Pamusuk sangat senang atas apa yang telah dilakukan ayah dan
ibu terhadap mendiang putra sulungnya itu.
Kabinet Darurat
Agresi militer Belanda kedua timbul akibat
perubahan sikap Amerika Serikat di PBB terhadap perjuangan rakyat Indonesia
ketika itu. Awalnya negeri Paman Sam itu berpihak kepada Be-landa, dan belum
bersedia mengakui kehadiran NRI yang dipimpin Presiden Sjafrudin Prawira-negara.
Akan tetapi setelah mengetahui tindakan Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta, kala
itu merangkap Perdana Menteri dalam Kabinet Darurat NRI (7 Desember 1948-13
Juli 1949), yang dengan tegas menolak pemberontakan PKI di Madiun, dan mengirim
pasukan Siliwangi dari Jawa Barat dipimpin Kolonel Abdul Haris Nasution untuk
menumpasnya dari tanggal 18 Septem-ber hingga 7 Desember 1948, menjadi yakin
dan dengan cepat menukar haluan. Negara Paman Sam lalu meninggalkan Belanda
dalam sidang PBB, beralih kepada perjuangan bangsa Indone-sia. Pemerintah
Belanda yang kesal dan kecewa kepada Amerika Serikat ketika itu, lalu me-nyuruh
Jenderal Spoor mengeluarkan perintah harian di Batavia tanggal 18 Desember
1948. Dan, pada keesokan harinya pasukan Belanda kembali bergerak menerobos
garis perbatasan yang disepakati kedua pihak di Sumatera Timur.
Sekembali dari Sibolga, dua hari setelah agresi militer Belanda ke-II
berjalan, ayah kembali mengajar, kini menjadi guru SMA Swasta di Padang
Sidempuan, sekaligus menjabat di Sekre-tariat Front Republik Indonesia di kota
itu. Ayah mengajar bersama para putra daerah yang me-ngungsi ke Padang Sidempuan dari
perantauan karena datangnya Jepang, antara lain: Jawa, Sumatera Timur, dan
tempat lain ketika itu. Semuanya berujuan mengisi waktu luang sekaligus
menyiapkan generasi muda lewat pendidikan. Sekolah SMA itu terletak di Padang
Balakka tidak jauh dari Tanah Lapang. Banyak anak-anak muda putus sekolah
ketika itu yang menggunakan kesempatan melanjutkan pelajaran ke SMA Republik,
termasuk anggota tentara pelajar yang se-dang tidak bertugas. Setelah
kemerdekaan, banyak dari lulusan sekolah Padang Balakka itu yang melanjutkan
pelajaran ke Jawa, memasuki berbagai perguruan tinggi, menekuni beragam bidang
ilmu, antara lain: teknik, kedokteran, hukum, dan lainnya; mengantarkan mereka
berkarir di berbagai bidang pemerintahan dan swasta.
Menjelang agresi militer Belanda kedua,
pemerintah NRI di Jakarta lalu membebastugaskan Mayjen Dr. Gindo Siregar dan
menggantikannya dengan Dr. F. Loemban Tobing, yang sekaligus merangkap Residen Tapanuli, untuk mengkonsolidasi
kekuatan melawan Belanda. Dalam meng-hadapi agresi militer Belanda kedua yang akan
menimbulkan banyak korban di daerah Republik, baik kota maupun desa, untuk selalu
menghadirkan pemerintah NRI yang berdaulat, maka Tapanuli Selatan lalu dibagi menjadi tiga Kabupaten,
masing-masing:
1. Kabupaten Padang Sidempuan,
dengan ibukota: Padang Sidempuan,
terdiri dari kewedanaan Padang
Sidempuan dan kewedanaan Sipirok.
2. Kabupaten Batang Gadis, dengan
ibukota: Panyabungan,
terdiri dari seluruh Mandailing, Ulu,
Pakantan dan Batang Natal.
3. Kabupaten Padang Lawas dan
Barumun, dengan ibukota: Gunung Tua,
terdiri dari
Padang Lawas dan Barumun.
Dengan demikian manakala sebuah Kabupaten jatuh
ke tangan Belanda, maka Kabupaten lain yang belum jatuh akan dengan sendirinya
menjadi pusat pemerintahan Republik di Tapanuli Se-latan.
Setelah mendapat gempuran bertubi-tubi dari laut,
Sibolga akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20 Desember 1948. Dengan
kejatuhan ibukota Tapanuli itu, pemerintah NRI me-mutuskan melebur seluruh lasykar
perjuangan yang ada di Tapanuli Selatan, dan menugaskan pasukan Republik
pimpinan Mayor Bejo menahan serbuan serdadu Belanda yang datang dari arah
Barat. Pada tanggal 28 Desember 1948, pasukan Belanda telah sampai di jembatan
Batang Toru, dan jembatan sepanjang hampir 100 meter itu telah terlebih dahulu
diruntuhkan pasukan Republik pimpinan Kadiran supaya tidak dapat digunakan pasukan
Belanda.
Guna menahan gerakan Belanda yang datang dari
arah Barat, tentara NRI dan para lasykar di-perintahkan melakukan taktik
bumi hangus. Dengan demikian, semua jembatan yang menuju ke ibukota Angkola
harus diruntuhkan, pohon-pohon yang berdiri di sepanjang jalan-raya ditum-bangkan
ke tengah jalan, jalan-raya yang rata dibuat berlubang-lubang dimana-mana agar
ken-daraan militer Belanda tidak dapat melaluinya, bangunan dan gedung berdiri
yang dapat digu-nakan Belanda sebagai markasnya dibakar atau diruntuhkan.
Seluruh langkah bumi hangus yang dilakukan
pasukan Republik saat itu, hanya melambatkan ge-rakan serdadu-serdadu Belanda
yang berpengalaman, lengkap dengan kendaraan dan persenja-taan, dan terlatih.
Mereka selalu mengungguli pasukan Republik di beragam front di daerah Ta-panuli
Selatan ketika itu. Maka pada tanggal 1 Januari 1949, serdadu-serdadu Belanda lalu
ma-suk ke Padang Sidempuan dari Barat dan mendapati ibukota Angkola itu habis
di bumi hangus dan ditinggalkan oleh warganya.
Pemerintah NRI Kabupaten Tapanuli Selatan
pimpinan Bupati: Sutan Doli Siregar, Patih: Ayub Sulaiman Loebis, dan Wedana:
Maraganti Siregar gelar Ompu Sahang, dan kepala persediaan makanan rakyat:
Kalisati Siregar, telah meninggalkan Padang Sidempuan menuju Sipirok untuk
melanjutkan perjalanan ke Panyabungan, ibukota Kabupaten Batang Gadis. Di
Kecamatan Si-pirok, perlawanan terhadap Belanda selain dilakukan pasukan Republik
pimpinan Mayor Bejo, juga oleh apa yang dinamakan AGS (Angkatan Gerilya
Sipirok) pimpinan Sahala Muda Pakp-han yang menjadi komandan dengan wakilnya
Maskud Siregar. Adapun angkatan akhir ini baru saja dilantik Wedana sekaligus
PPK (Pimpinan Pertahanan Kewedanaan) Sipirok tanggal 3 Ja-nuari 1949. Banyak
bekas para lasykar yang telah terpukul mundur dari Sumatera Timur dalam agresi
militer Belanda pertama direkrut menjadi anggota AGS, antara lain: bekas
pasukan Naga Terbang, bekas anak buah Kapten Koima Hasibuan, anggota kepolisian
Sipirok; semuanya hanya dipersenjatai senapan locok ketika itu.
Pada tanggal 5 Januari 1949 pasukan Republik
melancarkan serangan dari Sipirok kepada Belanda yang menduduki Padang
Sidempuan, dan berhsil memasuk kota. Akan tetapi balasan mortir yang
bertubi-tubi dihamburkan serdadu-serdadu Belanda bukan imbangan bagi pasukan Republik.
Yang akhir ini menyebabkan pasukan penyerang terpaksa mundur dan kembali
ke Sipirok membawa mereka yang gugur dan luka-luka. Pada tanggal 21 Januari
1949 kota Sipirok diserang serdadu-serdadu Belanda, dan pemerintah NRI di kota
itu terpaksa mengungsi ke Arse, dan markas AGS lalu dipindahkan ke Bukit
Maondang, 3 km dari Sipirok.
Pada tanggal 30 Januari 1949, Binanga Siregar,
selaku Wakil Residen Tapanuli berkunjung ke Bukit Maondang dan Arse di Tapanuli
Selatan untuk melihat dari dekat pertahanan Republik di garis depan. Keesokan
harinya Wakil Residen dan Wedana Sipirok berpidato dihadapan rakyat tentang isi
surat Residen Tapanuli ketika itu yang mengutip berita-berita yang disiarkan:
“All Indian Radio” dan “Radio Australia”, bahwa rakyat Indonesia lewat
diplomasi telah berhasil di PBB. Juga
tentang adanya penyerahan kedaulatan oleh pemerintah Belanda kepada Republik
Indonesia Serikat (RIS) yang berlangsung di Den Haag.
Pada tanggal 1 Februari 1949 Ayub Sulaiman Lubis
dan Kalisati Siregar berangkat ke Angkola Jae guna melanjutkan perjalanan ke
Mandailing. Keesokan harinya jalan yang sama dilalui juga oleh Binanga Siregar,
Sutan Doli Siregar, Sutan Hakim Harahap, dan Maraganti Siregar untuk
mengabarkan keberhasilan bangsa Indonesia di PBB di bidang diplomatik kepada
masyarakat pedalaman. Mengetahui
pemerintah NRI Tapanuli Selatan telah meninggalkan Sipirok, pada tanggal 17
Februari 1949 serdadu-serdadu Belanda meneruskan serangan ke Bunga Bondar,
kampung yang selama ini menjadi salah satu lumbung intelektual di Tanah Batak.
Pada tahun 1847, seratus tahun silam,
serdadu-serdadu Belanda datang ke Bunga Bondar untuk yang pertama kali, setelah
berhasil masuk ke Tanah Batak lewat Rao (Mandailing) dalam Perang Paderi. Pada
saat itu Belanda memperoleh perlawanan sengit dari Sutan Ulubalang yang menjadi
Raja Pamusuk di Bunga Bondar, yang lalu digantikan adiknya Sutan Doli. Belanda
memerlukan waktu 4 (empat) tahun lamanya berperang untuk mematahkan perlawanan Raja
marga Siregar di sarangnya. Banyak para penentang Belanda dari kampung itu lalu
dibuang meninggalkan Suma-tera ke pulau Jawa. Pada kedatangan Belanda yang
kedua kali, kampung itu telah ditinggalkan warganya, khususnya para pemuda untuk
pergi bergerilya, karena Belanda mengancam akan me-nembak mati setiap laki-laki
yang ditemui.
Pada tanggal 8 Mei 1949, serdadu-serdadu Belanda demhan
kendaraan lapis baja melanjutkan serangan ke Arse. Meski dalam setiap langkah
agresi yang dilakukan serdadu-serdadu Belanda pasukan Republik memperlihatkan
perlawanan, namun oleh timpangnya perimbangan kekuatan, seprti: persenjataan,
latihan dan pengalaman perang, mengakibatkan strategi mundur sambil bertahan
tidak dapat dielakkan, dan pemerintah NRI di Tapanuli Selatan lalu terpaksa
mengungsi meninggalkan Arse.
Perjuangan bangsa Indonesia dalam perang
kemerdekaan silam memang terdapat di dua front, masing-masing: front
diplomatik di dunia internasional lewat PBB, dan front medan laga di tanah-air, dan yang disebut terakhir terlemah
dari keduanya ketika itu. Dengan tewasnya pimpinan tertinggi KNIL Jenderal
Spoor di Tapanuli Selatan, orang-orang Belanda di tanah-airnya tampaknya tidak
menaruh banyak harapan lagi kepada kebijakan Politionele Actie yang diambil
Belanda guna menegakkan pemerintah Hindia Belanda baru bernama NICA usai Perang
Dunia ke-II di bekas tanah jajahan. Serangan serdadu-serdadu Belanda di
Tapanuli Selatan terpaksa terhenti di Arse, karena dari Panyabungan telah
datang khabar disampaikan utusan: Bupati Ba-tang Gadis Raja Junjungan Lubis,
Gubernur Militer Tapanuli: Kolonel Kawilarang, dan Koman-dan Territorial VII:
Ibrahim Adji yang mengatakan, bahwa perang melawan Belanda pada agresi militer (Politionele
Actie) kedua telah dimenangkan NRI di front diplomatik.
Sebagai akibatnya serangan serdadu-serdadu
Belanda terhadap wilayah-wilayah Republik di berbagai tempat di nusantara,
termasuk Tapanuli Selatan, harus dihentikan. PBB memerintahkan pemerintah Belanda
di Den Haag untuk mengembalikan semua wilayah Republik yang berhasil direbutnya
pada agresi militer pertama dan kedua. Dan untuk Keresidenan Sumatera Timur dan
Keresidenan Tapanuli di Sumatera Utara, serah terima akan diawali dari
Kewedanaan Sipirok di Tapanuli Selatan.
Pada
tanggal 17 Desember 1948, Indonesia dan Belanda bersepakat menandatangani
perjanjian Renville, lalu pada tanggal 23 Januari 1949 berlangsung konferensi
19 Negara Asia.di New Del-hi, India, yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya pada tanggal 14 April 1949, U-NCI (United Nation Commission on
Indonesia) yang menggantikan KTN (Komisi Tiga Negara) melakukan perundingan di
Jakarta/Batavia, dipimpin Mr. Muhammad Rum dari Indonesia, dan Dr.
van Royen dari Belanda, lalu persetujuan “Rum-Royen” disepakati pada tanggal 7
Mei 1949, yang mengantarkan Indonesia dan Belanda menuju ke “Ronde Tofel
Conferentie” (RTC) atau Konferensi Meja Bundar (KMB). Menjelang dilangsungkannya
KMB, dilakukan juga KAI (Konferensi Antar Indonesia) di Yogyakarta antara
tanggal 19-22 Juli 1949 , disusul di Jakarta antara tanggal 31 Juli sampai 2
Agustus 1949.
KAI dihadiri oleh NRI juga diikuti sejumlah Negara-negara
Bagian bentukan van Mook, dikenal dengan istilah BFO (Bijeenkomst voor Federaal
Overleg), terdiri dari: Negara Indonesia Timur (NIT 1946), Negara Sumatera
Timur (NST 1947), Negara Madura (NM 1948), Negara Pasundan (NP 1948), negara
Sumatera Selatan (NSS 1948), dan Negara Jawa Timur (NJT 1948). Konferensi Meja
Bundar (KMB) berlangsung dari tanggal 23 Agustus hingga 2 September 1949 di Den
Haag, Negeri Belanda. Adapun wakil delegasi NRI di KMB ialah: Drs. Mohammad
Hatta, sedangkan wakil delegasi BFO: Sultan Hamid, dan wakil pemerintah Belanda:
Maarseveen; se-mentara wakil-wakil PBB: Merle Cochran, Critchley dan Romanos.
Setelah penyerahan kedaulatan dilakukan Ratu
Belanda, maka mulai bulan Agustus hingga No-pember tahun 1949 berlangsung pula
serah terima bekas tanah jajahan Hindia Belanda dilapa-ngan, terkecuali Irian
Barat. Dengan demikian berdirilah RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berdaulat
di bekas tanah jajahan Hindia Belanda sejak saat bersearah dengan Kepala
Negara: Ir. Sukarno dan Perdana Menteri: Drs Mohammad Hatta. RIS adalah sebuah
Negara Federasi yang beranggotakan NRI dan BFO, didirikan tanggal 2 Desember
1949, hasil kesepakatan tiga fihak dalam KMB di Den Haag, masing-masing: Negara
Republik Indonesia (NRI), Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Kerajaan
Belanda, yang disaksikan United Nation Commission for Indonesia.
Lalu pada tanggal 30 Nopember 1949, berlangsung serah
terima Pemerintah Sipil Kewedanaan Sipirok dari pejabat Belanda: Kortoir selaku
PBA (Plaatselijk Bestuurs Adviseur atau Penasehat Pemerintah Setempat) Belanda
berkedudukan di Padang Sidempuan kepada: M. Diri Harahap se-laku Wedana NRI di
Sipirok yang disambut gembira warganya. Di bidang keamanan PBA me-nyerahkannya
pada Mayor Bedjo. Hadir pada serah terima pemerintahan dan keamanan itu
wakil KTN (Komisi Tiga Negara). Puluhan
ribu rakyat membanjiri halaman balai kota Sipirok menjadi saksi dan bersorak
gembira. Kortoir tidak lupa mengucapkan: “Hidup Republik Indonesia”, usai
penandatanganan dokumen yang bersejarah itu.
Ketika ayah dan ibu masih berdiam di rumah Ompung
Maimunah jalan Lubuk Raya no.2, Tanah Lapang, Padang Sidempuan, putri ibu kedua
terjangkit longonsteiking (radang paru-paru). Ketika itu masih belum ditemukan
obat yang dapat menyembuhkan penyakit putri ibu kedua, sehingga jiwanya tidak
dapat tertolong. Sejak saat itu, putri ayah ketiga beralih menjadi kedua. Dan di
Padang Sidempuan lahir pula anak ayah keempat, putri, si Taing, tanggal 27 Juli
1947, dan diberi nama si Fatmasari.
Di Padang Sidempuan ayah, sekeluarga pernah
tinggal di Aek Tampang serumah dengan Abdul Rachman Nasution, anak paman ayah
dari Muara Botung. Dan dirumah itu lahir anak paman itu tanggal 1 Juni 1948, putri, dan diberi nama si
Pulianna. Di Aek Tampang ayah juga bersebe-lahan rumah dengan keluarga Efendi
Siregar dari Huraba, Batang Toru. Setelah kemerdekaan, keluarga akhir ini lalu pindah
ke Jawa dan tinggal di jalan Martapura no.10 Menteng, Jakarta. Di ibukota
Angkola ini lahir lagi anak ayah tanggal 18 Juni 1949, kelima, putri, setelah
keluarga kembali tinggal di rumah Ompung Maimunah di Tanah Lapang, dan diberi
nama si Penta Riris. (Penta, artinya lima bahasa Yunani, dan Riris ialah
sesusun dalam bahasa Batak; jadilah ia sesusun kelima).
Perjuangan bangsa Indonesia saat itu memang
menyengsarakan kehidupan rakyat dari kota hingga desa. Blokade yang dilancarkan
Belanda terhadap NRI bertahun lamanya telah menghen-tikan eksport hasil bumi,
begitu pula import barang kebutuhan hidup di Tapanuli dari luar negeri, membuat
anak-anak bangsa tertinggal mengikuti perkembangan dunia di luar tanah tumpah
da-rahnya. Besar kemungkinan terpuruknya kehidupan bangsa ketika itu telah
mengantarkan anak-anak terlambat mengikuti pengalaman baru yang lebih maju.
Karena dua orang putri ayah telah masuk usia sekolah, maka yang sulung
disekolahkan ibu di SR (Sekolah Rakyat) Tanah Lapang, sedangkan adiknya mengikuti
TK (Taman Kanak-kanak) Kebon Kelapa, di Padang Sidempuan.
Terhitung tanggal 29 Nopember 1949, ayah diangkat
menjadi pejabat sipil Kantor Gubernur Militer Keresidenan Sumatera
Timur/Keresidenan Tapanuli berkedudukan di Padang Sidempuan. Kantor yang awalnya
dipimpin Mayor Jenderal Tituler Dr. Gindo Siregar itu, kemudian dipimpin Dr. F.
Lumban Tobing merangkap Residen Tapanuli berkedudukan di Sibolga. Ayah lalu ditunjuk
menjadi pejabat sipil pelaksana timbang terima Kehutanan Sumatera Timur/Kere-sidenan
Tapanuli dari pemerintah Belanda ke pemerintah Republik Indonesia Serikat.
Kabinet Hatta
Meski anak-anak negeri gagal menaklukkan Belanda
di medan laga, akan tetapi karena besarnya perhatian dan simpati dunia kepada
perjuangan Bangsa Indonesia, antara lain dari: Amerika Serikat, Inggris, India,
dan lainnya, membuat NRI berhasil menang dibidang diplomatik, lalu mengantarkan
bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan. Dan, tanah jajahan Hindia Belanda
Timur hasil kerja keras Jenderal van Heutz dengan serdadu-serdadunya silam, sejak
proklamasi 17 Agustus 1945, benar-benar beralih menjadi Republik Indonesia
Serikat (RIS) yang diakui dunia Internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kendati Uni-Sovyet (kini negara Rusia) ketika itu
bersuara abstain dalam pemungutan suara di PBB pada tanggal 28 Januari 1949, akibat
kegagalan pemberontakan PKI yang dilancarkan tang-gal 18 September 1948 di
Madiun, akan tetapi sebahagian besar suara dalam sidang Dewan Kea-manan ketika
itu memutuskan Belanda harus menyerahkan tanah jajahan Hindia Belanda kepada
RIS, terkecuali Irian Barat.
Kemenangan diplomatik Indonesia di PBB tidak
diragukan lagi juga akibat perlawanan bersen-jata yang ditunjukkan rakyat Indonesia
dengan: tentara, para lasykar, organisasi perjuangan, dan lain sebagainya di
medan laga dengan pengorbanan jiwa, raga, dan harta tidak sedikit jumlahnya,
melahirkan Konferensi Meja Bundar (KMB) di ibukota negeri Belanda: Den Haag.
Dalam RTC ditetapkan juga bahwa RIS harus memikul beban hutang pemerintah
Hindia Belanda yang jumlahnya 6,1 Milyar Gulden, terdiri dari 3 Milyar hutang
dalam negeri dan 3,1 Milyar hutang luar negeri. Pemerintah Belanda hanya
bersedia menanggung 500 juta Gulden, menyebabkan yang lain harus dibayar pemerintah
RIS.
Pada tanggal 30 Desember 1949 Ratu Yuliana,
selaku wakil pemerintah kerajaan Belanda, menyerahkan kedaulatan bekas tanah
Hindia Belanda kepada RIS (Republik Indonesia Serikat), dan diterima Drs. Mohammad
Hatta, tidak termasuk Irian Barat (Papua). Langkah berikutnya pe-merintah
kerajaan Belanda melaksanakan timbang terima oleh para wakil kerajaan Belanda
ke-pada para wakil pemerintah RIS berbagai jabatan di bekas tanah jajahan
Hindia Belanda dari pejabat Belanda ke
para pejabat NRI. Menurut Anak Agung Gede Agung, dipilihnya RIS bentuk negara
untuk menggantikan sifat sentralistis pemerintah kolonial Hindia Belanda yang
sangat kental saat itu, menimbulkan banyak ketegangan dalam pelaksanaan, agar berbagai
kesalahan yang muncul di waktu silam tidak lagi terterulang setelah Indonesia
merdeka.
Negara Republik Indonesia Serikat hasil
kesepakatan Indonesia-Belanda di Den Haag, dipimpin Perdana Menteri Drs
Mohammad Hatta. Kemudian Ir. Sukarno kembali ke Jakarta dari penga-singan-nya
di Yogyakarta untuk menjabat Presiden RIS. Adapun program kerja Kabinet
RIS pada saat itu ialah:
1. Peralihan kekuasaan oleh para
pejabat Belanda ke para pejabat RIS di lapangan.
2. Melaksanakan ketenteraman umum,
hak azazi manusia, demokrasi, dan kemerdekaan.
3. Pemilihan anggota konstituante.
4. Perbaikan ekonomi, keuangan,
perhubungan, perumahan, kesehatan, dan kemakmuran.
5. Meningkatkan pendidikan tinggi
dan pemberantasan buta huruf.
6. Menyelesaikan persengketaan
Irian Barat.
7. Melaksanakan politik luar
negeri, perdamaian dunia, dan kawasan Asia Tenggara.
Bersamaan lahirnya RIS, Pejabat Presiden Mr.
Assaat Datuk Mudo yang masih memerintah NRI bersama Perdana Menteri Dr. Halim,
menyebabkan bekas tanah Hindia Belanda dipimpin oleh dua buah Kabinet dengan
dua orang Presiden dan dua orang Perdana Menteri. Tidak lama setelah
serahterima kedaulatan di Den Haag berlangsung, lalu muncul berbagai
pemberontakan yang menentang NRI dan lahirnya RIS di tanah-air.
Pada awal bulan Agustus 1949 timbul pemberontakan
DI (Darul Islam) di Jawa Barat yang di-impin Sekar Maji Kartosuwiryo, yang kemudian
berubah menjadi DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), lalu menyebar ke
Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, serta A-ceh. Pemberontakan
berjalan 13 tahun lamanya itu berasal dari sebuah tempat kecil tidak jauh dari
Tasikmalaya, bermaksud untuk mendirikan Negara Islam di tanah-air.
Di Jawa Barat muncul pula pemberontakan APRA
(Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin Kapten Raymond Pierre Westerling
menolak berdirinya RIS lewat KMB di Den Haag. Wes-terling gagal sampai ke Jakarta
tanggal 22 Januari 1950 silam, akan tetapi berhasil masuk ke Bandung pada keesokan harinya.
Pada tanggal 5 April 1950 timbul pemberontakan
Andi Azis di Makassar. Lalau pada tanggal 25 April 1950 timbul pula
pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) pimpinan Dr. Soumokil di Ambon dan juga
menolak berdirinya RIS lewat KMB di Den Haag.
Di Kudus muncul pemberontakan Batalyon 426 meski
dapat cepat ditumpas. Akan tetapi sebagian darinya berhasil melarikan diri ke
Jawa Barat untuk bergabung dengan DI/TII. Adapun gangguan keamanan yang
ditimbulkan meluas sampai ke Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian Barat.
Pada bulan Agustus 1951 Letkol Abdulkahar Muzakar
merasa tidak puas dengan imbalan yang diterima, lalu memimpin pemberontakan
pasukan di Sulawesi Selatan. Tahun berikutnya ia lalu bergabung dengan Darul
Islam di Jawa Barat yang dipimpin S.M. Kartosuwiryo.
Pada tanggal 20 September 1953, saat PON ke III
sedang berlangsung di kota Medan, muncul pemberonakan di Aceh. Awalnya
Persatuan Ulama Seluruh Aceh, disingkat PUSA, pimpinan Daud Beureueh langsung
berfihak kepada Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus
1945, karena ia merasa terlibat dalam usaha besar anak bangsa yang gemilang,
lalu menyumbang kepada negara yang baru berdiri, antara lain maskapai “Indonesian
Airways” memanfaatkan pesawat Dakota buatan Amerika Serikat. Perusahaan penerbangan
Indonesian pertama ini saat itu beroperasi di Birma (Myanmar) guna mencari
valuta asing yang diperlukan perjuangan
melawan agresi militer Belanda. Akan tetapi Presiden Sukarno mengingkari janji
yang sangat mengecewakan PUSA, karena Aceh tidak mendapat status propinsi berikut
keistime-waan baginya, akan tetapi dimasukkan begitu saja kedalam Propinsi
Sumatera Utara. Pemberon-takan mengakibatkan hubungan militer Aceh dengan
Sumatera Utara lalu memburuk, dan meng-ganggu keamanan rehabilitasi
ladang-ladang minyak Langkat dan Pangkalan Brandan saat itu. Pemberontakan
DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat kemudian melebarkan kegiatan hingga merambah masuki tanah rencong.
Baru pada tahun 1962 beragam pemberontakan dapat
diberantas dengan operasi militer mene-rapkan pagar betis guna menangkap para
pemimpin masing-masing, mengadili dan menghukum mereka yang bersalah. Ternyata
tidak semua pemberontakan dapat diselesaikan lewat operasi mi-liter, karena pemberontakan
Daud Beureueh di Aceh ternyata diselesaikan dengan perundingan.
RIS tanpa Irian Barat yang baru berdiri ternyata
tidak bertahan lama. Dalam waktu empat bulan, satu persatu negara-negara bagian
BFO, ketika itu NRI masih dikepung Belanda, berguguran sa-tu persatu dan
menyisakan Negara Sumatera Timur (NST) dan Negara Indonesia Timur (NIT).
Setelah berlangsung perundingan berlarut-larut antara berbagai negara bagian
tergabung kedalam RIS dan NRI, akhirnya Mosi Integral Mohammad Natsir diterima
juga. Pada tanggal 16 Agustus 1950, RIS yang baru berusia antara: 20 Desember
1949 hingga 15 Agustus 1950, masih mempu-nyai ketergantungan pada Belanda oleh
Presiden Sukarno dibubarkan, dan mengatakan
Indone-sia menjadi NKRI (Negara kesatuan Republik Indonesia) yang
sentralistis, sebagaimana dalam zaman pemerintahan Hindia Belanda yang kolonial
silam, berlandaskan UUDS (Undang Undang Dasar Sementara) tahun 1950, dan
dibawah pemerintah sistim Demokrasi Parlementer.
Zaman
Demokrasi Parlementer
Tanjung Pinang
Usaha Belanda untuk menegakkan kembali pemerintah
Hindia Belanda baru bernama NICA pas-ca Perang Dunia ke-II ternyata menemui
kegagalan, karena Dewan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat, pada tahun
1949 memutuskan agar negeri Kincir Angin itu menyerahkan kedaulatan bekas tanah
jajahan Hindia Belanda kepada RIS; maka anak-anak pribumi berhasil memerdekakan
tanah tumpah darah dari penjajahan bangsa Belanda.
Tidak lama setelah penyerahan kedaulatan, maka terhitung
tanggal 1 Januari 1950, ayah diangkat menjadi Kepala Kehutanan Keresidenan
Tapanuli berkedudukan di Sibolga, lalu menjadi pelaksana serah terima
Kehutanan NRI dari pemerintah Hindia Belanda, lalu menjadi Kepala Kehutanan
NRI berpusat di Tanjung Pinang, kepulauan Riau. Ayah, ibu dan anak-anak berangkat
me-ninggalkan Padang Sidempuan untuk pindah ke Tanjung Pinang, ibukota
kepulauan Riau yang kemudian disingkat Kepri.
Perjalanan ayah sekeluarga menuju tempat bertugas
dari Padang Sidempuan ditempuh lewat jalan darat sampai Pekanbaru, kemudian
dilanjutkan naik kapal sungai menelusuri sungai Siak sampai ke muara. Dari
muara sungai Siak ayah sekeluarga dijemput kapal kehutanan untuk dian-tarkan ke
Tanjung Pinang yang terdapat di pulau Bintan dalam gugusan Kepri. Di tempat tinggal
yang baru, keluarga menemukan lingkungan hidup baru pula, dari yang serba darat
berubah menjadi seluruhnya air. Di
kepulauan Riau orang bepergian dengan kendaraan air, karena airlah yang menjadi
jalan-raya yang menghubungkan berbagai tempat di kawasan itu, sekaligus men-jadi
uratnadi perhubungan di Kepri.
Pada saat itu pejabat kehutanan Kepri mendapat
dua kapal motor dinas, masing-masing: Sem-pinur dan Mentangar bertanda lambung
BO58, untuk angkutan di kepulauan itu. Kedua kapal mengantarkan petugas
kehutanan meninjau keadaan hutan dalam lingkungan Kepri. Ayah kerap dalam dinas
mengunjungi pulau-pulau di kawasan Kepri dan menemukan hutan alam dari gugusan
kepulauan tersebut. Pada hari libur ayah mengizinkan anak-anak berkunjung ke sejumlah
pulau berdekatan, seperti: pulau Bintan,
pulau Penyengat, pulau Terkulai, pantai Pasir Putih.
Rumah dinas Kepala Kehutanan Kepri ketika itu terletak
di jalan Hang Tuah, Tanjung Pinang. Di jalan itu terdapat lima rumah dinas
sebaris, masing-masing ditempati: Bupati, Kepala Kehutanan, yah Bandar, Kepala
Polisi, dan Kantor Kehutanan. Kelima bangunan langsung menghadap selat Riau, dan
hanya dipisahkan oleh jalan Hang Tuah dari pantai dihadapan kelima
bangunan. Meski perumahan dinas terpencil dari pemukiman kebanyakan warga di
Tanjung Pinang ketika itu, akan tetapi terasa nyaman berdiam disana karena letaknya
yang tidak terlalu jauh.
Kendati perumahan dinas di Tanjung Pinang dibuat
seragam, akan tetapi terdapat juga keunikan bagunannya. Selain bangunan induk
dengan beberapa kamar terletak didepan, masih ada lagi se-jumlah bilik jauh di
belakang. Sebuah lorong panjang dibuat menghubungkan kedua bagian ba-ngunan pemukiman
itu. Tiga kamar belakang digunakan ibu untuk: dapur, kamar mandi, dan gu-dang.
Kamar lainnya diberikan ayah kepada kerabat dan kenalan yang saat itu
membutuhkan tempat tinggal di Tanjung Pinang.
Masyarakat di Tanjung Pinang umumnya Kepri berbeda
dari mereka yang berdiam di Riau daratan. Kebanyakan warga di Kepri adalah
keturunan Tionghoa yang telah tinggal disana ber-bilang generasi. Selain dari
itu hampir semuanya pemakai berdialek Kanton, salah satu rumpun bahasa Cina.
Orang-orang Tionghoa yang berdiam di Tanjung Pinang merayakan hari Tai Pei
Kong. Aneka sesaji dan persembahan pada para dewa dapat ditemukan dalam
kelenteng-kelenteng pada hari perayaan keagamaan. Ada pula kebiasaan
masyarakat Tanjung Pinang ketika itu untuk menempatkan pangan saji di bawah
pohon rindang pada hari tertentu setiap tahun.
Pedagang Tionghoa disapa apek (paman), kerap
mendatangi perumahan menawarkan beragam kebutuhan hidup sehari-hari yang dapat
dilunasi pada akhir bulan. Juga amoy-amoy (gadis Tionghoa) dari pemukiman
Pelantar Goyang datang menawarkan jasa, seperti: pembantu rumah, mencuci
pakaian, menyeterika, dan lainnya; dikerjakan dengan amat bersungguh-sungguh.
Kehi-dupan masyarakat Tionghoa di Tanjung Pinang ketika itu bersahaja, dan tempat
tinggal mereka juga sederhana sekali.
Dengan tidak disangka-sangka, pada tanggal 19
Maret 1950 terjadi sanering (penyehatan) mata uang Rupiah pertama setelah
Indonesia merdeka. Pemerintah RIS ketika itu melakukan pengguntingan mata uang
Rupiah yang sedang beredar. Setiap uang kertas pecahan Rp.5,- keatas, dipotong
dengan gunting menjadi dua bagian. Bagian kiri mata uang dapat dibelanjakan dengan
jumlah 50% dari angka tertulis, adapun bagian kanan tidak dapat dibelanjakan, akan
tetapi harus dikembalikan kepada pemerintah lewat Bank, menjadi pinjaman
obligasi (wajib) negara kepada rakyat yang akan dikembalikan kelak.
Langkah moneter drastis yang diambil pemerintah
ini dinamakan orang “gunting Sjafruddin”, karena diperintahkan Mr. Sjafruddin
Prawiranegara yang saat itu menjabat Menteri Keuangan Kabinet RIS yang dipimpin Perdana Menteri Drs.
Mohammad Hatta. Devaluasi Rupiah pertama ini langsung menggelisahkan rakyat,
karena kualitas hidup mereka jadi merosot, terutama mereka yang
berpenghasilan tetap, karena pendapatan para pekerja yang menghidupi
keluarga tinggal separoh dari pendapatan
sebelumnya.
Selama berdiam di Tanjung Pinang, ayah sekeluarga
menggunakan libur tahunan melawat ke semenanjung Tanah Malaya, kini Malaysia,
untuk berjumpa uak Abdul Rani Nasution. Uak ini adalah saudara kandung
diatas ayah, sejak zaman Hindia Belanda telah merantau ke Tanah Me-layu.
Awalnya uak merntau untuk mengikuti pendidikan di English School di Ipoh. Ia
kemudian melanjutkan pelajaran ke Junior Cambridge School di Perak. Usai
pendidikan, uak bekerja pada Custom Excise Office (Kantor Pabean) di Grik. Lalu
pindah ke Parit Buntar, dari sana ke Bagan Serai, dan terakhir di Butterworth,
di negara bagian Pulau Pinang. Setelah pensiun, uak kembali ke Perak dan menetap di Pusing, tidak jauh
dari Ipoh, dan tinggal disana sampai akhir hayatnya.
Sejak merantau ke Malaya, uak tidak pernah pulang
menjenguk kampung halaman di Muara Botung, Mandailing. Anak-anak uak kini
seluruhnya menjadi Warga Negara Malaysia (WNM), dan mereka telah berkali-kali
pulang ke kampung halaman di Muara Botung, untuk mewakili orang tua mereka.
Mereka juga melaksanakan kunjungan silaturrahmi kepada ayah dan ibu di Bogor,
dan kaum kerabat yang tinggal di Jakarta.
Pada kesempatan berkunjung ke negeri jiran lain,
ayah sekeluarga berkunjung pula ke Mak Lung (Mak Sulung) Fatimah, kakak ompung Maimunah
dari Sialagundi. Maklung berdiam di Singa-pura, ketika itu kota ini masih
bagian dari tanah jajahan Inggris di semenanjung tanah Melayu. Kini, seluruh
keturunanya telah menjadi Warga Negara Singapura (WNS). Mereka kerap meng-gunakan
kesempatan berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengan ayah dan ibu di Bogor,
dan kerabat lain di Jakarta.
Dengan kepindahan ayah ke Tanjung Pinang, putri
sulung ayah meneruskan pelajaran ke Sekolah Rakyat di jalan Bukit ibukota Kepri
dan duduk di kelas II, sedangkan adiknya mulai masuk TK. Selama sekeluarga
berdiam di Tanjung Pinang, datang bergabung dari kampung tulang Gulbachri
(biasa disapa tulang Uncok) dari Padang Sidempuan untuk melanjutkan pe-lajaran
ke SMP. Juga datang melanjutkan pelajaran ke SMP di Tanjung Pinang abang
Lukman, anak Uak Sutan Batara Parlaungan dari Muara Botung.
Pada tahun 1951 tulang Soritaon Harahap menikah dengan
Roslina Lubis. Ayah sebagai anakboru marga Harahap dari Pargarutan Gunung
Manaon berangkat dari Tanjung Pinang me-nuju Padang Sidempuan untuk menhadiri.
Boru Kuria Tambangan yang rupawan dari Mandai-ling rupanya pantas mendampingi
tulang Soritaon sebagai nantulang. Di Tanjung Pinang, di ibukota Kabupaten
Kepri ini, lahir anak ibu keenam, putri, tanggal 2 Mei 1951, si Adek, dan di-namakan
si Nurhayati.
Kurang lebih dua tahun lamanya ayah bertugas di
Tanjung Pinang, maka pada tahun 1952 turun surat tugas yang menugaskan ayah
mengikuti Akademi Kehutanan di Bogor. Tugas belajar kedinasan berlangsung
antara tahun 1952 hingga 1954. Selama mengikuti pendidikan di Akademi
Kehutanan, ayah mendapat rumah dinas di Bosbouw Complex (Komplek Kehutanan), di
jalan Pasir Kuda, Gunung Batu, Bogor. Adapun para peserta angkatan pertama
Akademi Kehutanan Bogor bersama ayah ketika itu, ialah:
1. Partomoean Rakoen Lubis
19.
Ko Giok In2. Ardiwinata 20. Somadikarta
3. 21. Ardikoesoema
4. 22. Djoeber
5. Poespowardojo 23. Soedarsono
6. Nizar Kamil 24. Salim
7. Herinomo 25. Soemitro
8. 26. Jap Kong Djoen
9. 27. Mardikoen Tardan
10. Soetomo 28. Soejono
11. Soetopo 29. Soedarmo
12. Goeltom 30. Goenari
13. Karsoedjono 31. Banjaran Sari
14. Soekiman 32. Kadaroesman
15. Priono 33. Harjono
16. David Manoepoeti 34. Walman Sinaga
17. Hasan Basjaroedin Nasoetion 35. Anda Gandahidajat
18. Moehamad Wijs 36. Bonjol Siregar
Selaim para mahasiswa Akademi Kehutanan Bogor
angkatan perama, di Bosbouw Complex juga berdiam ktika itu pengurus asrama SKMA
dijabat ibunda Ny. Fadil, dan Bapak Abdul Rachman yang menjadi kepala SKMA.
Pada tahun kepindahan ayah mengkuti Akademi
Kehutanan di Bogor, timbul peristiwa 17 Ok-tober 1952 di Jakarta, dan para
demonstran ketika itu menuntut Presiden Soekarno membubarkan Parlemen. Berawal
dari rencana mengirim Kepala Staf Angkatan Darat Kolonel A.H. Nasution belajar
ke luar negeri, seorang perwira PETA (Pembela Tanah Air) yang dekat dengan
Istana mengirim surat kepada Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Pertahanan,
tentang ketidak perca-yaan kepada Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), khususnya
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ketika itu. Perwira itu kemudian
diberhentikan, karena telah melangkahi hierarki ten-tara. Merasa tidak puas, ia
melapor ke Parlemen, atau Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS), dan
pertikaian politik antara Angkatan Perang dan Parlemen pun berlangsung.
Lalu tanggal 17 Oktober 1952 Letkol Kemal Idris
mengarahkan empat meriam Howitzer ke-depan Istana di jalan Merdeka Utara, dan
sejumlah tank ke gedung Parlemen di Pejambon, Jakarta Pusat. Ribuan preman dan
jagoan dari: Pulogadung, Pasar Minggu, Kebayoran-Ciputat, Cileduk-Tangerang,
dan Tanjung Priok diangkut kendaraan militer diterjunkan di Stadion Ikada dan
Lapangan Banteng. Mereka lalu menyerbu gedung Parlemen di seberang Lapangan
Banteng, menjungkirbalikkan kursi-kursi, memecahkan jendela kaca, dan menuntut
dibubarkannya Parle-men. Kobra (Komando Organisasi Barisan Rakyat) pimpinan
Kol. Dr. Mustopo yang tersohor saat itu juga turut ambil bagian mengepung
ibukota.
Peristiwa ini agaknya juga dilatarbelakangi upaya
Kabinet yang didukung Parlemen melaksana-kan demobilisasi milier setelah
kemerdekaan. Para pejuang yang merasa ikut mempertahankan negara dengan jiwa
dan raga terancam disingkirkan. Dilibatkannya penasehat militer Belanda un-tuk
membentuk pasukan yang kecil tetapi profesional tidak disukai oleh mantan para
lasykar menimbulkan keretakan dalam tubuh militer. Masuknya anasir kiri dalam
angkatan bersenjata ketika itu turut memicu kecemasan kalangan militer yang
tidak menginginkannya.
Sepekan setelah perdebatan di Parlemen, di
Teritorium V/Brawijaya berlangsung pengambilali-han pimpinan dari kelompok
anti-peristiwa 17 Oktober terhadap kelompok pro-peristiwa 17 Ok-tober di
Jakarta. Begitu pula di Teritorium VII Sulawesi Selatan, dan Teritorium II
Sumatera Se-latan. Perpecahan berlanjut antara kubu yang kontra dengan kubu
yang pro dalam tubuh Angka-tan Perang. Kudeta tanggal 3 Desember 1952 yang
gagal menyebabkan Perdana Menteri Ali Sas-troamidjojo untuk kedua
memberhentikan KSAD Kolonel A.H. Nasution dan menggantikannya dengan Bambang
Sugeng. Dan, tanggal 13 Maret 1957 malam, Perdana Menteri Ali Sastroa-midjojo
dan wakilnya Idhan Chalid lalu mengundurkan diri, dan mengembalikan mandat
kepada Presiden Sukarno.
Keamanan di dalam negeri memburuk dengan munculnya
pemberontakan di daerah-daerah, me-maksa Presiden Sukarno dan Perdana Mentari
demisioner Ali Sastroamidjojo untuk kedua me-ngeluarkan Surat Keputusan Bersama
(SKB) tanggal 14 Maret 1957, lalu mengumumkan SOB (Staat van Oorlog en Beleg
atau Keadaan Darurat Perang) di seluruh Indonesia. Dengan diberla-kukannya SOB,
Sistim Demokrasi Parlementer yang liberal lalu disingkirkan, dan digantikan de-ngan
Sistim Demokrasi Terpimpin yang menjadi keinginan pemerintah. Sejak dari saat
itu Ang-katan Perang, khususnya Angkatan Darat menjadi sangat berkuasa di seluruh
nusantara.
Dengan kepindahan ayah dari Tanjung Pinang ke Bogor,
anak-anak harus meneruskan sekolah mereka. Anak sulung diterima belajar di
Regina Pacis, sebuah Perguruan Katolik yang terletak di jalan Ir. Haji Djuanda
tidak jauh dari Kebun Raya, dan duduk di kelas IV SR, sedangkan adiknya dierima
duduk di kelas I perguruan yang sama. Karena para mahasiswa Akademi Kehutanan
semuanya tinggal di Bosbouw Complex, maka anak-anak mereka dapat berangkat ke
sekolah de-ngan berjalan kaki bersama dari tempat kediaman di Gunung Batu,
begitu juga saat kembali pulang ke rumah masing-masing.
Perguruan Katolik saat itu masih memisahkan anak
perempuan dari anak laki-laki. Anak-anak perempuan bersekolah di perguruan
Regina Pacis, sedangkan anak laki-laki belajar di perguruan Santo Yosef di
komplek Bruderan di jalan Kapten Muslihat. Anak-anak ayah ketiga dan keempat
masih bersekolah di TK Kutilang dalam Bosbouw Complex. Turut pindah ke Bogor,
abang Lukman yang melanjutkan ke SMP Santo Yosef perguruan Katolik Bogor.
Kurang lebih satu setengah tahun setelah ayah
pindah ke Bogor, hasil pemeriksaan Klinik dokter Hans tidak jauh dari Kebon
Raya, menemukan ibu menderia flek di paru-paru. Karena itu ibu harus menjalani
perawatan enam bulan tinggal di rumah sakit. Satu-satunya rumah sakit yang
dapat dirujuk untuk memulihkan kesehatan ibu saat itu ialah CBZ (Central
Batavia Ziekenhuis) Jakarta, kini bernama RSCM (Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo). Menjelang ibu masuk rumah sakit, namboru Huta Padang iboto ayah
dari Muara Botung perlu didatangkan ke Bogor untuk mengurus anak-anak yang
masih kecil di rumah. Karena perawatan ibu memerlukan waktu yang panjang, guna
memudahkan pengurusan diputuskan membiarkan anak-anak yang bersekolah te-tap
bersama ayah di Bogor, sedangkan tiga orang yang belum bersekolah dikirim
dahulu ke Me-dan untuk tinggal dengan bujing di kota itu.
Adapun bujing ini ialah adik kandung ibu bernama
Chadidjah Harahap, ketika itu menjadi guru SMP di kota tanah Deli itu. Ia mendiami
rumah tulang Soritaon Harahap yang terletak di jalan jalan Iskandarmuda (Sungai
Ular) no.91 di ibukota Sumatera Utara saat itu. Ompung Sidimpuan (Ompung
Maimunah) kerap berkunjung ke Medan dari Padang Sidempuan untuk
bertemu bujing dan cucu-cucunya yang tengah
berdiam di rumah tulang Soritaon Harahap di kota Medan ketika itu.
Setelah menyelesaikan Akademi Kehutanan di Bogor,
ayah tidak lagi kembali ke Tanjung Pi-nang, akan tetapi terhitung tanggal 1
September 1954 dipindahkan ke Pematang Siantar menjadi Kepala Brigade Planologi
Kehutanan di ibukota Kabupaten Simalungun. Hingga dengan saat ayah
menyelesaikan Akademi Kehutanan di Bogor, kesehatan ibu belum kembali pulih sepe-nuhnya,
dan masih harus menjalani masa perawatan lebih lanjut. Karena itu, ibu masih
belum di-perkenankan bergabung dengan keluarga di Pematang Siantar, lalu melanjutkan
sisa masa pemu-lihan kesehatan di Rumah Sakit Perkebunan Tanjung Morawa tiga
bulan berikutnya.
Saat ayah sekeluarga dipindahkan ke Pematang
Siantar dari Bogor, bou Mariam sekeluarga telah berada di Medan. Rupanya
namboru ini menikah dengan Oom Soepardi dari Kutoardjo yang saat itu bekerja di
kantor pos Semarang. Dari sana mereka pindah ke Makassar kemudian Medan. Di
kota besar tanah Deli itu mereka tinggal di jalan Cokroaminoto no… , dan itulah
sebabnya mengapa namboru ini mendapat nama: “bou Cokro”. Dalam masyarakat
Batak, baik yang berdiam di Bona Bulu maupun yang berada di perantauan,
penyebutan nama kecil orang yang sudah tua, atau lebih dahulu generasinya dari
si pembicara, dipantangkan orang. Sebagai gantinya digu-nakan nama jalan tempatnya
berdiam, untuk menghormatinya.
Adapun anak-anak Bou Mariam dengan Om Soepardi ini ialah: Santoso (si Tos) dan Miriam (si Mieke).
Adapun anak-anak Bou Mariam dengan Om Soepardi ini ialah: Santoso (si Tos) dan Miriam (si Mieke).
Selama berdiam di Pematang Siantar, ayah dan ibu
mendapat banyak kesempatan pulang ke
Muara Botung untuk bertemu Ompung Haji Abdul Gani, gelar Raja Mulia, dan
bersilaturrahmi dengan kaum kerabat lain di kampung. Pada tahun 1955, ayah dan ibu,
serta anak-anak mera-yakan Idul Fitri, 1 Syawal 1376 H, di Muara Botung. Lalu
tahun 1957, ayah sekeluarga kembali merayakan Hari Raya 1 Syawal 1378 H di Muara
Botung. Dari Medan turut bergabung uda Pa-nusunan dengan keluarganya meramaikan
Hari Raya Idul Fitri di Muara Botung bersama
Om-pung Raja Mulia.
Sejak pertengahan dasawarsa 1950, hubungan
Indonesia dengan Amerika Serikat dan sekutunya menjadi renggang. Dua faktor
yang menyebabkan keadaan ini: pertama, sikap Amerika Serikat yang semakin
agresif membendung penyebaran Komunisme di kawasan Asia Tenggara, lalu pada
tanggal 8 September 1954 mendirikan SETO (South East Asia Treaty Organization)
berpusat di Manila, Filipina, beranggotakan: Thailand, Pakistan, Inggris,
Perancis, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru; kedua, sikap Indonesia
yang tidak mau berpihak kepada salah satu kubu, dan tetap ingin berada dalam
Non-Blok, meski Perang Dingin telah menjalar ke kawasan Asia Tenggara.
Selama ayah sekeluarga berdiam di ibukota
kabupaten Simalungun tujuh tahun lamanya, dari 1954 hingga 1961, pemerintahan
Sistim Demokrasi Parlementer yang liberal yang mengatur ne-gara memerlihatkan ketidak
stabilannya, dan ini ditandai oleh jatuh bangunnya kabinet yang memerintah.
Setelah Indonesia meninggalkan RIS lalu berganti menjadi NKRI dengan Sistim
Demokrasi Parlementer, Perdana Menteri kemudian dipercayakan kepada Mohammad
Natsir da-ri partai Masyumi.
Pada bulan pertama pemerintahannya, Indonesia
diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang ke 60. Lalu muncul
Perang Korea yang mendatangkan rezeki tak terduga (windfall profit) kepada
Indonesia karena pendapatan eksport yang meningkat hingga tahun 1951. Perdana
Menteri Natsir berpegang teguh kepada konstitusi dalam pemerintahannya, dan
menganggap Kepala Negara hanya lambang, dan ini tidak menyenangkan Presiden
Sukarno. Yang akhir ini menilai Natsir lebih menaruh perhatian pada ekonomi
ketimbang kedaulatan NKRI atas Irian Bara (Papua). Sebagai akibatnya Mohammad
Natsir akhirnya terjungkal bulan September 1950 karena tidak mempunyai basis pendukung
ekonomi yang kuat di Parlemen, juga politik retorika yang melandanya di
luar ketika itu.
Natsir kemudian digantikan Sukirman Wirosandjojo
(April 1951-Feb.1952), lalu Wilopo (April 1952-Juni 1953). Kabinet Sistim
Demokrasi Parlementer yang liberal lalu silih berganti. Pada bulan Juli 1953
Ali Sastroamidjojo dari PNI diangkat menjadi Perdana Menteri memimpin ka-binetnya
yang pertama. Karena Masyumi, Partai Sosialis, dan partai-partai lainnya
memilih men-jadi oposisi ketika itu, PNI yang berkuasa meminta bantuan PKI.
Dalam pidatonya yang mem-pesona publik tanggal 9 Nopember 1954 di Palembang,
Kepala Negara tidak memperlihatkan si-kap netral terhadap semua partai. Ia menunjukkan
dengan jelas keberpihakan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo dari PNI, dan
berkampanye mendukung salah satu partai menjelang diselengga-rakannya pemilu.
Pada tanggal 28 April 1954, lima orang Perdana
Menteri, masing-masing: Indonesia, India, Pa-kistan, Birma (Myanmar), dan
Srilangka, melangsungkan Konferensi Colombo di Srilangka (Ce-ylon) membicarakan
perdamaian dunia. Lalu pada tanggal 29 Desember 1954, kelima Negara peserta Konferensi
Colombo ini melakukan pula pertemuan Bogor. Dalam konferensi akhir ini dibahas juga
persiapan Afro-Asian Conference (Konferensi Asia-Afrika) gagasan Sir John Kote-lawala
dari Srilangka.
Pada tanggal 18 hingga 24 April 1954 berlangsung
Konferensi Asia-Afrika di kota Bandung, Indonesia. Konferensi yang dihadiri 25
negara Asia dan Afrika kekuatan Non-Blok ini, ternyata dihadiri oleh sejumlah
utusan negara Blok Timur, antara lain: Vietnam Utara dan RRT.
Kabinet Ali Sastroamidjojo pertama kemudian tumbang
bulan Juli 1955, dan digantikan Kabinet Burhanuddin Harahap dari Masyumi.
Kabinet ini dilantik tanggal 12 Agustus 1955 dan mela-kukan Pemilihan Umum
(Pemilu) yang pertama setelah Indonesia merdeka. Pemilu yang bertuju-an memilih
anggota Konstituante (Dewan Pembentuk Undang-Undang Dasar) berlangsung tang-gal
29 September 1955 ini sebelumnya telah dipersiapkan Kabinet Ali Sastroamidjojo.
PKI, meski telah melaksanakan pemberontakan Madiun tujuh tahun silam, tenyata berhasil
mendu-duki tempat keempat dalam pengumpulan suara, setelah partai-partai:
Masyumi, NU, dan PNI.
Keberhasilan PNI dan PKI menghimpun suara dalam
pemilu saat itu tidak diragukan lagi dise-babkan keberpihakan Kepala Negara
pada keduanya. Untuk menangani permasalahan internal Angkatan Darat, maka pada
tanggal 7 Nopember 1955, Presiden Sukarno melantik kembali Ko-lonel A.H.
Nasution menjadi KSAD lalu menaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal. De-ngan
hubungan Indonesia dengan Blok-Barat yang semakin renggang, Perdana Menteri
Burha-nuddin Harahap lalu membatalkan semua isi perjanjian KMB yang membidani
berdirinya RIS, untuk membersihkan semua unsur yang berbau hubungan
Indonesia-Belanda, guna mewujudkan perjuangan pembebasan Irian Barat yang lebih
independen.
Pada tanggal 20 Agustus 1955 Kabinet Burhanuddin
Harahap mengusulkan Rancangan Undang-Undang Darurat Anti-Korupsi (RUUDAK).
“Banyak orang yang kaya mendadak harus membuktikan bahwa dirinya tidak
korupsi”, demikian ucapan Burhanuddin yang dikutip Harian Indonesia Raya ketika
itu. Menteri kehakiman yang dijabat Lukman Wiriadinata juga menimpali, bahwa rancangan
undang-undang ini akan menganut pembuktian terbalik dan berlaku surut. Ditambahkannya
pula, bahwa Pengadilan Khusus Anti-korupsi akan dibentuk di: Jakarta, Surabaya,
Medan, dan Makassar. Akan tetapi sayang, RUUDAK usulan Kabinet ini ditolak oleh
Presiden Sukarno. Kabinet Burhanuddin Harahap pun kemudian tumbang dan terpaksa
mengembalikan mandat pada tanggal 24 Maret 1956.
Ali Sastroamidjojo lalu kembali diangkat menjadi
Perdana Menteri untuk kedua kalinya bulan Maret 1956. Akan tetapi Kabinet ini pun
tidak dapat bertahan lama, dan harus mengembalikan mandat pada bulan Maret
1957. Keenam Kabinet sistim Demokrasi Parlementer yang liberal ternyata hanya dapat
bertahan tidak lebih dari 6 (enam) tahun.
Untuk mengatasi vakum kekuasaan, pada tanggal 9
April 1957 Presiden Sukarno menunjuk seorang politikus bukan dari partai: Ir.
Djuanda Kartawidjaja menjadi Perdana Menteri, yang menyebabkan timbulnya protes
masyarakat. Sejakan “budaya trias politika” yang berlku ketika itu, Presiden hanyalah
menunjuk seorang formatur untuk menyusun Kabinet, dan bukan menun-juk dirinya
sendiri. Ini merupakan perbuatan inkonstitusional yang telah diambil
Kepala Negara dalam Sistim Demokrasi Parlementer yang berlaku ketika itu, dan
akan membuat preseden buruk di tanah-air. Akan tetapi Kepala Negara meneruskan perbuatannya
dan menamakan “Kabinet Karya” pada pemerintah bentukannya. Adapun menteri-menteri
dihimpun dari para wakil berbagai golongan karya di tanah-air. Selain dari itu, kedalam Kabinet dimasukkan pula
tiga orang perwira militer aktif untuk memimpin beberapa departemen.
Pada tanggal 10 Nopember 1956, di Bandung
berlangsung Sidang Dewan Konstituante untuk menyusun Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia (UUDRI) menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS)
tahun 1950 yang sedang digunakan. Dengan diterapkannya Sistim Pers Terpimpin (SPT)
oleh Kabinet Djuanda, maka sampai akhir tahun 1957 telah dilaksanakan 125 tindakan terhadap pers
di tanah-air, tahun berikutnya 95, dan selanjutnya 73; sejalan dengan ketentuan
larangan berpolitik yang diberlakukan pemerintah saat itu untuk mengebiri
aktifitas partai-partai politik di tanah-air. Dewan Konstituante lalu mendapatkan
lonceng kematian.
Dalam sidang perdebatan Dewan Konstituante
tanggal 2 Juni 1959 tentang UUDRI, baru tidak berhasil dicapai kata sepakat tentang
Piagam Jakarta. Kubu Islam terdiri dari: Masyumi, NU, PSII, dan partai
berazaskan Islam lainnya menghendaki dicantumkannya kalimat: ”.… dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Akan tetapi kubu
Pancasila terdiri dari: PNI, PKI, Murba, Partindo, dan Partai Katolik,
menolaknya. Usul yang disampaikan Kabinet Djuanda Kartawidjaja dalam sidang untuk:
“kembali ke UUD 1945” juga ditolak sidang. Walau demikian, Sidang Dewan
Konstituante berhasil menyusun: bentuk negara, sistim pemerin-tahan, sistim
perwakilan, hak azasi manusia, dan dasar Negara Republik Indonesia.
Pada tanggal 19 Februari 1959, Presiden Sukarno
mengusulkan: “Kabinet kaki empat” berangkat dari perolehan suara pemilu agar
terbentuk pemerintah yang stabil. Akan tetapi usul Kepala Ne-gara itu ditolak para
pimpinan partai: Masyumi, NU, PNI, dan PKI. Lalu pada bulan Oktober 1959,
Brigjen A. H. Nasution meresmikan istilah baru di lingkungan Angkatan Darat.
Kata “Te-ritorium” diganti dengan “Komando Daerah Militer”, disingkat
“Kodam” dan dipimpin oleh seorang “Panglima Kodam”, disingkat “Pangdam”. Dengan
demikian ke 7 (tujuh) Teritorium terdapat
dalam lingkungan Angkatan Darat diresmikan tanggal 20 Juli 1950, lalu diubah
dan ditingkatkan menjadi 16 (enam belas) Kodam yang akan terdapat di setiap
Propinsi. Selain dari itu dalam tiap Propinsi akan terdapat: “Komando Resort
Militer”, disingkat “Korem” untuk tiap Keresidenan; “Komando Daerah Militer”,
disingkat “Kodim”untuk tiap Kabupaten; “Komando Rayon Militer”, disingkat
“Koramil” untuk tiap Kecamatan; Bintara Pembina Desa”, disingkat “Babinsa”
untuk tiap Desa atau Kampung; seluruhnya menjadi bagian Doktrin Perang Wilayah
Republik Indonesia. Setiap jenjang lingkungan Angkatan Darat akan tergabung kedalam
“Mu-syawarah Pimpinan Daerah”, disingkat “Muspida”, bersama Pemerintah,
Kejaksaan, Kepolisian, yang terdapat dari masing-masing daerah.
Memerahnya warna perpolitikan tanah-air tampak
sejak PKI menduduki posisi keempat dalam pemilihan umum, yang memberi peluang
kepada aliran kiri mengembangkan pengaruhnya. Simpati pada kaum kiri juga
datang dari Presiden Sukarno yang mengaku sebagai seorang “revo-lusioner”, dan
mengemukakan dalam bukunya: “Dibawah Bendera Revolusi”, yang disusun Cin-dy
Adams tentang hukum revolusi: ”pukul musuh kamu, bunuh atau dibunuh; penjarakan
atau dipenjarakan”. Hukum revolusi itu juga turut mencoraki kepemimpinannya.
Ajaran Sosialisme dan Komunisme masuk ke
nusantara dibawa orang Belanda dan anak-anak bangsa yang belajar di Eropa, dan
tiba di tanah-air masih dalam zaman Hindia Belanda. Henk Sneevliet, seorang
Marxist Belanda, datang ke Hindia Belanda untuk mencari pekerjaan, awalnya
tinggal di Semarang. Orang kelahiran Rotterdam turut mendirikan ISDV (Indische
Sociaal-Democratische Vereinigung, atau Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia)
tahun 1914, beranggotakan warga Belanda dan putra Pribumi, yang antikapitalis
dan menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang kolonial dan berkuasa saat
itu.
Adapun yang disebut kaum buruh di tanah Hindia
Belanda ketika itu ialah mereka yang terga-bung kedalam Serikat-serikat
Sekerja: Staat Spoor Bond (Serikat Sekerja Kereta Api), Post Bond (Serikat Sekerja
Pos), Cultuur Bond (Serikat Sekerja Budaya), Suiker Bond (Serikat Sekerja
Gula), Vereniging van Spoor en Tram Personeel (Persatuan Pegawai Kereta Api dan
Trem), lain sejenisnya, terbentuk masih dalam dasawarsa pertama abad ke-20.
ISDV lalu berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia). Pada tahun 1920
Sneevliet menjadi utusan Hindia Belanda ke kongres kedua Komunis Internasional
(Komintern) di Moskow. Semaun dan Darsono serta ka-wan-kawannya, awalnya adalah
anggota Serikat Dagang Islam (SDI) berdiri tahun 1911 di ibukota Jawa Tengah
itu, lalu oleh pengaruh Sneevliet keduanya meninggalkan SDI dan berga-bung dengan
PKI tahun 1920.
Partai berhaluan Marxis Leninis di Hindia Belanda
ketika itu sedang tergoda keberhasilan rekan-nya di ibukota Kekaisaran Rusia
Petrograd tahun 1917 silam, dan menirukan tatacara kaum Bol-shevik merebut
kekuasaan. Maka pada tanggal 13 Nopember 1926, PKI melakukan pemberon-takan melawan
pemerintah Hindia Belanda di Batavia, namun gagal. Pada tanggal 18 September
1948, dibawah pimpinan Muso, PKI mencoba mendirikan Negara Sovyet Sosialis
Indonesia (NSSI) yang menelan banyak korban di Madiun, juga kembali gagal.
Setelah diberlakukan lara-ngan terhadap kegiatan partai ini, Tan Malaka kemudian
mendirikan Partai Murba untuk mengisi kekosongan partai beraliran kiri pasca
pemberontakan Madiun.
Marxisme ialah sebuah pandangan hidup “historis dialektik
materialisme” yang diperkenalkan Karl
Marx (1818-1883), orang Jerman pengikut G.W.F. Hegel. Menurut pendapat Marx,
Kapita-lisme akan runtuh dengan sendirinya dan berubah menjadi Sosialisme oleh
berbagai kontradiksi terdapat
didalamnya. Di pertengahan abad ke-19 silam, saat industri mulai berkembang di
Eropa, hanya segelintir orang yang memiliki kapital atau modal (Kaum
Kapitalis); sebaliknya sebagian besar masyarakat ketika itu hanya pekerja (Kaum
Buruh) yang tidak mempunyai apa-apa ter- kecuali dirinya. Pertentangan
kepentingan antara Kaum Borjuis, nama lain untuk Kaum Kapitalis yang hidup
berkelebihan, dengan Kaum Proletar, nama lain Kaum Buruh yang serba kekurangan
di masyarakat saat itu tidak dapat dihindarkan, melahirkan dalam benak Karl Marx
sebuah pan-dangan (theori) pertentangan kelas yang tersohor itu. Masih ada theori
lain berkembang dari pandangan ini, antara lain: teori nilai lebih dan lain
sebagainya, hingga dengan ajaran moral kaum sosialis dan komunis.
Setelah Karl Marx meninggal di Inggris,
pengikutnya lalu terpecah dua, masing-masing: kaum Revisionisme Sosialis E.
Bernstein, dan kaum Marxisme Ortodox K. Kautsky. Kelompok per-tama berkembang
di Jerman dan meninggalkan ajaran revolusi sosial, lalu mencari cara-cara da-mai
untuk memperbaiki nasib kaum buruh lewat reformasi. Akan tetapi kelompok
kedua yang hijrah ke Rusia pimpinan Vladimir Ilich Uliyanov Lenin, menumbangkan
Kekaisaran Ramanov di negeri itu dari bulan Februari 1905 hingga Oktober 1917 dengan revolusi
sosial yang meng-gerakkan kaum
buruh, mendirikan Kaum Bolshevik yang berpandangan Marxisme Leninisme.
Pasca Perang Dunia ke-II, di Asia Timur, Kung
Chang Tang (Cina Marxis) pimpinan Mao Tze Tung pada tahun 1949 berhasil
mengusir Kuo Min Tang (Cina Nasionalis) pimpinan Chang Kai Sek dari daratan
Cina yang luas itu, lalu mendirikan RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Awalnya
partai Komunis Cina dipimpin Li Li San yang beraliran Marxisme Leninisme
sebagaimana re-kannya kaum Bolshevik di Rusia. Akan tetapi Mao Tse Tung yang ketika
itu sedang terasing di pedalaman, lalul menggerakkan kaum tani dan melaksanakan
“long marsh” menjuju ke Beijing, lalu menyingkirkan Li Li San dengan para
pengikut kaum Bolshevik dari negeri itu. Mao Tze Tung kemudian memodifikasi
ajaran Marx dengan revolusi yang digerakkan kaum tani dan men-dirikan
Negara Sosialis Cina (NSC) beraliran Marxisme-Maoisme.
Muncul dengan demikian dua raksasa Marxis dengan
latar belakang revolusi berbeda di muka bumi ketika itu, masig-masing: Uni
Sovyet dengan tirai besinya, dan RRC dengan tirai bam-bunya;
keduanya memisahkan diri dari masyarakat dunia lain di muka bumi. Dengan jumlah
penduduk melampau satu milyar, mendiami lahan yang begitu luas di muka bumi,
kedua raksasa Marxis ini menimbulkan ketakutan besar bagi umat manusia,
khususnya yang berpandangan: li-beral, demokratis, religius, dan lain sebagainya;
termasuk masyarakat yang bermukim di Asia Tenggara, mulai darat hingga dengan gugusan
kepulauannya.
Pada tahun 1950 Amerika Serikat melontarkan
theori domino di kawasan ini. Menurut ajaran ini, satu persatu negara-negara di
Asia Tenggara yang bertetangga dengan kedua raksasa komunis akan jatuh ke
pangkuan mereka seperti robohnya deretan kartu domino. Lalu dilontarkan juga
theori leap frog (katak lompat) yang mengatakan, bahwa ajaran Marxis tidak
hanya menular ke negara tetangga, tetapi juga dapat melompat langsung ke
Indonesia. Umat beragama di tanah-air yang sebagian besar beragama Islam, sudah
tentu tidak senang melihat kenyataan yang ada di bagian bumi ini. Begitu juga
Amerika Serikat, ketika itu dipimpin Presiden Eisenhower dengan Menteri Luar
Negeri John Foster Dulles, dan sekutu Perang Dunia ke-II negara Paman Sam
silam.
Dunia kemudian terpolarisasi kedalam dua ajaran
kemasyarakatan besar yang tidak mudah untuk didamaikan, yang semakin meruncing
dalam perjalanan waktu, yakni: aliran “Liberal/Kapitalis dan demokratis Blok
Barat” dengan aliran “Sosialis/Komunis totaliter dari Blok Timur”. Dunia kemudian
terjerumus kedalam Perang Dingin (Cold War) setelah Perang Dunia ke-II; artinya
meski perseteruan antara Blok Barat dan Blok Timur terus meningkat dan semakin
panas me-nelusuri waktu, akan tetapi masing-masing fihak masih dapat menahan
diri untuk tidak menggu-nakan senjata yang dapat memicu Perang Dunia ke-III.
Pada tahun 1950 Korea Utara pimpinan Kim Il Sung menyerang
Korea Selatan pimpinan Syng-man Rhee di semenanjung Korea. Uni-Sovyet dan China
dari Blok-Timur membantu Korea Uta-ra, sedangkan Amerika Serikat dan sekutu
perangnya dari Blok-Barat membantu Korea Selatan. Perang dingin lalu
berubah menjadi perang panas di tanah semenanjung itu, mengerahkan per-senjataan
mutakhir setiap blok, sekaligus menguji keampuhan teknologi persenjataan yang diku-asai
untuk menaklukkan lawan. Perang Korea berlangsung 3 tahun, merenggut tidak
kurang dari 2 juta orang, kerugian harta benda yang tak terhitung jumlahnya
hingga dicapainya persetujuan gencatan senjata, menyebabkan semenanjung Korea
itu terbagi dua pada lintang 38° Utara sampai saat ini.
Munculnya Perang Korea menyebabkan Amerika
Serikat dengan sekutunya membangun Ling-kar Pertahanan Timur, meliputi: Amerika
Serikat, kepulauan Aleutina di Utara Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, termasuk
Filipina untuk membendung penyebaran Komunisme. Di belahan bumi Selatan diwujudkan
pula untuk tujuan yang sama perjanjian antara: Australia, New Zea-land, dan
United States, disingkat ANZUS, dengan Amerika Serikat berikut dua sekutunya di
A-sia Tenggara, yakni: Thailand dan Persekutuan Tanah Melayu.
Pada tanggal 16 September 1963, lahir negara
federasi “Persekutuan Tanah Melayu”, di bekas tanah jajahan Inggris yang berstatus
protektorat, terdiri dari: semenanjung Malaya, Sarawak, Sabah, Brunei, dan
Singapura. Pada tanggal 31 Agustus 1957 berdiri Kerajaan Malaysia di bekas
protektorat Inggris tadi terdiri dari: semenanjung Malaya, Sarawak, Sabah, dan
Singapura; setelah gagasan berdirinya negara federasi itu mendapat persetujuan
Inggris tanggal 9 Juli 1963. Negara Federasi yang memperoleh kemerdekaan secara
damai dari Inggris dipimpin oleh seorang Raja, bergelar: Yang Dipertuan Agung:
Sultan…….. dengan Perdana Menteri Tunku Abdul Rachman Putra Al-Haj.
Indonesia dipimpin Presiden Sukarno ketika itu menganggap
Kerajaan Malaysia berdiri tidak melalui revolusi rakyat adalah boneka Inggris
dan Amerika di Asia Tenggara, lalu pada tanggal 17 September 1963 memutuskan
hubungan diplomatik dengan negeri jiran itu. Dalam konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) Manila berlangsung tanggal 31 Juli hingga Agustus 1963, Presiden Sukar-no
menuntut agar dilakukan plebisit untuk mengetahui keinginan rakyat Kalimantan
Utara yang sebenarnya. Akan tetapi tim dipimpin Michelmore dari Amerika Serikat
yang dilantik Sekretaris Jenderal PBB: U Thant dari Birma (Myanmar), rupanya
tidak memuaskan Indonesia saat itu. Maka tahun berikutnya Presiden Sukarno
mencanangkan konfrontasi Dwikora terhadap Malaysia, bertujuan ganda:
memperhebat ketahanan revolusi bangsa Indonesia, dan membantu perjua-ngan
revolusioner rakyat di Malaya, Singapura, Sabah, Sarawak dan Brunei. Kerajaan
Malaysia ketika itu terdiri dari 13 negara bagian, sembilan diantaranya
dipimpin para Sultan, dengan cepat membangun ekonomi untuk mensejahterakan
kehidupan rakyatnya.
Pada tanggal 9 Agustus 1965, dengan tidak
disangka-sangka pulau Singapura dengan rakyatnya dikeluarkan dari Kerajaan Malaysia.
Sejak saat itu, pulau kecil itu berubah menjadi Negara Si-ngapura yang
berdaulat dan dipimpin Presiden ………dengan Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Negara
kecil itu juga dengan cepat membangun perekonomian negeri itu guna
mensejahterakan kehidupan rakyatnya.
Dalam era 1950-an, telah tampak jelas dua corak
kepemimpinan yang tampil di Indonesia. Perta-ma, kepemimpinan
administratif (pragmatic minded), dilakukan orang-orang yang mempunyai keahlian
dalam beragam bidang, antara lain: hukum, pemerintahan, ekonomi, managemen, pembangunan,
dan lain sebagainya, tidak terkecuali kecakapan bahasa asing. Kelompok ini
menitik-beratkan pada pembangunan sosial dan ekonomi menyimak keadaan bangsa
Indonesia saat itu, dan dapat menerima kedatangan tenaga dan modal asing guna
mewujudkannya. Kedua, kepe-mimpinan massa (solidarity maker) yaitu
orang-orang yang pandai menghimpun massa lalu membakar semangat orang banyak.
Selain membakar semangat, mereka juga pandai menebar janji dan harapan muluk
akan hari depan bangsa, meski samasekali tidak tahu bagaimana cara merealisasikannya.
Yang akhir ini juga terampil mencari kambing hitam, andaikata kelak diba-wah
kepemimpinan mereka berbagai janji dan harapan yang telah dilontarkan tidak
menjadi ke-nyataan yang mensejahterakan kehidupan rakyat.
Kepemimpinan pertama melahirkan: kaum
teknokrat yang berfikir cerdas dan pragmatis bertu-juan mensejahterakan
kehidupan rakyat, akan tetapi kepemimpinan kedua memunculkan kaum demagog,
yakni kaum orator penyulut emosi penuh janji yang hanya membodohi rakyat. Oleh
luapan emosi kemerdekaan yang terus menerus dikobarkan sepanjang sepanjang era
1950-an, ke-pemimpinan pertama dikalahkan oleh kepemimpinan kedua, membuat semua
kebijakan politik industri yang berpihak pada penanaman modal asing di
tanah-air dengan pesyaratan ditetapkan, tidak mendapat dukungan Presiden
Sukarno, menimbulkan sentimen anti-modal asing berlebi-han di Indonesia ketika
itu. Lebih dari 160 perusahaan milik Belanda di Indonesia termasuk ru-mah,
tanah, perusahaan, dan lainnya kemudian dinasionalisasi pemerintah dengan pengawasan
diserahkan begitu saja kepada militer.
Lalu lahirlah kumpulan orang bersenjata menamakan
diri “lasykar minyak” di sejumlah ladang minyak tanah-air. Mereka termasuk
bekas pekerja lapangan dan kilang minyak zaman Hindia Belanda silam. Pada tahun
1956 ladang minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Sumatera Utara: Langkat
dan Pangkalan Brandan berganti nama jadi Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU),
lalu jadi P.T. Eksploitasi Tambang Minyak Sumatera Utara (ETMSU), kemudian P.T. Permina (Perusahaan Minyak Nasional),
akhirnya tanggal 20 Agustus 1968 menjadi P.T. Pertamina (Pertambangan Minyak
Nasional). Di Sumatera Selatan, ladang BPM juga diganti menjadi Perusahaan
Minyak Republik Indonesia (PERMIRI), di Jawa Tengah ladang minyak Nederlandsche
Indische Aardolie (NIAM) berubah jadi Tambang Minyak Nasional (PTMN). Namun euforia
nasionalisasi tambang minyak saat itu terpaksa berakhir buntung, karena
orang-orang pribumi yang menguasai ladang-ladang ini tidak mempunyai keahlian
yang diperlukan un-tuk melola tambang bermodal besar. Prokontra kemudian
mencuat antara kubu yang propengembalian perusahaan minyak kepada Belanda sejalan
perjanjian KMB, dengan kubu yang menolak dan tetap menghendaki nasionalisasi.
Belanda kemudian bersedia membagi kepemilikan
perusahaan minyak kepada Indonesia dan mengutamakan tenaga kerja lokal. Akan
tetapi pada tahun 1955 Belanda mengganti nama ladang minyak Nederlansche
Koloniale Petroleum Mij (NKPM) di Sumatera Selatan termasuk kilang Sungai
Gerong menjadi Stanvac Petroleum milik Amerika Serikat. Begitu pula ladang
minyak Nederlansche Pacific Petroleum Mij (NPPM) Riau menjadi Caltex Pacific,
dan ladang minyak BPM di Sumatera Selatan dan kilang Pelaju menjadi Shell
Petroleum. Dengan demikian ketiga perusahaan minyak Belanda itu mendapat
perlindungan hukum Amerika Serikat, salah satu bidan KMB yang melahirkan RIS
menjelang penyerahan kedaulatan. Ketiga perusahaan minyak Belanda yang
dilindungi hukum Amerika Serikat itu lalu berkembang menjadi raksasa-raksasa
minyak dunia meninggalkan P.T. Pertamina jauh dibelakang.
Koninkleijke Paketvaart Maatschapeij (KPM),
perusahaan pelayaran Belanda lalu direbut kaum buruh Marhaen untuk
dinasionalisasikan menjadi PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia). Akan tetapi
keadaan perusahaan setelah dinasionalisasi juga tidak jauh berbeda dari nasib P.T.
Pertamina.
Ketika Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memimpin
kabinet yang pertama tahun 1954, Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan
Uni-Sovyet. Negara yang dalam bahasa Rusia diberi singkatan CCCP artinya SSSR
(Soyuz Sovietskih Sotsialisticheskih Respublik) ini, bersu-ara abstain dalam
pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB tanggal 28 Januari 1949, menje-lang
dilangsungkannya RTC (KMB) di Den Haag, ibukota negeri Belanda. Langkah yang
diambil Indonesia ini mebuat Amerika Serikat dan sekutunya berpaling dari
Indonesia, lalu men-dukung berbagai gerakan yang memperjuangkan otonomi daerah di
nusantara.
Tanggal 19 Maret 1956 Mr. Assaat Datuk Mudo
menyampaikan pidato dalam Kongres Importir Nasional di Surabaya. Ia mengatakan
bahhwa: “Orang-orang Cina telah menjadi golongan eks-klusif yang menentang masuknya
orang-orang lain….terutama di bidang ekonomi. Mereka begitu eksklusif sehingga
dalam praktek lalu bertindak monopolistis…”. Pidato yang menimbul-kan sentimen
anti-perusahaan asing lainnya, berujung dikeluarkannya Peraturan Pemerintah
(PP) 10 tahun 1959 oleh Departemen Perdagangan. Langkah yang ketika itu
dinamakan: “Gerakan Assaat”, atau Pribumisasi, mendapat sambutan luas di
seluruh penjuru tanah-air, terlebih lagi di pulau-pulau: Jawa, Sumatera, Lombok,
dan Sulawesi.
Peraturan yang berakibat dikeluarkannya larangan kepada
orang-orang asing melakukan perda-gangan eceran mulai kabupaten kebawah. Mereka
juga diharuskan mengalihkan perdagangan e-ceran kepada orang-orang Indonesia
asli. Yang dimaksud deengan orang asing dalam PP 10 ini ialah orang-orang
Tionghoa, karena lebih dari 90% pedagang kecil yang terdaftar di kantor Departemen
Perdagangan saat itu ialah pedagang Cina. Terhitung tanggal 1 Januari 1960,
para pe-dagang ini harus sudah menutup perdagangan eceran mereka.
Peraturan dilaksanakan dengan mengerahkan
kekuatan militer menyebabkan masyarakat Cina dan keturunannya di tanah-air harus
hengkang dari Indonesia dan pulang ke tanah leluhur. Pemerintah RRT (Republik
Rakyar Tiongkok) kemudian mengutus kapal laut untuk menjemput ratusan ribu
orang Hoakiau yang akan meninggalkan tanah-air untuk kembali ke tanah asalnya.
Banyak dari mereka yang telah lahir dan dibesarkan di berbagai tempat nusantara
terlanjur pu-lang ke Cina, kemudian kecewa karena setibanya disana mereka tidak
memperoleh yang mereka harapkan sebelumnya, dan ingin kembali lagi ke
Indonesia.
Pada tanggal 20 Juli 1956 Dr. Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan
Wakil Presiden RI. Surat Khabar PKI, Harian Rakyat, menurunkan tanggapan dalam
pojok beritanya sebuah tuli-san: “Dwi Tunggal, tanggal tunggal tinggal
tunggal”.
Pada tanggal 19 Nopember 1956, tujuh orang delegasi
Teritorium Korps Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) melaksanakan reuni
perwira TNI AD di Bandung, yang menampilkan suasana Angkatan Darat yang telah terpecah
kedalam sejumlah kubu. Dalam reuni itu, banyak perwira yang memperlihatkan
ketidak senangan melihat ketimpangan ekonomi pusat dan daerah, defisit anggaran
belanja negara, inflasi menerobos angka 33%, dan daya beli Rupiah yang se-makin
melemah. Keretakan dalam tubuh AD periode 1956-1957 melahirkan polarisasi keku-asaan
antara pusat dan daerah. Diangkatnya Mayor Jenderal A.H.Nasution kembali
memimpin Angkatan Darat oleh Presiden setelah lebih dahulu diberhentikan, tidak
mendapa dukungan para perwira sebagaimana pada peristiwa 17 Oktober 1952 lalu,
karena dianggap tidak berhasil mem-perbaiki kesejahteraan para perajurit yang
menghuni tangsi-tangsi kumuh. Bahkan ia mengutus pasukan untuk menangkap para
panglima melakukan barter dan smokkel (penyeludupan) guna memperbaiki nasib
prajurit ketika itu.
Lima hari pasca reuni, sekelompok opsir telah
berkumpul di Padang. Letnan Kolonel Ventje Sumual harus terbang ke Singapura, dan
dengan speedboat ke Pakanbaru untuk bergabung. Ia disambut Kolonel Maludin
Simbolon, Letnan Kolonel Ahmad Husein, Muhammad Natsir, Su-mitro
Djojohadikusumo; tiba di Sungai Dareh, di perbatasan Sumatera Barat dengan
Jambi tang-gal 10 Desember 1957. Bergabung juga Syafruddin Prawiranegara dan
Burhanuddin Harahap. Dewan Perjuangan kemudian dibentuk tanggal 10 Januari
1958. CIA dari Amerika Serikat dan Singapura kemudian mengirim paket senjata
lewat air menuju ke Padang.
Dewan Perjuangan lalu menyiapkan Piagam
Perjuangan, dan menuntut Kabinet Ir. Haji Djuanda di Ibukaota dibubarkan dalam
waktu 5 x 24 jam. Dewan menuduh Presiden Sukarno telah bertindak
inkonstitutional menunjuk dirinya sebagai formatur Kabinet, kemudian memecat:
Kol. Maludin Simbolon dan Let. Kol. Ahmad Husein dari jabatan mereka. Dewan
Perjuangan selan-jutnya membentuk: Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI) sebagai pemerintah tandingan, dangan kabinet dipimpin Perdana Menteri
Syafruddin Prawiranegara, dan panglima Herman Nicholas Ventje Sumual.
Lahir egan demikian Dewan Banteng pimpinan Letnan
Kolonel Ahmad Husein, Komandan Resi-men Sumatera Tengah, di Teritorium I/Bukit
Barisan. Dewan-dewan lain lalu bermunculan mewakili Teritorium masing-masing,
seperti: Dewan Garuda di Sumatera Selatan pimpinan Kol. Barlian, Dewan Gajah di
Sumatera Utara, Dewan Hasanuddin di Sulawesi Selatan, Dewan Man-guni di
Sulawesi Utara, Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan, guna menyatukan perjua-ngan
daerah-daerah bergolak dari Sumatera hingga Sulawesi. Mereka lalu mengambil
alih biro-kasi pemerintah pusat di daerah masing-masing yang tidak lagi dapat
mengatasi keadaan.
Pada tanggal 2 Maret 1957, di Kantor Gubernur
Makassar, Sulawesi Selatan, H.N. Ventje Sumual selaku Panglima PRRI
memproklamirkan berdirinya Permesta (Perjuangan Semesta) yang anti-komunis bertujuan membangun daerah dengan
otonomi luas untuk kesejahteraan rak-yat. Ia mengumumkan keadaan darurat
perang, dan menyerukan kepada semua daerah otonomi untuk mempercepat
pembangunan. Piagam proklamasi kemudian ditandatangani 52 orang tokoh-tokoh
sipil dan militer saat itu. Lalu di Bukit Tinggi, pada tanggal 15 Februari 1958
dikuman-dangkan berdirinya pemerintah PRRI berhaluan anti-komunis, dengan
desentralisasi, berotonomi luas dipimpin Kolonel Maludin Simbolon. Pemerintah
PRRI bertujuan mensejahterakan kehidu-pan rakyat di nusantara yang telah begitu
lama terlantar sejak revolusi tahun 1945 silam.
Pemberontakan daerah-daerah terhadap pemerintah
pusat di Jakarta, selain dipicu ketidak puasan terhadap Kabinet Ali
Sastroamidjojo yang sentralistis dan mementingkan pulau Jawa ketimbang
pulau-pulau nusantara lainnya ketika itu, juga sikap pemerintah pusat yang
membiarkan rakyat di daerah-daerah berpotensi ekonomi baik tetap miskin.
Minimnya anggaran pembangunan yang dialokasikan peerintah pusat kepada berbagai
daerah menyebabkan yang akhir ini melegalkan peraktek-peraktek barter dan
penyeludupan. Selain dari itu, juga ketidak senangan daerah-daerah kepada PKI
yang semakin berhasil mendekati pusat kekuasaan di Ibukota.
Ketegangan antara pusat dan daerah diwarnai lagi kian
mengerasnya tuntutan kaum regionalis (penguasa daerah) terhadap kaum sentralis
(penguasa pusat), lalu mengajukan tuntutan sebagai-mana yang tercantum dalam
Piagam Palembang tanggal 7 - 8 September 1957. Dalam pertemuan yang dihadiri
oleh Maludin Simbolon, Ahmad Husein, Zulkifli Lubis, Barlian, dan Ventje Su-mual,
dilancarkan pula tuntutan: 1. Dikembalikannya dwitunggal Sukarno-Hatta, dan
mengang-kat Hatta kembali menjadi Perdana Menteri. 2. Menurunkan KSAD A.H.
Nasution dan para staf-nya diganti. 3 Perkembangan kaum komunis harus dibatasi
dengan undang-undang. 4. Pemben-tukan Komando daerah Sumatera berpusat di
Padang. 5. Menjalin hubungan politik-ekonomi yang lebih erat dengan Permesta.
Pada tanggal 30 Nopember 1957 malam, muncul usaha
pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di jalan Cikini Raya 74/76 Jakarta, ketika
menghadiri pertemuan orangtua Sekolah Dasar yang menimbulkan banyak korban anak sekolah, akan tetapi
gagal. Ketegangan yang semakin merun-cing antara pusat dan daerah ketika itu
menyebaban Perdana Menteri Ir. H. Djuanda turun tangan untuk menengahi
perbedaan, namun tidak membawa hasil.
Perang saudara antara pusat dan daerah di
tanah-air ketika itu tidak lagi dapat dihindarkan. Pada tanggal 17 April 1958
pusat mengirim angkatan perang ke pantai Barat pulau Sumatera, lalu me-nyerang Padang dari laut dan udara, lalu
berhasil menduduki kota itu. Lalu ada tanggal 4 Mei, masih pada tahun yang
sama, pasukan pusat memasuki Bukit Tinggi, ibukota PRRI, menyebabkan para
pemimpinnya melarikan diri ke hutan untuk bergerilya. Terdapat 30.000 orang
anggota pasukan yang gugur sampai dengan PRRI ditaklukkan. Sejumlah pemimpin
daerah berasil ditangkap, tidak sedikit pula yang menyerahkan diri, kemudian memperoleh
amnesti dan abolisi.
Pada tahun 1958, atas perintah Jaksa Agung, lima
orang anggota Dewan Konstituante dari partai Masyumi ditahan karena mengeritik konsep
Demokrasi Terpimpin yang diperkenalkan Presiden Sukarno. Menurut pendapat
mereka Demokrasi Terpimpin hanya akan menjadi langkah Kepala Negara menuju
pemerintahan diktator. Perintah ini mengawali senjakala penegakan hukum di
Indonesia, karena Jaksa Agung telah berubah sikap dari independen menjadi alat
pemerintah yang berkuasa.
Dewan Nasional, disingkat Denas, lalu dibentuk dan
dipimpin secara kolektif oleh Presiden Sukarno dengan Ruslan Abdulgani yang ketika
itu menjabat Menteri Penerangan. Denas diran-cang untuk mengimbangi Dewan
Kontituante, dan para anggotanya ialah keempat kepala staf angkatan bersenjata
ditabah para wakil golongan fungsionaris dan utusan daerah. Denas lantas
berubah menjadi “Golongan Karya” untuk menandingi Dewan Konstituante. Pada
tanggal 5 Juli 1959 Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit untuk membubarkan
Dewan Konstituante. Indonesia lalu kembali ke UUD 1945 dan era zaman Demokrasi
Parlementer pun berakhir di tanah-air.
Pada tanggal 4 Oktober 1957, umat manusia
dikejutkan keberhasilan Uni-Sovyet (Rusia) melun-curkan sebuah satelit ke
angkasa bernama “Sputnik I”. Benda angkasa pertama bikinan manusia itu berhasil
mengalahkan medan gravitasi bumi, dan mengorbit bumi pada ketinggian 480 km.
Satelit ini melaju dengan kecepatan 7,5 km per detik dan menyiarkan
isyarat-radio nada pendek.
Perang Dingin antara Blok-Barat dan Blok-Timur memasuki
usaha Amerika Serikat dengan se-kutunya membendung penyebaran ajaran komunis ke
seluruh penjuru dunia. Di Eropa: Jerman Timur, Polandia, Cekoslovakia (kini
Ceko dan Slovakia), Rumania, dan negara-negara Baltik (Estonia, Latvia,
Lituania) yang dibebaskan Uni-Sovyet dari cengkraman Nazi Jerman pada Pe-rang
Dunia ke-II, dengan sendirinya menjadi anggota Blok-Timur dipimpin Uni-Sovyet.
Diluar negara-negara yang disebutkan diatas, dengan sendirinya menjadi sekutu
Amerika Serikat, ka-rena telah bekerjasama dengan negara Paman Sam dalam Perang
Dunia ke-II silam, menjadi jaja-ran benteng anti-komunisme di belahan bumi
Barat tergabung dalam persekutuan NATO (North Atlantic Treaty Organization),
sekaligus perisai penyebaran komunisme di belahan bumi itu. A-dapun yang
menjadi sekutu negara Paman Sam di kawasan laut tengah ialah: Turki dan Yunani.
Gagasan parameter pertahanan Asia Tenggara juga
tidak lupa dibangun. Pada tahun 1956 Viet-nam Utara (Tonkin) dengan ibukota
Hanoi dipimpin Ho Chi-Minh giat mendukung gerilyawan Vietcong sekitar Annam
(Cochin Cina) menyusup ke Vietnam Selatan yang beribukota Saigon. Hal ini menyebabkan
Vietnam Utara berseteru dengan Vietnam Selatan dipimpin Ngo Dinh Di-em. Awalnya
kedua negeri ini tidak ubahnya semenanjung Korea, terbelah di lintang 17° Utara
sesuai kesepakatan Geneva. Akan tetapi setelah 19 tahun berperang, Vietnam
Utara akhirnya berhasil menaklukkan Vietnam Selatan dan masuk ke Saigon.
Pasukan Vietnam Utara mengusir serdadu-serdadu Amerika Serikat pimpinan Presiden
Nixon dengan angkat kaki memalukan meninggalkan negeri itu. Republik Sosislis
Vietnam (RSV) lalu diproklamirkan tahun 1976, terdiri dari Vietnam Utara dan
Vietnam Selatan dengan ibukota Hanoi. Seiring kejatuhan Vietnam Selatan, menurut
teori domino, Laos akan jatuh ke pangkuan aliran Marxis. Keberhasilan Vietnam
Utara memembebaskan Vietnam Selatan, menyebabkan negeri Paman Ho lalu latah dan
menyerang kerajaan Kamboja, membuat tanah Khmer bertekuk lutut kepada Vietnam
tahun 1979, dan menjadikannya negara boneka.
Pada tahun 1972, Ne Win memproklamirkan Myanmar
(Birma) menjadi Republik Sosialis Uni Birma (RSUB) dibawah kepemimpinanya,
setelah terlebih dahulu mengkudeta (coup d’état) pe-merintah yang dipimpin
Perdana Menteri U Nu. Negeri Pagoda yang awalnya menerapkan sistim Demokrasi Parlementer lalu beralih menjadi
negara otoriter yang dipimpin militer berkepanja-ngan. Negara-negara di kawasan
Asia Tenggara yang belum jatuh ke pangkuan aliran Marxis ketika, baik aliran
Marxis-Leninis model Uni-Sovyet maupun aliran Marxis-Maois model RRT di kawasan
itu menurut theori domino tinggal hanya: Thailand dan Malaysia. Adapun
Singapura ketika itu masih menjadi bagian dari Malaysia.
Zaman Demokrasi Terpimpin
Sejak dekrit 5 Juli 1959 dikumandangkan di
Jakarta untuk kembali ke UUD 45 oleh Presiden Su-karno, Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) kemudian berpindah dari Sistim Demokrasi Parlementer
(SDP) menjadi Sistim Demokrasi Terpimpin (SDT). Istilah lain kerap yang
juga di-gunakan Kepala Negara ialah:
Guided Democracy System (GDS). Adapun maksud kembali ke UUD 45 menurut Presiden
Sukarno, ialah untuk melenyapkan sifat liberal ajaran Demokrasi Ba-rat yang
telah mewrnai pemerintahan ketika itu yang oleh Kepala Negara dianggap bertentangan
dengan azas "permusyawaratan untuk mufakat" yang terkandung dalam
ideologi Pancasila dan "kepribadian bangsa" Indonesia.
Dalam Sistim Demokrasi Terpimpin,
"Presiden" adalah juga "Perdana Menteri" sekaligus men-jadi
"Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia" dan
"Pemimpin Besar Revo-lusi Bangsa Indonesia", menyebabkan semua
kekuasaan yang ada dalam negara menjdi terpusat pada satu ditangan, yakni di
tangan Kepala Negara.
Kabinet Kerja I
Pemerintah Sistim Demokrasi Terpimpin pertama kemudian
diberi nama: Kabinet Kerja I, me-mulai pemerintahannya dari tanggal 10
Juli 1959 hingga 18 Februari 1960, juga bercorak Presi-densial. Kekuasaan
negara ada di tangan Kepala Negara: Presiden Sukarno. Adapun program kerja
kabinet Sistim Demokrasi Terpimpin ini ialah:
1. Menyediakan
sandang dan pangan untuk rakyat dalam waktu sesingkat-singkatnya,
2.
Menyelenggarakan keamanan rakyat dan desa, serta
3. Melanjutkan perjuangan
menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik.
Dalam kongres pemuda bulan Februari 1960 yang
berlangsung di kota Bandung, Kepala Negara menyampaikan sebuah orasi Manifesto
Politik, disingkat Manipol, dan bersarikan USDEK, berikut ini:
U - Kembali ke
Undang Undang Dasar 1945,
S - Sosislisme
Indonesia,
D - Demokrasi
Terpimpin,
E - Ekonomi
Terpimpin,
K- Kepribadian
Nasional, atau Kebudayaan Terpimpin.
Pada kesempatan itu ditegaskan Kepala negera
pula, bahwa UUD 1945 adalah Konstitusi1945, Konstitusi Proklamasi. Presiden
selanjutnya menambahkan pula bahwa NRI (Negara Republik Indonesia) telah beralih
menjadi Negara Sosialis Indonesia (NSI). Sejumlah surat khabar di Ibu-kota kemudian
berkomentar agar teriakan: “Merdeka!” diganti saja menjadi: “Usdek!” Pidato
Kepala Negara pada tanggal 17 Agustus 1960 lalu mengambil judul “Djalannya
Revolusi Kita” dan ditetapkan menjadi pedoman pertama bangsa melaksanakan
Manipol di tanah-air.
Pada bulan Agustus tahun 1959, dalam zaman
Demokrasi Terpimpin, timbul lagi sanering ter-hadap uang Rupiah yang beredar,
sembilan tahun setelah yang pertama. Uang kertas “Rp.1000,- bereda dipangkas
nilainya menjadi tinggal Rp.1,-. Pemangkasan Rupiah ini merupakan pinjaman
konsolidasi negara kepada rakyatnya yang akan dikembalikan kelak. Devaluasi
Rupiah kedua yang menyisakan pendapatan pekerja berpenghasilan tetap tinggal hanya
seperseribu dari sebe-lumnya, menyebabkan kehidupan rakyat dimana-mana kian
sengsara. Meski awalnya terlihat harga barang dan jasa turun di pasaran, akan
tetapi karena devaluasi akhir ini tidak disertai jami-nan mata uang Rupiah
diperlukan, harga bahan kebutuhan pokok rakyat dan jasa kemudian melambung dengan
cepat.
Pada bulan Oktober 1958 bantuan Covert Operation
(Kegiatan Terselubung) pada PRRI/Per-mesta berdatangan dari: Amerika Serikat,
Inggris, Australia, dan para sekutu Perang Dunia ke-II lainnya. Negara-negara
ini membantu perjuangan PRRI/Permesta bermaksud membendung me-luasnya pengaruh
komunis yang mengajarkan Sistim Ekonomi Komando (SEK) yang bertolak belakang
dengan Sistim Ekonomi Pasar (SEP) yang liberal kapialis yang sejak lama telah ber-kembang
di kawasan Asia Tenggara. Komunisme juga mengajarkan perlu hadirnya pemerinta-han
yang totaliter atas nama negara dalam negara dipimpin satu partai, bahkan
oleh satu orang, yang menjalankan kekuasaan tanpa dapat dikritik, termasuk
hadirnya partai opisisi. Pandangan politik demikian jelas bertolak belakang
dengan prinsip liberal demokratis yang berkembang di banyak negara maju dan
berkembang selama ini, dimana kekuasaan pemerintah berada di tangan partai yang
terpilih demokratis dalam pemilu, dan dibolehkannya ada kritik terhadap yang sedang
berkuasa, begitu kehadiran partai-partai yang beroposisi terhadap partai yang
memerintah dalam negara merdeka.
Tak pelak lagi sekutu-sekutu Amerika Serikat dan
Inggris di kawasan Asia Timur, mulai Korea Selatan, Taiwan, Filipina, Thailand,
Malaysia, dan Singapura, dikerahkan untuk menolong pem-berontakan PRRI/Permesta
dengan beragam sumber daya: uang, senjata, personalia, dan latihan militer.
Pelabuhan-pelabuhan: Dumai, Painan, lalu dimanfaatkan; termasuk danau Singkarak
un-tuk disinggahi kapalterbang air Catalina. Covert Operation Sekutu
dikendalikan dari Teluk Subic yang berada di Filipina, dan Singapura.
Pada tanggal 18 April 1959, lahir anak ayah ketujuh,
putra, si Uncok, diberi nama si Arif Mulia. Kelahiran putra yang lama
dinantikan membahagiakan keluarga, demikian juga kahanggi; ter-lebih di
masyarakat Batak, karena anak laki-laki ialah yang dalam adat Batak disebut: “Sisuan
Bulu” (si Penanam Bambu), yaitu anak kelak diharapkan mengurus kampung halaman
yang di-tinggalkan orang-tuanya, juga meneruskan kekerabatan Dalihan Na Tolu
(Tungku Yang Tiga), yakni keluarga besar marga Nasution dari Muara Botung. Pada
tahun kelahiran si Arif Mulia, ayah dan
ibu serta lainnya pulang ke Muara Botung dari Pematang Siantar untuk merayakan I-dul Fitri 1 Syawal 1378 H.
Pertemuan dengan Ompung di Bona Bulu bertujuan selain melaksa-nakan adat Batak mangupa anak tubu
(baru lahir), juga menyampaikan ucapan syukur karena ayah telah mendapat
karunia anak laki-laki yang lama dinantikan.
Meski bangsa Indonesia telah merdeka satu
dasawarsa lamanya, mempunyai anak yang baru lahir ketika itu menjadi persoalan
tersendiri karena langkanya makanan dan kebutuhan bayi la-innya. Ketegangan
pusat dan daerah kala itu, menambah beban kaum ibu mendapatkan makanan bayi sampai
balita. Selain dari itu, bahan kebutuhan pokok, seperti: sandang dan pangan
hanya dapat diperoleh lewat antrian panjang karena terbatasnya persediaan.
Dengan timbulnya pemberontakan PRRI, perjalanan pulang
kampung dengan kendaraan dari Pematang Siantar harus mendapat pengawalan militer.
Begitu pula saat kembali dari dari Muara Botung, kendaraan yang membawa ayah sekeluarga
harus kembali masuk konvoi (pengawalan) militer agar selamat sampai ke tujuan.
Hubungan Indonesa Amerika kian memburuk menelusuri
waktu, dan politik luar negeri Uni-Sovyet terhadap negara-negara dunia ketiga,
termasuk Indonesia, menjalani perubahan besar. Hal ini tampak setelah wafatnya
Josif Vissarinovich Stalin tahun 1953, lalu digantikan Perdana Menteri
Malenkov, kemudian Khruschev. Uni-Sovyet tidak lagi memandang Indonesia sebagai
pengikut setia Amerika Serikat dan para sekutunya dari blok Barat. Masa ini
digunakan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang memerintah untuk memperbaiki
hubungan bilateral dengan misi diplomatik. Sejalan kebijakan pemerintah yang
baru, PKI beraliran Marxisme-Leninisme ketika itu mendapat peluang untuk
mengembangkan pengaruh di tanah-air, yang pada masa sebelumnya hampir tidak
mungkin ia dapatkan.
Dari tahun 1954 hingga tahun 1958, Indonesia
kembali melancakan perjuangan pembebasan Irian Barat di Majelis Umum PBB,
namun tidak membawa hasil. Indonesia menghentikan perju-angan diplomatik di Badan
Dunia itu, dan mengubahnya jadi konfrontasi militer Trikora (Tiga Komando
Rakyat) guna mengenyahkan Belanda dari Irian Barat (Papua). Pada tanggal 6
April 1956 Indonesia melakukan pembelian senjata dari negara-negara Eropa
Timur, antara lain: Po-landia, Cekoslovakia, Yugoslavia, dan berupaya mengubah
peta kekuatan militer di ujung Timur nusantara.
Indonesia yang semula pembeli senjata setia Blok-Barat, lalu pindah ke
Blok-Timur termasuk Uni-Sovyet (Rusia). Front Nasional untuk Pembebasan Irian
Barat kemudian didirikan tahun 1958, dilanjutkan mobilisasi kekuatan masyarakat
(sosial) di seluruh tanah-air untuk mem-bebaskan Irian Barat dari penjajahan
Belanda.
Dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, rakyat
Indonesia dituntut untuk mengencangkan ikat pinggang dan menjalani hidup
sederhana. Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Sukarno melancarkan juga permusuhan kepada
negara-negara, yang menurut penilaiannya berhaluan ka-pitalis dan liberal
demokratis. Pemerintah Indonesia menamakan negara-negara tersebut: The Old
Established Forces, disingkat Odefos. Sebagai akibatnya export hasil bumi ke
negara-negara tersebut, begitu juga import kebutuhan pokok rakyat dari
negara-negara ini, mendapat gangguan yang membuat kelangkaan sandang pangan di dalam
negeri. Sebaliknya hubungan dagang de-ngan negara-negara berhaluan sosialis dan
komunis, yang menurut penilaian pemerintah Indo-nesia saat itu sebagai
negara-negara: The New Emerging Forces, disingkat Nefos, tidak mem-bawa manfaat
ekonomi, karena orang-orang sosialis dan komunis memang hidup sedehana di negara
mereka masing-masing dan tidak banyak mengimport dari Indonesia. Kebijakan pemerintah
mengganti hubungan diplomatik dari Blok-Barat ke Blok-Timur, tidak membawa per-baikan
ekonomi untuk kesejahteraan rakyat di tanah-air, hanya mengakrabkan hubungan persa-habatan
antar bangsa dan budaya semata.
Dalam zaman Demokrasi Terpimpin, kaum
intelektual, pemimpin masyarakat, para cendekiawan, mahasiswa, dan masyarakat
lainya diharuskan mengikuti indoktrinasi yang dilaksanakan Departemen
Penerangan RI, ketika itu dipimpin Haji Dr.Ruslan Abdulgani. Mereka diminta un-tuk
menelaah dan mendalami isi buku TUBAPI (Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi) yang
dikeluarkan pemerintah lewat Departemen Penerangan, sebagai pengamalan
Ideologi Pancasila yang digariskan pemerintah. Tubapi juga ditetapkan sebagai
satu-satunya rujukan bangsa untuk menu-lis: karya ilmiah, skripsi, makalah, termasuk
menyusun bahan ceramah atau pidato, dengan me-ngutip butir-butir ajaran politik
yang digariskan pemerintah berlaku untuk Indonesia. Kemudian melarang para intelektual bangsa membaca
buku-buku keluaran Amerika Serikat dan para sekutu Barat berpandangan demokrasi
liberal yang kapitalis; karena dianggap pemerintah saat itu tidak sesuai
dengan ajaran Pancasila yang menjadi ideologi Bangsa Indonesia, demikian juga
kepribadian Bangsa Indonesia. Menteri Penerangan R.I. seorang haji yang
membidani lahirnya TU-BAPI saat itu lalu diberi gelar: Haji Juru Bicara Usdek
Manipol, disingkat Haji Jubir Usman. Be-ragam buku bahasa Inggris terbitan
Uni-Sovyet dan negara-negara sosialis lainnya membanjiri toko-toko buku di
seluruh nusanara menggantikan buku-buku terbitan negara-negara kapitalis dan
liberal demokratis yang pada masa sebelumnya menjadi sumber ilmu pengetahuan. Datang
pula membanjiri pasar buku tanah-air dari India terbuat dari kertas koran.
Dengan kepindahan ayah ke Pematang Siantar dari
Bogor, anak-anak ibu harus pula meneruskan sekolah. Putri ayah sulung
melanjutkan ke SR Katolik di jalan Marihat. Karena merasa tidak co-cok, lalu
pindah ke SR VI di jalan Simarito, Timbangalung. Setelah SR ia meneruskan ke SMP Negeri II di jalan Kebun Rambung
(Kartini Ujung). Dari SMP, putri sulung ayah melanjutkan ke SMA kampung
Keristen, lalu pindah ke SMA Negeri I Pematang Siantar. Putri ayah kedua me-neruskan
ke SR VI. Setelah lulus, melanjutkan ke SMP Taman Siswa di jalan Kartini,
kemudian melanjutkan ke SMA I di jalan Pantoan. Putri ayah ketiga meneruskan pelajaran ke SR Latihan di jalan Sekolah. Putri
ayah keempat juga meneruskan pelajaran ke SR Latihan. Putri ayah keli-ma masuk
TK Taman Yohana di jalan Marhaen. Dari Muara Botung datang bergabung ke Pema-tang
Siantar abang Lukman untuk melanjutkan ke SMA I, dan dari sana ke Unversitas
Nomensen cabang Pematang Siantar.
Selama sekeluarga berdiam di Pematang Siantar,
dua orang adik ayah dari Muara Botung turut bergabung, yakni: uda Ruslan dan
uda Sultoni melanjutkan sekolah. Usai SMP Kotanopan uda Ruslan melanjutkan ke
SMEA di Medan, sedangkan uda Sultoni dari SR Kotanopan, melanjut-kan ke SMP II
di jalan Kartini Ujung. Dari SMP, uda akhir ini melanjutkan ke STM di Medan.
Yang juga turut bergabung dari Muara Botung Fahruddin Nasution, kahanggi ayah
dan Abdul Hakim Lubis mora ayah merantau sekaligus mencari kerja. Ada pula
kakak Nurcahaya dan kakak Masdalifah datang bergabung, saat itu uak Sutan
Batara masih tinggal di Muara Botung. Ada lagi kakak Hasbi dari Tobang yang ikut
ke Pematang Siantar dari kampung untuk kursus menjahit. Selain dari itu, ada pula
Tulang Amran Harahap datang dari Pargarutan Gunung Ma-naon bergabung di
Pematang Siantar.
Selama berdiam di Pematang Siantar, ibu
memanfaatkan halaman rumah di jalan Marhaen untuk bercocok tanam dan beternak
ayam itik. Banyak hasil tanaman dan ternak yang diproleh ketika itu turut menopang ekonomi rumah tangga yang
tergolong sulit saat itu. Meski anak-anak ayah masih bersekolah semua, tertua
masih duduk di kelas akhir SMA, namun ibu dan ayah tidak se-gan menjadi wakil orangtua
pegawai Brigade Planologi Kehutanan yang melangsungkan per-nikahan. Kebanyakan
orangtua para pegawai Brigade Planologi Kehutanan di Pematang Siantar berdiam di
luar pulau Sumatera, karena itu ayah dan ibu kerap diminta untuk menjadi
orangtua pengganti yang hadir, mulai saat meminang sampai dengan penyelenggaraan
pernikahan di ru-mah dalam adat setempat.
Demikianlah, selama berdiam di Pematang Siantar, ayah
dan ibu telah menjadi wakil orang tua
pegawai kantor Brigade Planologi Kehutanan dari: abang Karim Lasoma dari
Gorontalo, Sula-wesi Utara, yang mempersunting Latifah Hanum, boru Regar dari
Baringin; abang Muhamad Fa-dil dari Kalimantan, yang menikah dengan Ida, boru
Harahap dari Siharangkarang; dan abang Karim Omar Dallah dari Palembang yang menikah
dengan putri Tapanuli Selatan. Di ibukota Tanah Simalungun itu lahir pula anak ayah
kedelapan, putri, tanggal 2 September 1961, dan di-namakan si Tety. Kelahiran
putri ayah akhir ini menjelang turunnya Surat Keputusan yang menyatakan bahwa ayah akan kembali dipindahkan di Bogor.
Kabinet Kerja II
Kabinet Kerja I lalu digantikan oleh Kabinet
Kerja II, berlangsung dari tanggal 18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1962, juga
bersifat Presidentil. Adapun program kerjanya ialah sebagai berikut:
1. Menyediakan
sandang pangan untuk rakyat dalam waktu sesingkat-singkatnya,
2. Melaksanakan
pengamanan rakyat dan negara,
3. Meneruskan
perjuangan menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik untuk
merebut Irian Barat.
Beragam peristiwa penting muncul dalam masa
kerja kabinet ini adalah: pada tanggal 24 Juni 1960 berhasil dibentuk DPR-GR
(DPR-Gotong Royong); antara tanggal 10 Nopember hingga tanggal….Desember 1960,
berlangsung Sidang Umum MPRS (MPR Sementara) yang mela-hirkan "Manifesto Politik
Republik Indonesia" dan menjadi "Garis-garis Besar Haluan
Negara", sekaligus "Garis-garis Besar Politik Pembangunan Nasional
Semesta Tahap Pertama 1961-1969"; Sidang Umum juga mengangkat Presiden
Sukarno menjadi "Pemimpin Besar Revolusi Bangsa Indonesia"; sekaligus
"Mandataris MPRS".
Perjuangan pembebasan Irian Barat dilancarkan
kembali setelah beragam usaha dilakukan lewat PBB tidak membawa hasil. Pada
tahun 1960 Presiden Sukarno menyampaikan pidato di PBB berjudul “To Build The
World Anew” (Membangun Kembali Dunia) guna merombak organisasi Badan Dunia saat
itu. Pada tanggal 17 Agustus 1960 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik
dengan Belanda, dan negeri Kincir Angin itu lalu mengirim kapal induk Karel
Doorman miliknya menuju perairan Papua.
Pada tanggal 4 Maret 1961, Republik Indonesia
menandatangani perjanjian pembelian senjata besar-besaran dengan Uni-Sovyet dengan
berhutang untuk memperkuat jajaran angkatan perang. Di Jakarta dibentuk KOTI
(Komando Operasi Tertinggi) berpusat di Istana, guna merebut Irian Barat
(Papua), langsung dibawah komando Kepala Negara. Dan, pada tanggal 14 Agustus
1961 semua gerakan kepanduan yang ada di tanah-air, semula bernama Padvinderij
di zaman Hindia Belanda silam sampai gerakan kepanduan setelah Indonesia merdeka,
kemudian dilebur jadi sa-tu, lalu oleh Presiden Sukarno diberi nama baru:
“Pramuka”.
Bogor Kedua
Terhitung tanggal 1 September 1961, pada ketika
Menteri Pertanian R.I. dijabat Sadjarwo Tjondronegoro S.H., ayah diangkat
menjadi Kepala Djawatan Kehutanan Republik Indonesia berke-dudukan di Bogor.
Kepindahan ayah untuk kedua kalin ke Bogor tidak segera disertai ibu, karena
putri bungsu ibu masih belum cukup tiga bulan untuk diizinkan naik
pesawatterbang. Ibu masih harus tinggal di Pematang Siantar menanti izin dokter
membawa bayi dari Medan ke Jakarta dengan pesawatterbang. Karena itu yang
berangkat lebih dahulu bersama ayah ke Bogor anak-anak pertama dan kedua, guna
mengurus kepindahan ke SMA di tempat yang baru. Berbeda saat mengikuti Akademi
Kehutanan silam, kali ini ayah mendapat Rumah Dinas di jalan Belitung no.15,
Baranangsiang, tidak jauh dari Kebon Raya. Akan tetapi karena rumah itu masih
didiami Bapak Sutarmo yang akan digantikan, maka ayah bersama kedua putrinya
terpaksa untuk be-berapa saat tinggal di Hotel Salak.
Dalam mengurus sekolah di Bogor, anak ayah yang
sulung diterima di SMA Nergeri II-Pasti, duduk di kelas III, tetapi masuk sore.
Anak ibu kedua diterima di sekolah bernama SMA Negeri I-Sosial, duduk di kelas
I, namun masuk pagi. Kedua sekolah SMA ini menempat gedung yang sama di
Bogor dan terletak di jalan Ir.Haji Djuanda menghadap ke Kebun Raya.
Setelah anak ayah yang bungsu genap berumur tiga
bulan, ibu dengan kelima anak lain lalu me-nyusul ke Bogor untuk bergabung
dengan ayah yang sudah lebih dahulu tiba disana. Tidak lama setelah kedatangan
ibu, pengurusan sekolah anak di Bogor diteruskan dengan anak-anak: ketiga,
keempat, dan kelima. Yang ketiga dan keempat diterima di SMP II jalan Gedung
Sawah duduk di kelas I, sedangkan anak ayah kelima diterima SD Regina Pacis di
jalan Ir Haji Juanda. Adapun anak ayah keenam baru berumur dua tahun sementara ketujuh
tiga bulan sehingga masih perlu tinggal di rumah bersama ibu.
Adapun masyarakat kehutanan yang tingga di jalan
Bangka dan jalan Belitung Baranangsiang Bogor ketika itu, adalah sebagai
berikut:
1. Soekowijono
11. Jap Kong Djoen2. Ir.Hasan Basjaroedin Nasoetion 12. Soejoto
3. Wakidjo 13. Priono
4. Karsoedjono 14. Basatoea Siregar
5. Waldemar Simandjoentak 15. Hoetajoeloe
6. Soetamsi 16. Soeyoto (kecil)
7. Banjaran Sari 17. Lorima
8. Ir.Soeherman 18. Mairoekoe
9. Ir.Wisatja 19. Ki Soeroyo
10. Hardono 20. Soekamto
Selain dari itu terdapat juga kaum kerabat dari
Tapanuli Selatan dan handai tolan lain yang mencari nafkah di tanah perantauan
dan bermukim di kota-kota bawah ini:
a. Bogor.
1. Tulang Sutan Diangkola, marga Harahap dari Pijorkoling, Padang Sidempuan
2. Uak Djatinaja Lubis dari Pakantan.
3. Oom dr Diapari Siregar dari Bunga Bondar.
4. Tulang Mara Sutan Harahap dari Pargarutan Gunung Manaon / Tante
Lumongga
Daulae.
5. Tulang Zainuddin Harahap dari Pargarutan Gunung Manaon.
6. Oom Dr. Hadrian Siregar dari Bunga Bondar.
7. Ny. Drh Anwar Nasution dari Pidoli.
8. Uak Radja Livat Lubis dari Pakantan.
9. Uak Bachtiar Ananda Siregar dari Gunung Tua.
10. Ompung Firman Harahap dari Pargarutan Julu.
11. Tulang Hasbullah Harahap dari Pargarutan Julu.
12. Tulang Gindo Harahap dari Pargarutan Julu;
13. Tulang Kamin Harahap dari Pargarutan Julu.
14. Oom Dahlan Lubis dari Muara Soma.
15. Uak Kaharudin Lubis dari Pakantan.
16. Abang Partomuan Rakun Lubis dari Pakantan.
17. Oom Umar Lubis dari Mandailing / Tante Upik Nasution.
18. Oom Burhanuddin Pane dari Lancat, Sipirok.
19. Oom Sanusi Pane dari Lancat.
20. Uak Patuan Sorimuda Siregar dari Baringin, Sipirok.
21. Tulang Monang Lubis dari Tamiang.
22. Tulang Kolonel Zulkifli Lubis dari Tamiang.
23. Tulang Talmin Lubis dari Tamiang.
24. Abang Drh. Abdul Muis Nasution, dari Sayumahincat / Kakak Dewani Siregar.
25.
26.
27.
b. Jakarta:
1. Ompung Efendi Siregar dari Huraba / Boru Daulae.
2. Ompung Adenan Harahap dari Batuna Dua, Padang Sidempuan / Boru Regar.
3. Amangboru Amron Lubis dari Tamiang.
4. Oom Basjarudin Nasution dari Botung.
5. Oom Gunung Tua Siregar dari Gunung Tua.
6. Amangboru Patuan Malaon, marga Lubis dari Pakantan.
7. Lubis / Tante Orni.
8. Oom Bachter Lubis dari Muara Soma.
9. Oom Muchtar Lubis dari Muara Soma.
10. Oom Jenderal Dr.Abdul Haris Nasution dari Hutapungkut.
11. Oom Jusuf Malik, marga Batubara dari Hutapungkut.
12. Oom Malik Selawat dari Deli (Medan), Sumatera Utara.
13. Oom Saleh Siregar dari Sipirok. (Istrinya kakak beradik dengan Malik
Selawat).
14. Oom Parada Harahap dari Pargarutan.
15. Tulang Djohar Harahap dari Pargarutan./ Ompung Siti Ana Siregar di
Rawasari.
16. Uak Intan Pilihan dari Pargarutan,
istri Uak Bahrum Siregar dari Sipirok.
c. Bandung:
1. Tulang ….. Harahap dari Batuna Dua dari Jalan Cipaganti / Boru Simatupang.
2. Amangboru Samin Pohan dari Parausorat./ Kakak Longga Siregar Sipenggeng.
3. Abang Burhanuddin Pane dari Lancat.
4. Oom Burhanuddin Nasution dari…….
5. Ompung Burhanuddin Harahap dari Batuna Dua.
6.
7.
8.
9.
10.
Dalam masa kembali berdiam di Bogor
kedua kalinya, keadaan tanah-air diwarnai kian meningkatnya konfrontasi Indonesia Belanda untuk membebaskan Irian
Barat (Papua). Kepindahan keluarga yang kedua kali ke Bogor juga memperlihatkan
banyak perubahan kepada ibu, terlebih saat ayah menjabat Kepala Djawatan
Kehutanan. Dorongan berorganisasi dan keinginan melakukan kegiatan sosial
berjangkauan luas terbentang dihadapan ibu. Ibu kemudian terjun kedalam PWK
(Persatuan Wanita Kehutanan) dan lngsung menjadi ketuanya.
Ibu selanjutnya aktif mendampingi Kepala Jawatan
Kehutanan berkunjung berbagai daerah di nusantara, kendati si Tety masih bayi
dan si Ucok baru dua tahun. Ketujuh anak bersaudara ke-rap ditinggal di jalan
Belitung no.15 Bogor, saat ibu harus mendampingi ayah melakukan perja-lanan
dinas; dititipkan saja kepada tetangga keluarga kehutanan Bogor. Jabatan ibu
sebagai ketua PWK mengharuskannya bepergian degan ayah kemana-mana selama
ayah menjabat Kepala Ja-watan Kehutanan. Kota Bogor di tahun enam puluhan aman
untuk berdiam, meski di jalan Belitung 15, Baranagsiang, ketiika itu termasuk
daerah pinggiran. Hampir semua orang kehutanan di Bogor yang tengah bertugas ke
luar kota menitipkan begitu saja anak-anak mereka kepada ke-luarga-keluarga
kehutanan di Bogor. Belum pernah terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan selama
ini ketika anak-anak para pejabat kehutanan ditinggal dalam perjalanan dinas, terkecuali
rasa sepi oleh ketidak hadiran orang tua yang bepergian menjalankan tugas
keluar kota, walau gerombolan DI-TII di Jawa Barat masih dikhabarkan berkeliaran
di surat kabar ketika itu.
Pada tanggal 1 - 6 September 1961, di Beograd,
ibukota Yugoslavia, dikhabarkan berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi
Negara-negara Non-Blok yang diprakarsai sejumlah negara: Indonesia,
Yugoslavia, India, Mesir dan Afganistan. Kemudian pada tanggal 19 Desember
1961, Presiden Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat, disingkat Trikora, dari
Yogyakarta. Adapun muatan Tikora itu ialah:
1. Gagalkan
pembentukan negara boneka Papua bikinan Belanda,
2. Kibarkan sang
merah putih di Irian Barat,
3. Bersiaplah
untuk mobilisasi guna mempertahankan kemerdekaan tanah-air.
Pada tanggal 2 Januari 1962, Komando Mandala
untuk Pembebasan Irian Barat berkedudukan di Makassar lalu dibentuk dan
dipimpin Jenderal Soeharto. Pada tanggal 15 Januari 1962 pecah per-tempuran
laut antara Angkatan Laut Republik Indonesia melawan Angkatan Laut Belanda di
laut Arafuru. PKI yang mendapat banyak kesempatan berperan dalam perjuangan
pembebasan Irian Barat, tidak lupa mengorganisir kunjungan tokoh-tokoh negara
Blok-Timur untuk berkunjung ke Indonesia, antara lain dari: Hongaria dan
Polandia. Mereka datang untuk melihat konfrontasi Indonesia-Belanda dari dekat di
ujung Timur kepulauan nusantara.
Selain menyiagakan ketiga angkatan perang saat
itu, Indonesia juga melakukan mobilisasi umum dan latihan militer pada
warganegara di dalam negeri, khususnya kaum pemuda. Resimen maha-siswa lalu
dibentuk di kota-kota besar, dan latihan militer pun diberikan, sehingga banyak
waktu perkuliahan tersita saat itu. Latihan militer berkembang dari
baris-berbaris hingga latihan tempur di sejumlah medan di luar kota. Selain
dari itu, ada pula anggota resimen mahasiswa yang dike-rahkan mencacar warga guna
menghindarkan penyebaran wabah, dan lainnya.
Mobilisasi umum lalu berkembang juga ke pegawai
negeri sipil Republik Indonesia tersebar dalam departemen dari pusat sampai
daerah. Tidak hanya kaum pria yang terlibat latihan militer, tidak terkecuali
juga kaum wanita dikerahkan dari pusat sampai daerah, sebagaimana praktek di negara-negara sosialis dan komunis dari
Blok-Timur yang populer di Indonesia ketika itu. Maka ibu yang telah berumur
diatas 40 tahun, tidak luput ambil bagian dalam latihan militer. Sebagai komandan dengan lantang meneriakkan aba-aba
baris berbaris kepada peleton wanita Djawatan Kehutanan di kota Bogor yang dipimpinnya.
Peleton kaum ibu inipun terpaksa menukar hari-hari kesibukan rumah tangga
kegiatan baris-berbaris militer di halaman kantor Djawatan Kehutanan Bogor yang menghadap ke Kebon Raya.
Pada tahun 1961 Amerika Serikat melantik Presiden
baru, Dwight D. Eisenhour lalu digantikan John F. Kennedy. Presiden negeri
Paman Sam baru ini mengemban misi politik luar negeri yang baru pula, berpaling
dari apa yang dilakukan pendahulunya. Pada bulan Februari tahun berikut-nya, ia
mengutus sang adik Jaksa Agung Robert Kennedy mengunjungi Indonesia, lalu
Negeri Belanda, guna mengajak kedua negara berseteru berunding kembali. Pada
bulan September 1961, persoalan Irian Barat lalu menjadi agenda pokok
perbincangan Sidang Umum PBB.
Pada tanggal 12 April 1961, umat manusia
dikejutkan pula oleh keberhasilan Uni-Sovyet me-ngirim antariksawan Yuri
Alekseyevich Gagarin meninggalkan bumi meraih ketinggian orbit sa-telit dalam
pesawat angkasa Vostok II. Ia memerlukan waktu 1 jam 29 menit mengitari bumi,
dan menjadi orang pertama di dunia yang
menyaksikan matahari terbit dan tenggelam belasan kali dalam sehari.
Kabinet Kerja III
Sebagaimana dua Kabinet Kerja pendahulunya,
Kabinet Kerja III, memerintah antara tanggal 6 Maret 1962 hingga tanggal 13
Nopember 1963, lagi-lagi bersifat Presidentil; adalah hasil pe-ngelompokan
orang-orang dari dua Kabinet sebelumnya. Sedangkan program kerjanya tidak ber-beda
samasekali, yakni:
1. Menyediakan
sandang pangan untuk rakyat dalam waktu sesingkat-singkatnya,
2. Melaksanakan
pengamanan rakyat dan negara,
3. Meneruskan
perjuangan menentang imperialisme ekonomi dan imperialisme politik untuk
membebaskan Irian Barat.
Dalam UUD 1945 tertera, bahwa: DPA, DPR dan MPR
merupakan badan-badan negara yang berada diluar Pemerintah, dan para anggotanya
tidak diperbolehkan duduk dalam Kabinet. Akan pi dalam Demokrasi Terpimpin
(Guided Democracy) dengan kekuasaan berada di tangan Kepala Negara, Presiden
Sukarno dengan mudah menempatkan Ketua MPRS, Ketua DPRGR dan Wakil Ketua DPA
menjadi wakil-wakil Perdana Menteri. Lalu Ketua Mahkamah Agung, Wakil Ketua
MPRS dan Wakil ketua DPRGR diangka setingkat Menteri, dan didudukkan dalam
Kabinet. Keputusan kontrversial dibuat Kepala Negara saat itu membuka peluang
pada PKI masuk kedalam jajaran pemerintah yang berwenang membuat keputusan
politik.
Pada tahun 1962, pengaruh Uni-Sovyet pada
Indonesia telah sangat besar ketimbangn awal dibu-kanya hubungan diplomatik
oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada tahun 1957. Dan ban-tuan yang
didatangkan negeri Beruang Merah itu telah pula melampaui yang pernah diterima
Indonesia dari negeri Paman Sam, baik ekonomi demikian juga perlengkapan
perang; guna me-ngimbangi kekuatan militer Belanda di Irian Barat didukung
Amerika Serikat dan para sekutu-nya, atara lain: “Jeep Rusia” keluaran pabrik
GAZ, menjadi pesaing “Jeep Wilis” dari Amerika Serikat, kian banyak berkeliaran
di jalan-jalan ibukota.
Pada tanggal 22 Oktober 1962 Presiden Amerika
Serikat John Fitzgerald Kennedy mengung-kapkan foto udara diambil pesawat
mata-mata U2 Amerika Serikat, yang memperlihatkan pem-bangunan instalasi peluru
kendali Uni-Sovyet di Kuba. Negeri Paman Sam itu kemudian mem-blokir wilayah
laut dan udara seputar kepulauan Antilla Besar yang terletak di laut Karibia,
dan mengeluarkan ultimatum 6 hari pada Perdana Menteri Uni-Sovyet Nikita
Khruschev memberi tanggapan; atau dihancurkan, menimbulkan krisis Kuba. Perang
Dunia ke-III telah mengintai di-ambang pintu. Meski Uni-Sovyet ketika itu
membantah instalasi peluru kendali ditujukan ke jan-tung Blok Barat, akan
tetapi setelah blokade berlangsung dua pekan negara Beruang Merah ke-mudia
mengalah, lalu berjanji akan menarik instalasi peluru kendali yang telah terpasang
di Kuba. Kendati Presiden Fidel Castro menolak dilakukannya pemeriksaan darat
oleh Amerika Serikat atas pembongkaran instalasi peluru kendali milik Uni-Sovyet
di pulau itu, namun negeri Paman Sam terus mengawasi pelaksanaanya berbulan
lamanya di laut Karibia dari udara.
Keamanan dalam negeri Negara Republik Indonesia
menampakkan kemajuan dengan tertang-kapnya tokoh DITII Karto Suwiryo di Jawa
Barat pada tanggal 4 Juni 1962.
Perseteruan Indonesia dengan Belanda atas Irian
Barat semkin meruncing, menyebabkan PBB menurunkan Ellsworth Bunker, seorang
diplomat Amerika Serikat mendesak kedua fihak yang berseteru kembali berunding. Kali ini
perundingan berlangsung New York pada tanggal 16 A-gustus 1962 antara
Menlu Dr. Subandrio dengan Duta Besar Belanda Dr. H.J. van Royen yang ditengahi
Pejabat Sekjen PBB U Thant. Perundingan yang alot berhasil melahirkan
kesepakatan segi-tiga: Belanda, PBB, dan Indonesia. Di tanah-air, tanggal
19 Nopember 1962 Presiden Sukarno mengumumkan pencabutan dekrit “Negara dalam
keadaan bahaya” yang berhubungan dengan pembebasan Iran Barat. Perjanjian New
York lalu menelurkan resolusi Majelis Umum PBB tanggal 21 September 1962 yang
melahirkan kesepakatan dibawah ini:
1. Pada
tanggal 1 Oktober 1962, Bendera PBB dikibarkan berdampingan dengan Bendera
Belanda di Irian Barat. Sejak saat itu pemerintahan di Papua dijalankan UNTEA
(United Nation Temporary Executive Authority atau Badan Pelaksana Pemerintahan
Sementara PBB) yang berkedudukan di Hollandia (Jayapura), Papua Barat.
2. Pada
tanggal 31 Desember 1962 Dwi Warna dikibarkan mendampingi Bendera PBB sedangkan
Sitiga Warna, atau Bendera Belanda, diturunkan.
3. Pada tanggal 1 Mei
1963, pemerintah UNTEA menyerahkan kedaulatan Irian Barat kepada pemerintah
Negara Republik Indonesia, dan Bendera PBB di Hollandia diturunkan.
Sejumlah negara anggota PBB lalu mengutus para
wakil mereka menjadi pejabat yang bertugas dalam UNTEA. Dari Indonesia,
Departemen Dalam Negeri R.I. mengutus M. Diri Harahap yang kemudian menjadi Residen di Hollandia;
dan yang akhir ini beralih menjadi: Jayapura.
Pada tangal 24 Agustus 1962, jam 14.30 WIB,
siaran televisi hitam-putih untuk pertama muncul di ibukota Republik Indonesia,
bertepatan dengan pembukaan pesta olehraga Asian Games IV dipancarkan langsung
dari gelanggang olahraga Senayan. Pesawat penerima televisi digunakan
masyarakat untuk menangkap siaran televisi saat itu berasal rakitan dalam
negeri bikinan: Leppin, sebuah badan kerjasama antara Departemen Penerangan
dengan Departemen Perindustrian Indonesia.
Banyak kejadian yang kemudian mewarnai suasana dalam
negeri ketika itu, antara lain: pema-syarakatan Manipol Usdek; Manipol Usdek lalu
dijadikan acuan untuk segala kegiatan kenega-raan; ada pula gerakan
Nasakomisasi (Nasionalisme-Agama-Komunisme) yang perlu terus di-galakkan;
penyelewengan terhadap UUD 1945 amat kentara, dan salah satu daripadanya ialah keputusan
Sidang Umum MPRS tanggal 15 hingga 22 Mei 1963 yang menetapkan Presiden Su-karno/Mandataris
MPRs menjadi Presiden seumur hidup. Padahal, untuk yang disebut akhir ini dalam
UUD 1945 telah jelas tertulis: Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan
selama li-ma tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Tidak ada pasal yang
memberi kewenangan pada seseorang untuk menjadi Presiden seumur hidup.
Gerakan anti Blok-Barat berikut antek-anteknya,
yang oleh pemerintah Republik Indonesia ketika itu dicap sebagai imperialis kian
keras disuarakan. Sebagai akibatnya Kedutaan Besar R.I. di Kuala Lumpur
didemonstrasi massa. Massa di Indonesia kemudian membalas, dan Kedutaan Besar
Persekutuan Tanah Melayu (ketika itu Malaysia dan Singapura) dan Kedutaan Besar
Ing-gris Raya di Jakarta juga ikut didemonstrasi massa. Bahkan Kedutaan Besar
Inggris Raya yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia dibakar habis para
demonstran pada saat itu.
Beragam langkah yang dilakukan pemerintah
bercorak politik mercusuar meyebabkan uang Rupiah kian merosot nilainya terhadap Dollar
Amerika. Daya beli masyarakat berpendapatan tetap, seperti: pegawai negeri
maupun swasta, tidak terkecuali rakyat banyak terhadap bahan kebutuhan pokok:
sandang, pangan, dan lain sebagainya terutama yang didatangkan dari luar negeri
semakin lemah. Untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi yang semakin memburuk
di tanah-air, pemerintah memperkenalkan Deklarasi Ekonomi, disingkat Dekon, dan
disusul Pera-turan Pemerintah (PP) tertanggal 26 Mei 1963. Akan tetapi kedua
langkah yang dibuat Presiden Sukarno ketika itu tidak membawa perbaikan
diharapkan, dan ekonomi Indonesia di tanah-air terus memburuk, inflasi
meningkat, dan rakyat semakin menderita kehidupannya menelusuri perjalanan waktu.
Pada tanggal 22 Nopember 1963 di Jakarta Indonesia,
berlangsung Games of the New Emerging Forces pertama, disingkat Ganefo I,
diikuti oleh 48 negara: Asia, Afrika, dan Amerika Latin, un-tuk menandingi
Olimpiade Internasional. Menurut rencana, Ganefo I akan disusul dengan Gane-fo
II dan begitu seteruaya, karena pemerintah Republik Indonesia saat itu
menganggap Olimpia-de Internasional hanya memperhatikan negara-negara kaya yang
oleh pemerintah Indonesia keti-ka itu dicap sebagai negara-negara imperialis
dan neokolonialis.
Seruan “Go to Hell with your Aid” lalu
dilontarkan pemerintah Indonesia kepada negara-negara berhaluan ekonomi liberal
dan kapitalis. Sebaliknya seruan “Berdiri diatas kaki sendiri, disingkat
berdikari” diserukan kepada seluruh anak bangsa. Kedua langkah ini merugikan
Indonesia, karena Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri menjadi terisolasi
dari kemajuan sosial dan ilmu pengetahuan serta teknologi dari dunia luar, begitu
pula budayanya. Juga menjadi terhalang beragam kerjasama antar negara/bangsa
maju dibidang-bidang: sosial, ekonomi, dan budaya re-latif maju dan berkembang di berbagai bidang
seperti dari Eropa dan Amerika Utara yang telah dinikmati negeri-negeri
sekawasan: Malaysia, Thailand, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. Kelima
negara ini dengan cepat memberantas buta huruf, lalu lewat pendidikan dan
pelatihan SDM mengembangkan ekonomi negeri yang mensejahterakan rakyatnya. Sejumlah
negeri ini bahkan memperihatkan pada dunia mutu SDM tinggi yang dapat
mengalahkan keterbatasan Sumber Daya Alam (SDA) yang terdapat di dalam negeri.
Untuk
mengalihkan perhatian dari kegagalan pemerintah memperbaiki ekonomi
yang mensejah-terakan kehidupan rakyat yang
telah dijanjikan dalam revolusi fisik tahun 1945 silam, dikuman-dangkanlah
seruan: “revolusi Indonesia belum selesai”; juga dalam pidato-pidato kenegaraan
se-terusnya presiden Sukarno tidak lupa mengingatkan rakyat akan adanya
pertentangan antara kubu “New Emerging Forces”, disingkat “Nefos”, dimana
Indonesia bersama negara sosialis, komunis dan Non-Blok bernaung, melawan kubu
“Old Established Forces”, disingkat “Oldefos”, yakni negara-negara yang menurut
penilaian Indonesia saat itu liberal dan kapitalis serta neoko-lonialis. “Mana
dadamu Oldefos, ini dadaku Nefos”, menjadi materi dialog konfrontatif yang terusmenerus
dikumandangkan Kepala Negara dalam pidato-pidato yang berapi-api meminta
simpati anak-anak bangsa di Indonesia, juga menagih kesediaan rakyat untuk tetap
terus me-ngencangkan ikat pinggang mendukung kebijakan yang diambil pemerintah
Indonesia ketika itu.
Apabila dalam masa perjuangan kemerdekaan periode
1945 hingga 1950, kelangkaan pangan, sandang, dan lainnya, disebabkan blokade
Belanda terhadap kapal-kapal dagang yang bergerak keluar masuk perairan
nusantara, maka kelangkaan yang sama timbul satu dekade sesudahnya lebih
dikarenakan kebijakan pemerintah Indonesia tengah terpenjara dalam logika
politik Nefos melawan Oldefos. Kelangkaan akhir ini lebih dikarenakan Indonesia
tidak ingin berdagang menjjual hasil bumi kepada negara-negara berlabel Odefos,
istilah lain dari negara-negara Blok-Barat berhaluan liberal dan demokratis,
dan hanya bersedia melakukan kegiatan ekonomi
de-ngan negara-negara Nefos, alias negara-negara Blok-Timur yang
berhaluan sosialis, komunis dan Non-Blok yang oleh pemerintah Indonesia yang
berlabel new emerging forces itu.
Inilah logika politik pemerintah Indonesia di
zaman "Demokrasi Terpimpin" dengan "Deklarasi Ekonomi" berikut
selogan “berdikari”, yang menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan
masyarakat, menjadikan bangsa Indonesia tertinggal dari sejumlah bangsa
sekawasan sedikitnya satu generasi dalam mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, termasuk: mana-gemen, ekonomi, pemerintahan,
kemasyarakatan, yang telah berkembang di dunia pasca Perang Dunia ke-II. Karena
itu langkah percepatan perlu diambil guna melenyapkan ketertinggalan anak-anak bangsa
dari sejumlah bidang dikemukakan dari sejumlah negara sekawasan.
Pada tanggal … …, di Jakarta berlangsung “Conference
of the New Emerging Forces”, disingkat Conefo I, dihadiri 36 negara Asia-Afrika
termasuk RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan RPA (Republik Persatuan Arab).
Conefo dirancang untuk menandingi sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat.
PBB kecil gagasan pemerintah Indonesia ketika itu dirancang bermarkas di
Jakarta. Conefo I akan disusul pula dengan Conefo II dan seterusnya,
sebagaimana halnya sidang-sidang umum PBB bermarkas di kota dagang terbesar
Amerika Serikat yang kesohor itu.
Hubungan Indonesia dengan negara-negara sosialis
dan komunis kian mesra menelusuri waktu,
ini ditandai kunjungan sejumlah tokoh negara-negara Blok-Timur ketika
itu, antara lain: Presiden Antonin Novotny dari Chekoslowakia, Presiden Liu
Shao Chi dari RRC, Presiden Dr. Heinrich Lübke dari Jerman Timur. Juga
bertandang ke Indonesia saat itu Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja,
tidak terkecuali Presiden Woroshilov dari Uni-Sovyet. Kunjungan tokoh-tokoh
Blok-Timur yang tergolong Nefos menurut penilaian pemerintah Indonesia ketika
itu, melontarkan gagasan: “poros Jakarta - Pnom Penh - Beijing - Pyong Yang”,
yang terkenal dalam kan-cah perpolitikan Indonesia ketika itu.
Pada tanggal 22 Nopember 1963 Presiden J. F.
Kennedy dari Amerika Serikat tertembak di Dallas, negara bagian Texas, saat
berkendaraan dengan atap terbuka keliling kota. Jiwanya tidak terselamatkan, menyebabkan
Wakil Presiden Lyndon Baines Johnson naik ke tampuk kekuasaan di negeri Paman Sam
itu.
Selama ayah berdiam di jalan Belitung no.15,
terbetik khabar tulang Gulbachri mahasiswa UGM di Yogyakarta jatuh sakit. Ia kemudian
dipindahkan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, karena ada bujing tinggal
disana, sehingga ada keluarga yang akan menjenguk. Tulang dikha-barkan
nenderita leukemia yang yang belum dapat disembuhkan saat itu. Yah dan ibu bergantian
pergi ke Bandung dari Bogor untuk menengok tulang di rumah sakit sambil menemui
bujing di rumahnya. Penyakit tulang rupanya semakin berat, dan tanggal 22 Maret
1963 tulang meninggal dunia. Jenazahnya dibawa ke Bogor lalu dimakamkan di
Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Pedes, Bogor. Tulang merupakan kerabat dari
Pargarutan Gunung Manaon pertama yang disemayamkan di TPU itu.
Dari Medan, keluarga Om Soepardi kemudia pindah
ke Padang, lalu dari sana ke Jakarta dan tinggal di jalan Teuku Umar,
berseberangan dengan kediaman Jenderal Abdul Haris Nasution. Kepindahan
keluarga Om Soepardi tidak disertai anak-anaknya, karena yang laki-laki sedang kuliah
di Fakultas Hukum di USU Medan sedangkan adiknya di Universitas Airlangga
Surabaya. Setelah Nilawati selesai SMA di Bogor, putri kedua ayah lalu melanjutkan
ke UI Jakarta, dan Bou dan Om Supardi dengan senang hati menerima puri ayah ini
tinggal bersana mereka di jalan Teuku Umar.
Pada tahun 1963 ayah berangkat ke Konferensi
Internasional World Wild Foundation, disingkat WWF, di Nairobi, Afrika untuk mewakili
Republik Indonesia. Karena Indonesia ketika itu se-dang berkonfrontasi dengan
Belanda untuk pembebasan Irian Barat, ayah harus menenpuh perjalanan pulang
pergi lewat negara ketiga. Pada tahun yang sama, ayah juga melaksanakan
perjalanan luar negeri dalam rangka kerjasama bilateral Lingkungan Hidup
Indonesia-Jepang. Perjalanan luar negeri ketiga juga berlangsung tahun yang
sama menghadiri Konferensi Kehu-tanan Internasional di…..
Pada tahun 1964, ayah, ibu, Arif, dan Tety pulang
ke Muara Botung dari Bogor lewat Medan. Dari Medan ikut bergabung Uda Ridwan
dan Nanguda (Surya Lubis) meramaikan pertemuan kahanggi di Bona Bulu ketika
itu.
Kabinet Kerja IV
Sebagaimana dua kabinet sebelumnya, KabinetKerja
IV berlangsung antara 13 Nopember 1963 hingga 27 Agustus 1964 masih bersifat
Presidentil, masih tediri daril pengelompokan para anggota kabinet sebelumnya.
Adapun program kerja Kabinet ini, ialah:
1. Sandang
pangan,
2. Pengganyangan
Malaysia,
3. Melanjutkan
pembangunan.
Tiga tahun setelah ayah pindah ke Bogor untuk
yang kedua, terhitung tanggal 1 September 1964, ayah diangkat menjadi Kepala
Direktorat Kehutanan merangkap Pembantu Khusus Men-teri untuk pembinaan hutan.
Setelah peristiwa G-30-S, terhitung tanggal 1.Nopember 1965 ayah memperoleh
tugas tambahan, yakni sebagai Pejabat Direktur Lembaga Inventori
Kehutanan.
Pada tanggal 31 Agustus 1966 ayah menjadi Kepala
Direktorat Pembinaan Hutan, dan sejak tanggal 1 Oktober 1969 mencapai golngan
Pegawai Utama Madya, golongan IVd. Pada tanggal 26 September 1967, ayah menjadi
wakil Menteri Pertanian guna menghadiri konferensi National Zoological Park di
Washington DC, Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, ayah kembali melawat ke
negeri Paan Sam mengikuti seminar National Park Administration di Uni-versitas
Michigan. Karena masa dinas ayah di lingkungan Departemen Pertanian akan segera
berakhir dan memasuki usia pensiun, maka oleh Menteri Pertanian ayah diusulkan
hijrah ke Departemen Pendidikan dan Pengajaran, karena pada departemen tersebut
usia pensiun Staf Pengajar dapat mencapai 65 tahun.
Kabinet Dwikora
Setelah Irian Barat kembali ke pangkuan NKRI,
perseteruan Indonesia dengan negara-negara Oldefos, yakni negara-negara
beraliran liberal dan kapitalis serta imperialis, ternyata tidak bera-khir;
sebaliknya hubungan Indonesia dengan negara-negara Blok-Timur, yang menurut
Indonesia ketika itu tergolong Nefos, beraliran sosialis dan komunis dan
totaliter, semakin mesra.
Pada tanggal 16 September 1963 diproklamirkan
berdirinya Negara Federasi Malaysia. Pengu-muman berdirinya negara baru
ini disambut demonstrasi di Indonesia dan Philipina. Hubungan Indonesia dengan
Malaysia dan Inggris lalu genting, menimbulkan konfrontasi antara Indonesia
dengan bekas negara Persekutuan Tanah Melayu (Malaysia dan Singapura). Kerajaan
yang di-pimpin seorang Raja bergelar: Yang Dipertuan Agung dengan Perdana
Menterinya: Tengku Ab-dul Rachman Al Haj beraliran “Liberal Demokratis” berada
dalam keadaan tidak harmonis de-ngan Indonesia, ketika itu dipimpin oleh duet
Presiden Sukarno dengan Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio beraliran “Sosialis dengan
Demokrasi Terpimpin”.
Pada tanggal 3 Mei 1964 Presiden Sukarno
mengumumkan Dwi Komando Rakyat, disingkat Dwikora, berisikan perintah:
1. Perhebat Ketahanan Revolusi
Indonesia,
2. Bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat
Malaya, Sabah, dan Serawak serta Brunai, untuk
memerdekakan diri, dan
3. Bubarkan
negara Malaysia.
Pemerintah Indonesia menganggap “Persekutuan
Tanah Melayu” telah berubah menjadi “Ke-rajaan Malaysia”, sebuah boneka Inggris
dan Amerika Serikat di Asia Tenggara ketika itu.
Di diseluruh tanah-air ketika itu dimana-mana
dihimpun para pemuda sukarelawan yang bersedia dikirim ke semenanjung Tanah
Melayu dan Sarawak di Kalimantan Utara untuk mengganyang negara yang oleh
pemerintah Indonesia ketika itu dituduh boneka imperialis. Sukarelawan terdiri
dari pasukan pilihan yang ditempatkan di wilayah perbatasan sekitar Selat
Malaka dan perbatasan dengan Kalimantan Utara. Kebanyakan aktivis ketka
itu digerakkan PKI tampaknya ber-tujuan memanfaatkan momentum untuk
merebut tampuk kekuasaan bilamana saatnya tiba. Perlu diketahui, PKI ketika itu
sedang berganti haluan dari Marxisme-Leninisme (model Uni-Sovyet) menjadi
Marxisme-Maoisme (model Cina), karena para pemimpin partai ini sedang beralih
generasi dari tua menjadi muda. Juga menyimak keadaan masyarakat Indonesia
yang didominasi kaum tani jelas lebih relevan dengan perjuangan kaum tani di
Cina ketimbang perjuangan kaum buruh di Uni-Sovyet silam.
Konfrontasi Indonesia-Malaysia berlangsung 3
tahun lamanya dan sangat melemahkan Indonesia
di segala bidang. Banyak sukarelawan dikirim ke medan tempur di
perbatasan gugur sia-sia melakukan tugas. Mereka harus berhadapan dengan
pasukan bantuan didatangkan dari: Inggris, Kanada, Selandia Baru, dan Australia
yang terlatih dan bersenjata lengkap lagi moderen pemenang Perang Dunia ke-II;
tidak seimbang dengan persenjataan para sukarelawan yang diki-rim pemerintah
Indonesia. Banyak yang tertangkap di Malaysia dan Singapura, dipenjarakan, lalu
diadili, dan dihukum mati.
Pada tahun 1964 Presiden Diosdaldo Makapagal dari
Filipina berkunjung ke Indonesia disambut pemerintah Indnesia dalam rangka
menggalang persatuan diantara sesama negara Nefos: Asia, Afrika dan Amerika
Latin guna melawan negara-negara Odefos.
Dalam sebuah acara Lembaga Pertahanan Nasional diselenggarakan
di Bandung tanggal 11 Mei 1965, Presiden Sukarno mengatakan dengan jelas, bahwa
musuh kita bukan datang dari Utara (Cina), akan tetapi dari Barat (Ingris dan
Amerika). Pada bulan April tahun yang sama Perdana Menteri Cina Cho En Lay
berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengan Presiden Sukarno. Ia lalu
mengusulkan pembentukan Angkatan ke-5 di Indonesia, terdiri dari kaum buruh dan
kaum tani yang dipersenjatai. Dinamakan angkatan kelima, karena akan berada
dalam urutan terakhir sesudah: 1.Angkatan Darat, 2.Angkatan Laut, 3.Angkatan
Udara, dan 4. Angkatan Kepolisian. Pada tanggal 30 Agustus 1965 massa
berdemonstrasi didepan kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta menuntut duta
besar Amerika Serikat Marshall Green “go home”. Para demonstran pendukung Lembaga Kebudayaan Rakyat, disingkat Lekra, lalu melakukan pembakaran piringan-piringan hitam lagu the Beatles, begitu pula buku-buku ilmu
pengetahuan terbitan Barat. Sastra Manifesto Kebudayaan, disingkat
Manikebu, dan kebudayaan lain termasuk yang datang dari Amerika Serikat dan sekutunya ditolak
dan dilarang beredar di tanah-air.
Berawal surat Duta Besar Inggris Gilchrist di
Jakarta ditujukan kepada Menteri Luar Inggris di negaranya lalu jatuh ke tangan
Dr. Subandrio Menteri Luar Negeri Republik Indonesia saat itu. Surat tentang
kedaan di Indonesia yang menceritrakan kerjasama Inggris dan Amerika Serikat di
Indonesia, memuat untaian kata: “our local army friend”. Mempercayai keaslian
surat, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia lalu menyampaikannya kepada
Kepala Negara. Pada tanggal 26 Mei 1965 Presiden memanggil Pimpinan TNI lalu
membacakan isi surat. A. Yani selaku Menteri/Panglima Angkatan Darat ketika
itu mengatakan, bahwa tidak ada hubungan Perwira TNI dengan Inggris dan Amerika
Serikat. Ia juga membantah adanya Dewan Jenderal dalam tubuh Angkatan Darat
yang dipimpinnya.
Pada malam tanggal 30 September 1965 di Jakarta, terjadi
Gerakan 30 September, disingkat G30S, lalu menculik tujuh orang pimpinan
Angkatan Darat Republik Indonesia, disiksa, dan di-bunuh, lalu dimasukkan
kedalam sumur tua di Lubang Buaya guna menghilangkan jejak. Sekelompok perwira
Angkatan Bersenjata simpatisan PKI aliran Marxisme/Maoisme di Jakarta, ditu-duh
melakukan makar terhadap: Menko HANKAM/KASAB, Menteri Panglima Angkatan Darat sampai
dengan para asistennya. Para korban penculikan dituduh menjadi anggota Dewan
Jende-ral yang berusaha menggulingkan Presiden Sukarno. Akan tetapi
Jenderal Abdul Haris Nasution yang termasuk dalam daftar penculikan, lolos dari
perbuatan makar.
Dalam siaran RRI, Letkol Untung, Komandan
Balatyon Cakrabirawa Pengawal Presiden, me-ngemukakan Kabinet Dwikora
demisioner, dan negara berada dibawah Dewan Revolusi Indo-nesia (DRI) kini
berada dibawah kepemimpinnya bersama empat orang wakil. Keesokan harinya
Presiden Sukarno mengemukakan bahwa dirinya sehat walafiat, dan mengatakan
masih meme-gang tampuk pemerintahan; bahwa segala yang telah terjadi
adalah biasa dalam sebuah revolusi. Pernyataan Presiden Sukarno, sekaligus
Perdana Menteri Demokrasi Terpimpin dan Pemimpin Besar Revolusi, berarti bahwa
Revolusi Bangsa Indonesia yang telah menyengsarakan kehidupan rakyat, mulai
saat itu telah pula memangsa anak-anaknya sendiri, sebagaimana
revolusi-revolusi yang telah berlangsung di sejumlah negara Tirai Besi aliran
Marx-isme/Leninisme dan Tirai Bambu aliran Marxisme/Maoisme yang diktatur
proletar saat itu.
Standing order (perintah menanti) Angkatan Darat
mengatakan, apabila Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani berhalangan,
Panglima Kostrad yang dijabat Mayjen Suharto me-ngambil alih pimpinan,
menyebabkan yang disebut terakhir bertindak melaksanakan penumpasan terhadap
G30S. Lolosnya Jenderal Abdul Haris Nasution meruntuhkan moral Gerakan 30 Sep-tember,
sehingga yang merasa terlibat segera mencari perlindungan kepada Kepala Negara.
Pada tanggal 1 Oktober 1965, Presiden Sukarno memerintahkan Mayjen Pranoto
Reksosamudro seba-gai pelaksana harian menggantikan Letjen Ahmad Yani. Sebagai
akibatnya timbul dualisme kepemimpinan di tubuh Angkatan Darat ketika itu.
Panglima Angkatan Laut mengatakan tidak mendukung G30S, begitu juga Panglima
Angkatan Udara setelah terlebih dahulu meralat ketera-ngan sebelumnya.
Penyelesaian dualisme kepemimpinan dalam tubuh Angkatan Darat lalu terpu-lang kepada
Kepala Negara.
Merasa tidak lagi aman berdiam di Istana Negara
Jakarta, Presiden Sukarno yang tengah me-mimpin sidang Kabinet tanggal 11 Maret
1966 terburu-buru mengungsi ke Istana Bogor dengan helikopter, dan menyerahkan
pimpinan sidang kepada Waperdam II, saat itu dijabat Dr. Leime-na. Tarik ulur
kepemimpinan Angkatan Darat antara “standing order” dengan “perintah Presi-den”
menggantikan Letjen Ahmad Yani merupakan agenda utama sidang ketika itu.
Presiden Su-karno lalu mengeluarkan surat perintah 11 Maret 1966, disingkat
Supersemar, guna menertibkan kerusuhan Ibukota. Supersemar kemudian melahirkan
lembaga negara baru bernama:“Panglima Komando Opersi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban”, disingkat “Pangkopkamtib”. Dan May-jen Suharto menerima Supersemar
dari Kepala Negara lalu menjadi Pangkopkamtib pertama melaksanakan tugas penertiban Ibukota.
Tanggapan Kepala Negara pada keadaan Ibukota menimbulkan
ketidak puasan masyarakat di-mana-mana, khususnya sikap presiden Sukarno
terhadap para pimpinan PKI yang terlibat G30S, penganiayaan di Mesjid Jami
Kanigoro kecamatan Kras Kediri, pembunuhan pelda Sujono di Perkebunan Negara
Bandar Betsi, pembantaian di Lubang Buaya, dan lainnya. Kepala Negara yang
meninggalkan istana dan berada di Halim Perdanakusuma ketika itu hanya
memerintahkan kedua fihak yang bertikai menghentikan perseteruan; akan tetapi
tidak bersedia membubarkan PKI yang telah melakukan makar. Padahal rakyat yang
anti-komunis dimana-mana sedang menunggu keberpihakan Kepala Negara pada
penegakan hukum yang adil.
Gerakan 30 September tahun 1965 telah menimbulkan
malapetaka besar di tanah-air. Tidak ku-rang tiga juta orang anak-anak bangsa
dikhabarkan telah terbunuh sia-sia oleh kewenangan yang mengizinkan aniaya
dilakukan terhadap anak-anak bangsa yang dituduh komunis golongan A ke-tika
itu. Memindahkan belasan ribu anak-anak bangsa lain terisolasi di Pulau Buru di
Maluku, karena dituduh komunis golongan B. Dan jutaan warga negara Indonesia
lain yang dituduh orang komunis golongan C yang mendapat perlakuan
diskriminatif dalam masyarakat di tanah tumpah darahnya sendiri.
Pada tanggal 25 Oktober 1965, menteri PTIP
(Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) ketika itu dijabat Dr.Syarif Tayeb,
mengundang para tokoh masyarakat dan para mahasiswa anti-komu-nis datang
kerumahnya untuk bertukar fikiran. Pertemuan ini melahirkan Kesatuan Aksi Maha-siswa
Indonesia, disingkat KAMI, guna menyingkirkan Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa
In-donesia, disingkat PPMI, Majelis Mahasiswa Indonesia, disingkat MMI, yang
para pemimpinnya memihak PNI Ali-Surachman, disingkat PNI-ASU. KAMI lalu
bergerak bersama ABRI memba-ngun kekuatan sosial bernama: Orde Baru. Langkah
para mahasiswa ini disusul pula Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia,
disingkat KAPPI, Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia, disingkat KAPI, Kesatuan Aksi
Guru Indonesia, disingkat KAGI, Kesatuan Aksi Buruh Indonesia, disingkat KABI,
Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia, disingkat KASI, Kesatuan Wanita Indonesia,
disingkat KAWI, dan lainnya. Kesatuan-kesatuan aksi ini lalu bergabung menjadi
Front Panca-sila yang berkedudukan di Jakarta.
Pada tanggal 28 Juli 1965 Ferry Awom dari
Organisasi Papua Merdeka, disingkat OPM, di Ma-nokwari memproklamirkan
kemerdekaan Papua Barat. Ia merekrut para pemuda untuk melakukan perang
gerilya.
Adapun Mandacan ialah salah satu kelompok OPM yang sangat gigih dalam perjuangannya.
Adapun Mandacan ialah salah satu kelompok OPM yang sangat gigih dalam perjuangannya.
Pada tanggal 13 Desember 1965, Kabinet Dwikora
pimpinan Presiden Sukarno kembali melaku-kan sanering mata uang Rupiah beredar,
enam tahun setelah sanering kedua. Langkah moneter drastis ini kembali membuat
Rp1000,- lama menjadi Rp.1,- baru. Karena jaminan terhadap uang Rupiah baru
tidak lebih baik dari sebelumnya, pendapatan karyawan berpenghasilan tetap kembali
terpangkas, menyebabkan kehidupan rakyat dimanamana semakin sengsara. Selain
dari itu, terdapat pula pungutan 10% untuk tiap penukaran uang lama dengan uang
baru untuk “Dana Revolusi”. Kini, tidak ada lagi janji pemerintah akan mengembalikan
uang rakyat yang hangus oleh sanering yang semakin menyengsarakan masyarakat.
Harga-harga bahan kebutuhan pokok rakyat langsung melambung, inflasi lalu
menembus 650% menuju 1000%. Langkah moneter paling akhir ini langsung menyulut
kemarahan mahasiswa Ibukota yang segera turun ke jalan-raya untuk
berdemonstrasi.
Sebagai akibat rentetan sanering mata Rupiah: pertama 1/2, kedua 1/1000, dan ketiga 1/1000, maka Rupiah tahun 1965
nilainya menjadi tinggal 1/2.000.000 dari Rupiah tahun 1950, menyebabkan para karyawan,
baik pegawai negeri demikian pula swasta, tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan
hidup keluarga yang mereka tanggungan. Ketiga langkah moneter Demokrasi Ter-pimpin,
saat itu dipimpin oleh Presiden Sukarno telah menyebabkan perekonomian bangsa
Indo-nesia hancur lebur sekaligus menyengsarakan hidup bangsa Indonesia, hanya
satu setengah dasawarsa setelah kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan tanah
Hindia Belanda tahun 1949 kepada RIS di Den Haag yang diterima Drs Mohammad
Hatta.
Pada tanggal 10 Januari 1966, di halaman Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia Salemba, Front Pancasila mengajukan Tri
Tuntutan Rakyat, disingkat Tritura kepada pemerintah untuk dijawab dengan
segera. Ada tiga tuntutan yang disampaikan oleh mahasiswa pada ketika itu:
1. Bubarkan PKI,
2. Rombak
Kabinet Dwikora, dan
3. Turunkan
harga-harga bahan kebutuhan hidup rakyat.
Tiga hari usai dibacakannya Tritura, Presiden
Sukarno menunjukkan kemarahan dan penyesalan kepada para mahasiswa dengan
sebutan: “goblok dan tolol”, “suka kawin”, “menteri gundik” dan “vestin”
(vested interest) yang ditujukan kepada para menteri kabinet. Ibu Hartini yang
ketika itu menjad ibunegara, tidak luput dari kecaman mahasiswa yang sedang
marah. Mahasiswa lalu me-nuntut agar vestin dienyahkan karena menjadi musuh
pembaharuan, begitu juga koreksi total terhadap perekonomian bangsa. Ketiga
kata: Tritura, Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat), dan Tuhanura (Tuntutan Hati
Nurani Rakyat) menjadi rangkaian kata yang sangat populer disuara-kan
massa yang sedang berdemonstrasi ketika itu. Kepala Negara rupanya tidak
menghiraukan tuntutan mahasiswa membuat kesatuan aksi lalu menyebar ke berbagai
kota nusantara.
Pada tanggal 15 Januari 1966, berlangsung sidang
Kabinet Dwikora dipimpin Presiden Sukarno di Bogor dihadiri oleh sejumlah tokoh
KAMI. Presiden Sukarno berjanji akan menyelesaikan persoalan politik di
tanah-air. Selain dari itu Presiden juga memberi kesempatan kepada siapa saja
yang dapat memperbaiki ekonomi Indonesia yang telah hancur lebur dalam waktu
singkat. Tuntutan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat terus menggema menelusuri
waktu. Keadaan yang mencekam di ibukota Jakarta ketika itu, dilaporkan mingguan
Newsweek dari Amerika Serikat dengan rangkaian kata: “sixty days that shook the
world” (artinya: 60 hari yang mengguncang dunia).
Kabinet Dwikora yang memerintah saat itu berusaha
keras menekan aktivitas dan gerakan beragam kesatuan aksi yang menjamur, dan
Menteri Luar Negeri R.I. selaku Waperdam I Dr. Subandrio, semakin menunjukkan
perlawanan dengan penyelenggaraan rapat akbar di Senayan. Ia bahkan mengatakan
“bahwa tindakan teror harus dibalas dengan teror pula”. Ucapan ini lalu memicu
bentrokan fisik antara pendukung bebagai kesatuan aksi dengan yang menentang
mere-ka. Selain dari itu, Presiden Sukarno juga menganjurkan dibentuk “Barisan
Sukarno”, dengan semboyan “Hidup matiku bersama Bung Karno”. Presiden Sukarno menunjuk
Chaerul Saleh se-laku Waperdam III menjadi pimpinan tertinggi Barisan Sukarno.
Langkah ofensif yang diambil Dr.
Subandrio selaku Waperdam I dan Menteri Luar Negeri yang didukung Presiden
Sukarno saat itu, ternyata tidak menyurutkan gerakan berbagai kesatuan aksi,
bahkan sebaliknya semakin menyalakan dan menggelorakan semangat mereka untuk melakukan
perlawanan.
Kabinet Dwikora Disempurnakan
Presiden Sukarno lalu mereshuffle Kabinet
Dwikora, menjadikannya Kabinet Dwikora yang disempurnakan, lebih dikenal
dengan nama Kabinet 100 Menteri. Dalam kabinet yang baru selain terdapat seratus orang menteri yang
memimpin departemen, terdapat juga orang-orang yang dicurigai masyarakat
terlibat dalam G30S. Menjelang pelantikan Kabinet Dwikora yang disem-purnakan
tanggal 24 Februari 1966 di ibukota, beragam kesatuan aksi lalu kembali turun
ke jalan-jalan raya Jakarta. Mereka memblokade seluruh jalan menuju Istana yang
akan dilewati menteri, lalu mengempeskan ban mobil-mobil yang ada di
jalan-jalan raya agar tidak lagi dapat bergerak.
Dengan demikian lahirlah “Angkatan 66” yang melakukan
koreksi terhadap pemerintah yang te-ngah berkuasa. Para demonstran lalu
bergerak memasuki kantor-kantor di ibukota yang para menterinya dicurigai
terlibat G30S, seperti: Deplu (Departemen Luar negeri), dan lainnya. Lahir pula
di tanah-air istilah politik “DPR jalanan”. Rumah kediaman Waperdam I Dr.
Subandrio dan menteri-menteri yang dicurigai terlibat G30S tidak luput dari
sasaran untuk dimasuki. Sejak dilangsungkannya reshuffel kabinet, Kabinet
Dwikora Disemprnakan telah dimacetkan kekuatan fisiknya secara formal di
lapangan oleh para demonstran yang mewakili rakyat. Banyak menteri kabinet saat
itu terpaksa menginap di guest house Istana. Kegiatan belajar mengajar
di sekolah dasar sampai perguruan tinggi jadi terlantar di sejumlah kota.
Diperlukan waktu berbulan lama-nya untuk memulihkan kembali kegiatan pendidikan
dan pengajaran di tanah-air.
Untuk menemukan jalan keluar memperbaiki
kembali perekonomian bangsa yang telah hancur, pada bulan Januari 1966 di Universitas
Indonesia Jakarta berlangsung seminar KAMI. Pada tanggal 30 Januari 1967, KAMI
mempelopori massa melakukan apel Siaga di depan gedung DPRGR un-tuk menolak dibacakannya
Nawaksara, yakni pidato pertanggungjawaban Presiden Sukarno di-depan Parlemen.
Pada tanggal 9 Februari 1966 KAMI mensponsori lagi pawai Ampera 4 km panjangnya
di Bandung. Pada tanggal 26 Februari 1966, Presiden Sukarno memerintahkan untuk
membubarkan KAMI. Kemudian pada tanggal 3 Maret 1966, Presiden Sukarno
memerintahkan UI (Universitas Indonesia) ditutup, akan tetapi tuntutan gerakan
Tritura dan demonstrasi yang mereka lakukan tetap terus berjalan.
Sebuah tembakan yang dilepaskan Pasukan Pengawal
Presiden didepan Istana Merdeka me-ngenai Arief Rachman Hakim, seorang
mahasiswa Universitas Indonesia dan menewaskannya. Di ibukota berlangsung pula pawai
beragam motor besar yang menuntut dibubarkannya PKI, mendukung ABRI, dan diturunkannya
harga bahan-bahan kebutuhan pokok rakyat. Pada tanggal 8 Maret 1966 demonstrasi
serupa berlangsung juga di kota Surabaya.
Demikianlah satu persatu hari-hari yang menegangkan
berlalu di tanah-air ketika itu oleh dualisme kepemimpinan yang masih terus bertahta
di ibukota: disatu fihak Presiden Sukarno tetap bersikeras tidak sudi membubarkan
PKI, dan difihak berseberangan berbagai kesatuan aksi dan ABRI yang setia
kepada pancasila menuntut agar PKI dibubarkan. Karena yang diinginkan rak-yat
masih belum kunjung tiba, maka perjuangan kesatuan aksi kemudian ditujukan kepada
pusat tirani, yaitu Presiden Sukarno yang menjadi benteng Orde Lama. Perlawanan
kesatuan-kesatuan aksi mencapai puncaknya saat Kepala Negara tanggal 11 Maret
1966 memerintahkan Mayjen Suharto menertibkan keadaan. Perintah Presiden
Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966 itu lalu di-kenal dengan: "surat
perintah sebelas Maret", disingkat supesemar. Pada tanggal 12 Maret 1966
Mayjen Suharto kemudian mengumumkan pembubaran Partai Komunis Indonesia berikut
man-tel-mantelnya di seluruh nusantara.
Konfrontasi Indonesia melawan Malaysia lalu
berakhir pada tahun 1966, setelah Presiden Sukarno, benteng Orde Lama terguling
dari kekuasaan, dengan timbulnya Gerakan 30 September di Jakarta pada tahun
1965.
Pada tanggal 16 Maret 1966 mahasiswa, pemuda,
pelajar, menuntut DPRGR membersihkan Kabinet Dwikora Disempurnakan dari para oknum
G30S. Pada tanggal 29 Maret 1966 KASI Ban-dung menyatakan perjuangan
mahasiswa/pelajar merupakan koreksi “Angkatan 66” terhadap “Angkatan 45” yang telah
menyeleweng dari tujuan revolusi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Dan pada
tanggal 27 April 1966 KASI Jakarta menolak DPA yang baru bentukan Presiden Su-karno.
Keesokan harinya KAMI juga menolak pelantikan DPA yang baru dibentuk itu.
Pada tanggal 6 Mei 1966, di Universitas Indonesia
Jakarta berlangsung Simposium Ekonomi dengan tema: “Menjelajah Trace Baru untuk
Indonesia” dipimpin moderator Prof. Widjojo Niti-sastro. Pada bulan Juni 1966
KAMI, KAPPI, KAPI dan lainnya melaksanakan pawai besar di se-jumlah kota, yakni:
Jakarta, Bogor, Bandung, untuk menolak SUMPRS. Pada bulan Desember 1966
berlangsung pawai besar yang mendukung pernyataan ABRI melaksanakan Pancasila
dan UUD 45 secara murni dan konsekuen.
Lalu timbul hasrat bangsa untuk kembali memulihkan
lagi perekonomian Indonesia yang telah hancur lebur dibawah kepemimpinan
Presiden Sukarno dengan Sistim Demokrasi Terpimpin yang diciptakannya,
berangkat dari:
1. seminar KAMI bulan Januari 1966 di Universitas Indonesia;
2.
ketetapan MPRS No. XXIII/ 1966 tanggal 5 Juli 1966 tentang Pembaruan Landasan Ke-
bijakan Ekonomi, Keuangan dan
Pembangunan;
3. begitu pula seminar Angkatan
Darat tanggal 11 Agustus 1966 di Bandung,
kemudian menelurkan Peraturan 3 Oktober 1966 yang
terkenal. Ketiganya menjadi landasan bagi Kabinet Ampera untuk memulihkan dan
menstabilkan kembali perekonomian bangsa yang telah porak poranda akibat
kebijakan sebelumnya. Semboyan “Revolusi yang belum selesai” dari zaman
pemerintah Demokrasi Terpimpin, kemudian diganti menjadi ”Revolusi damai” di
era pe-merintahan Demokrasi Pancasila.
Kendati masih terus menuai: polemik, kritik,
emosi politik, terhadap berbagai langkah dan ke-bijakan diambil untuk
menyelamatkan perekonomian bangsa Indonesia ketika itu, Sistim Demokrasi
Terpimpin dengan segala kebijakan yang terdapat didalamnya, dinamakan “Orde
Lama” ditinggalkan, lalu digantikan dengan Sistim Demokrasi Pancasila berikut
sejumlah kebi-jakan baru untuk dilaksanakan, dan dinamakan “Orde Baru”.
Zaman Demokrasi Pancasila
1. Masa Pemulihan Sosial Ekonomi
1965-1975
Dengan lahirnya Supersemar dualisme kekuasaan lalu
lenyap, sehingga Mayjen Suharto dapat membubarkan PKI termasuk mantel-mantel
organisasinya dari bumi Indonesia, dan melarang penyebaran ajaran komunis di
Indonesia, kecuali untuk ilmu pengetahuan sosisl di lingkungan Pendidikan
Tinggi, dan menangkap para Menteri yang terlibat G30S. Tindakan Pangkopkamtib
ketika itu disambut gembira masyarakat, mulai: mahasiswa, pelajar, pemuda,
hingga ABRI. Ke-mudian para mahasiswa, pemuda, pelajar, ABRI, RPKAD, dan
Kavaleri melangsungkan pawai kemenangan di ibukota Jakarta.
Setelah keadaan di tanah-air tenang kembali,
satu-satunya musuh yang perlu dihadapi negara dan bangsa Indonesia saat itu ialah
memerangi inflasi guna memulihkan perekonomian bangsa. Dibawah pimpinan
Suharto, selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera saat itu, Indonesia mengajukan lagi
permohonan menjadi anggota PBB, sekaligus anggota badan-badan yang ber-naung
dibawahnya, antara lain: IMF dan Bank Dunia. Missi ekonomi yang dipimpin Sultan
Ha-mangkubuono ke IX lalu diutus ke Eropa dan Jepang, untuk menerangkan
kebijakan pemerintah Indonesia yang baru, sekaligus memohon penundaan pelunasan
hutang negara.
Pada ketika itu, Indonesia sudah tidak memiliki
uang samasekali untuk membayar hutang kepada IMF berjumlah US$ 55.000.000.; dan
hanya mampu menyerahkan tanda “kemauan baik, atau goodwill” sejumlah US$
30,000. dengan janji, akan mencicil semua kekurangan kemudian. Lalu antara tanggal 19 sampai 20 September
1966, di Tokyo berlangsung pertemuan “Tokyo Club”, bertema “The Indonesia
Case”. Pada saat itu delegasi Indonesia berjumpa langsung dengan wakil-wakil
kreditor IMF dan Bank Dunia. Lalu ada lagi pertemuan “Paris Club” juga untuk me-nanggulangi hutang Indonesia. Dari Moskow
datang pula utusan negara Beruang Merah mena-gih
hutang berjumlah US$ 2,4 Milyard dipimpin Sergiev hutang lama Indonesia yang dipakai
untuk membangun berbagai proyek yang kemudian ternyata sedikit manfaatnya karena
lemahnya managemen perencanaan ketika itu, sehingga baik lokasi maupun ukuran
pabrik yang dipilih tidak mencerminkan kelaikan ekonomi; diambil semata
bedasarkan keputusan politik. Sebagai akibatnya proyek-proyek yang dibiayai oleh
pinjaman itu tidak dapat membayar cicilan pelun-asan (debt service) diperlukan.
Setelah berunding di Jakarta, utusan Uni-Sovyet itu bersedia menerima cara
pelunasan hutang kesepakatan Paris Club.
Negeri Belanda mengambil inisiatif lalu
mengusulkan IGGI (Inter-Governments Group on Indo-nesia) yang bersidang di
Amsterdam, Negeri Belanda, untuk menolong Indonesia keluar dari ke-hancuran
ekonomi dengan pinjaman bersyarat lunak. Pinjaman IGGI dari Blok-Barat ternyata
le-bih ringan persyaratannya ketimbang yang diterima Indonesia dari Blok-Timur
sebelumnya. Pin-man lain dari Blok-Barat lalu ramai-ramai datang ke Indonesia,
antara lain: Inggris, Jerman Ba-rat, Kanada, Amerika Serikat, Nederland,
Jepang, dan Bank Dunia, total berjumlah US$ 2,265 Milyard. Menurut Prof.
Widjojo Nitisastro, pinjaman dengan persyaratan lunak yang diterima Indonesia
dalam rangka IGGI, adalah contoh baik yang patut ditiru negara-negara
berkembang lain. Dari pinjaman luar negeri model IGGI, Indonesia kemudian
beralih ke model CGI (Con-sortium of Governments on Indonesia) yang bermarkas
di Paris. Bantuan yang datang dari Aus-tralia ketika itu kebanyakan bentuk
grant semata.
Dengan langkah ditiga bidang yang diambil Kabinet
Ampera: keuangan, moneter, dan perdagangan, mengantarkan Indonesia pada tahun
1967 mengatasi defisit anggaran, dan pada tahun 1968 lenyap samasekali; lalu pada
tahun 1969 pemerintah Indonesia dengan Sistim Demokrasi Pan-casila mulai berhasil
mengisi tabungan.
Pada tahun 1967 Proyek Serbaguna Jatiluhur
diresmikan, setelah melewati waktu pembangunan 10 tahun. Waduk bermuatan
9.000.000 meter kubik air untuk pengairan di Jawa Barat, juga menghasilkan
tenaga listrik 6 x 31 MW disalurkan ke Jakarta dan Bandung lewat SUTT (saluran
udara tegangan tinggi) bertegangan 150 kV. Proyek yang dikerjakan konsultan dan
kontraktor Perancis ini baru menyelesaika satu dari tiga kaskada yang direncanakan
terdapat di aliran su-ngai Citarum yang bersumber mata air di Gunung Wayang.
Guna menghindarkan dualisme kepemimpinan pasca
G30S, karena Sukarno masih menyatakan diri sebagai Presiden R.I. yang syah
meski telah meringkuk dalam penjara, Jenderal A.H. Nasu-tion selaku Ketua MPRS yang
memimpin sidang MPRS tahun 1967, lalu mengangkat Mayjen Suharto menjadi pejabat
Presiden Republik Indonesia untuk menggantikan Sukarno.
Revolusi dimanapun muncul dan kapanpun
berlangsung ibarat sekeping uang logam wajah gan-da, terdiri dari: revoltare
dan revolvere. Yang pertama atau revoltare bertugas menumbangkan si-stim
kemasyarakatan telah usang karena tidak lagi sesuai dengan zaman, sedangkan yang
kedua atau revolvere bertugas membangun sistim kemasyarakatan baru yang lebih
baik untuk meng-gantikan. Revolusi bangsa Indonesia baru mengerjakan revoltare,
samasekali belum melakukan apa yang dinamakan revolvere. Sebagai akibatnya
“Revolusi yang belum selesai” tidak hanya memangsa anak-anaknya sendiri, tetapi
juga memangsa Pemimpin Besar Revolusi yang meng-gerakkannya sekali.
Setelah Indonesia merdeka 20 tahun lamanya, dari
tahun 1945 hingga 1965, kaum pergerakan
ternyata tidak berhasil mewujudkan Revolusi Bangsa Indonesia sebagai jembatan
emas mengantarkan bangsa Indonesa meninggalkan kemiskinan untuk meraih
kesejahteraan yang dijanjikan. Ini terbukti dari munculnya banyak keluhan anak bangsa dimana-mana merasakan
kehidupan yang semakin susah ketika itu, lalu bertanya kepada diri dan orang lain: “kapan merdeka ini akan
berakhir?”. Lalu muncul kerinduan anak bangsa pada zaman Belanda yang dikatakan
“zaman normal”, terutama bagi mereka yang pernah mengalami hidup di zaman
itu.
Maka dalam sidang umum MPRS tahun 1968, Suharto
dengan resmi dikukuhkan menjadi Presiden Republik Indonesia kedua.
Adapun tujuan Kabinet Ampera dengan Sistim
Demokrasi Pancasila untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan pemerintah
Sistim Demokrasi Terpimpin, terlebih Kabinet 100 menteri, yang telah menimbulkan
kekacauan administrasi aparatur negara, menyebabkan kesimpangsiuran we-wenang
dan tanggungjawab; menyebabkan perekonomian bangsa hancur lebur yang menyengsarakan
kehidupan bangsa. Dalam Sistim Demokrasi Terpimpin kekuasaan berada di tangan
satu orang, yakni: Sukarno, baik sebagai Kepala Negara demikian juga Perdana
Menteri, maupun Pemimpin Besar Revolusi Indonesia. Sebagai akibatnya, pengawasan yang dilakukan
lembaga perwakilan rakyat tercantum dalam UUD 1945 tidak dapat berjalan;
pemegang tampuk kekuasaan lalu menjadi liar, sewenang-wenang, dan menjelma
jadi diktator.
Benar apa yang dikatakan Lord Acton dari Inggris
yang mengemukakan: “power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely,
artinya: kekuasaan cenderung menyeleweng, kekuasaan mutlak akan menyeleweng mutlak pula”. Telah terbukti bahwa
pengemban kekuasaan Orde Lama tidak lagi dapat dikendalikan, lalu menyebabkan
malapetaka kepada bangsa Indonesia di berbagai bidang: pemerintahan,
perekonomian, kemasyarakatan, kebudayaan, dan nilai dalam masyarakat yang
berlaku saat itu .
Dengan kepindahan Oom Supardi Medan ke Jakarta,
hubungan bou Mariam dengan ayah sekeluarga yang berdiam di Bogor semakin akrab.
Ini ditandai pertukaran kunjungan yang kian sering sehingga bou menjadi semakin
dekat dengan ibu. R.A.Tuty Marini Puspowardoyo, ibunda Junus Efendi Habibie
(J.E.Habibie) rupanya mengetahui keakraban bou Mariam dengan ibu di Bogor.
Meski J.E. Habibie telah lama kenal dengan Mieke sejak dari Makassar, lalu di
Surabaya selama koliah, begitu juga kedua orang tua, namun untuk menerima pinangan
keluarga Habibie kepada Mieke, bou Mariam dan Oom Supardi masih membutuhkan pendapat
ayah dan ibu di Bogor. Inilah yang membuat ibunda J.E.Habibie perlu datang ke
rumah di jalan Belitung no.15 Bogor untuk bertemu ayah dan ibu. J.E. Habibie
lalu melangsungkan pernikahan dengan Mieke pada tanggal 6 Juni 1965 di jalan
Teuku Umar Jakarta.
Pada tanggal 3 Februari 1966, umat manusia
dikejutkan oleh keberhasilan Uni-Sovyet mendarat-kan pesawat angkasa bernama
Luna-IX di permukaan bulan, dan mengirim gambar televsi hi-tam-putih batuan
bulan mengitari pesawat angkasa permukaan bulan.
Pada tahun 1969 anak-anak uak Abdul Rani Nasution
dari Malaysia, masing-masing: abang Ali, abang Ahmad, abang Fahmi, abang Waras,
kakak Zaitun, kakak Habsah, dan uak perempuan, berkunjung ke kampung asal Muara
Botung. Dari Bogor, ibu dan ayah mengutus si Penta dan si Adek berangkat ke Muara
Botung untuk menemani melepas rindu di kampung halaman.
Pada tanggal 6 Juni 1968 Kabinet Pembangunan dilantik
untuk menggantikan Kabinet Ampera yang selama ini mempunyai tugas pokok memantau:
keuangan negara, moneter, perdagangan, dan perhubungan. Pada tanggal 30
Desember 1968, Presiden Suharto mengumumkan "Rencana Pembangunan Lima
Tahun Pertama", disingkat "Repelita I", sebagai bukti dimulainya
pemba-ngunan di seluruh nusantara. Repelita I ini ialah bagian dari
"Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama", disingkat
RPJPTP periode 25 sampai 30 tahun kedepan untuk Indonesia ketika itu.
Pada tanggal 20 Juli 1969, umat manusia
dikejutkan oleh keberhasilan misi angkasa luar Ame-rika Serikat Appolo XI
mendaratkan manusia di permukaan bulan, satu-satunya benda langit mengitari bumi. Misi yang diluncurkan tanggal
16 Juli 1969 dari Cape Canaveral, Florida, dido-rong Roket Saturn V. Setelah
mendarat di permukaan bulan, astronout Neil Armstrong lalu me-nuruni tangga Landing Module (Modul
Pendarat) dan menginjakkan kaki di permukaan bulan dan berkata: “one small step
of man, but a great leap of mankind (sebuah langkah kecil manusia, tetapi
langkah besar bagi kemanusiaan", lalu disusul Edwin Aldrin. Kejadian ini
masih tidak mudah diterima akal sebahagian besar umat manusia di bumi
ketika itu, termasuk anak bangsa di seluruh nusantara.
Setelah "Penentuan Pendapat Pakyat",
disingkat "Pepera" dilaksanakan tanggal 1 Desember 1969 di Irian
Barat sejalan kesepakatan yang telah ditandatangani: Indonesia, Belanda, dan
PBB silam, ternyata dimenangkan fihak Indonesia, maka perjuangan bangsa
Indonesia untuk membebaskan Irian Barat selesai. Tidak semua warga Papua Barat
menerima keputusan pepera, karena ada sebagian yang berpendapat bahwa pemerintah
Belanda telah berjanji akan memberi kemer-dekaan kepada daerah Papua
Barat pada tanggal 1 Desember 1971.
Setelah Irian Barat kembali kepangkuan NKRI, ayah
sebagai Kepala Djawatan Kehutanan lalu berangkat ke Papua Barat bersama menteri
Pertanian Republik Indonesia Sadjarwo Tjondro-negoro S.H. untuk melakukan
timbang terima hutan tanah Papua dari pemerintah Belanda ke pemerintah Indonesia.
REPELITA PERTAMA
Kabinet Pembangunan I
Dari tanggal 23 hingga 24 Februari 1979 di pulau Bali
berlangsung "Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Association of South East
Asian Nations", disingkat "ASEAN". Konferensi bermaksud untuk merajut
kembali kerukunan hidup negara-negara Asia Tenggara yang telah porak poranda akibat
politik konfrontasi dilancarkan rezim Orde Lama silam, dan meninggalkan
pertentangan antagonis antara kelompok negara Nefos melawan kelompok negara Oldefos
dari Demokrasi Terpimpin bersama Dwikora yang dipimpin Presiden Sukarno bersama
Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio. Dengan demikian dapat dibangun lagi
persahabatan antarbangsa sekawasan Asia Tenggara kedepan untuk kemajuan:
sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan budaya.
Pada tanggal 1
Juli 1971, ayah pindah dari Departemen Pertanian ke Departemen Pendidikan dan
Pengajaran untuk menjadi Staf Pengajar Institut Pertanian Bogor (IPB). Agar
tidak melampaui kepangkatan Rektor yang memimpin lembaga Pendidkan Tinggi Negeri
itu, ayah menerima pangkat Lektor Kepala golongan IVd, sekaligus menjadi Ketua
Program Studi Politik/Ekonomi Manajemen Hutan di Fakultas Kehutanan. Adapun
mata kuliah yang ayah berikan dalam Pro-gram Studi itu, ialah:
- Politik dan Perundang-undangan
Kehutanan.
- Pelestarian Alam dan Pembinaan
Margasatwa.
Setelah mengabdi sebagai Rimbawan di tanah-air puluhan
tahun lamanya, ayah menyadari betapa penting tumbuhan terlebih keberadaan
hutan di bumi. Lebih dari 400 juta tahun silam tanaman tiba di bumi, lalu
disusul hewan menyusui 75 juta tahun, lalu kera menyerupai orang 10 juta tahun,
dan manusia 300.000 tahun. Betapa lamanya hutan dan tanaman harus menyiapkan diri
guna menerima kehadiran hewan dan manusia di planit in. Hutan menjadi sumber
plasma nuftah menyediakan: pangan, obat-obatan, papan, dan lainnya yang sangat diperlukan
mahluk bergerak. Karena itu pembalakan hutan, baik yang liar oleh masyarakat maupun
industri kehu-tanan menjadi ancaman pada kehi-dupan mahluk di bumi karena, selain
untuk keperluan disebutkan diatas hutan juga berfungsi membersihkan udara
dengan memprodksi oksigen dibantu te-naga matahari lewat proses photosinthesis.
Hutan tropis dunia yang terus menerus berkurang luasnya terdapat di: Indonesia,
Afrika Tengah, dan Amerika Selatan kedepan perlu mendapat perhatian umat
manusia.
Ayah lalu memasuki masa pensiun dari Departemen
Pendidikan dan Pengajaran, tepatnya dari Institut Pertanian Bogor, terhitung
tanggal…..tahun…….
Selama berdiam di Bogor untuk yang kedua, ayah
selain berdinas di Departemen Pertanian dan Departemen Pendidikan dan
Pengajaran, ayah bersama ibu juga banyak berkegiatan dalam lingkungan
kekerabatan Dalihan Na Tolu masyarakat Batak dari Tapanuli Selatan, dan masyara-kat
setempat lainnya.
Perjalanan Ibadah Haji
Tidak lama setelah menikahkan kedua putri, pada
tahun 1973, ayah dan ibu berangkat menunai-kan Ibadah Haji ke Tanah Suci di
Mekah dan Madinah. Dari rumah di jalan Belitung no.15, ayah dan ibu diantar
rombongan keluarga sampai terminal bus Baranangsiang, dimana bus pengangkut jemaah ONH (Ongkos Naik Haji)
asal Bogor menanti. Rombongan jemaah Haji asal Bogor lalu diantarkan ke Asrama
Haji Pondok Gede tidak jauh dari Taman Mini. Adapun para jemaah yang berangkat
bersama ayah dan ibu dari Bogor saat itu, ialah: Oom Supardi dan istrinya (bou
Mariam) mertua J.E.Habibie yang datang dari Jakarta; Ompung Rinding Lubis
dari Medan bersama istrinya; dan abang Samin Pohan dari jalan Wayang Bandung
juga berikut istrinya. Mereka harus terlebih dahulu bermalam di Asrama Haji
Pondok Gede sebelum diterbangkan ke Sudi Arabia dari lapangan terbang Halim
Perdanakusuma. Perjalanan haji rombongan ONH ayah dari Asrama Haji Pondok
Gede sampai tiba kembali di tanah-air, seluruhnya memerlukan waktu 42 hari lamanya.
Tahun 1973 Amerika Serikat meluncurkan Stasiun
Angkasa bernama Skylab didorong roket Sa-turn V. Tidak seperti rekannya Stasiun
Angkasa Salyut bikinan Uni-Sovyet yang banyak menemukan kesulitan teknis ketika
diluncurkan dua tahun sebelumnya, Skylab menjadi tempat pemondokan astronaut di
angkasa mengorbit bumi. Akan tetapi, oleh kegiatan noda matahari yang menerpa,
orbitnya lalu merosot terlalu cepat. Lalu pada tanggal 11 Juli 1979, Skylab
terjerumus kembali masuk kedalam atmosfir bumi, membuat bagian-bagian Skylab
yang belum sempat terbakar habis saat menerobos atmosfir bumi kemudian
berjatuhan di sekitar Australia dan samudra Hindia.
REPELITA KEDUA
Kabinet Pembangunan II
2. Masa Represi Sistematis 1974-1985
Tanggal 15
Januari 1974 mahasiswa Indonesia kembali beramai-ramai turun ke jalan-raya untuk
berdemonstrasi menolak kunjungan Perdana Menteri Kakuei Tanaka dari Jepang.
Negara Mata-hari Terbit saat itu dituduh sebagai lambang dominasi asing di
Indonesia yang harus ditolak kedatangannya. Aksi long marsh dilakukan mahasiswa
dari Kampus Universitas Indonesia Sa-lemba menuju Kampus Universitas Trisakti
Grogol, dan mengajukan tiga butir tuntutan kepada pemerintah Orde Baru:
1. Memberantas
korupsi,
2. Melakukan perubahan
kebijakan ekonomi terhaap modal asing,
3. Membubarkan
lembaga Asisten Pribadi Presiden Suharto.
Usai long marsh mahasiswa, massa yang tidak diketahui
darimana berasal lalu menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan Pusat Perdagangan
Gelodok. Mereka kemudian menjarah barang-barang, membakar toko dan mobil
bikinan Jepang, memperkosa dan membunuh warga keturu-nan, meninbulkan kerusuhan
yang dikenal dengan "Malapetaka Limabelas Januari", disingkat
"Malari". Lalu muncul theori “killing ground” dialamatkan kepada
mahasiswa yang dituduh telah merencanakan kerusuhan (vandalisme) sebelumnya saat
itu; karena terdapat di lapangan bersamaan para perusuh yang menimbulkan kekacauan,
pembakaran, dan pembunuhan. Peme-rintah lalu beralasan memberlakukan kembali UU
Anti-subversi yang represif lalu menangkap, mengadili, dan menjebloskan para
aktivis kedalam rumah tahanan dan penjara. Sejarah lalu berulang kembali:
"Revolusi Damai” bikinan pemerintah Orde Baru memangsa anak-anaknya
sendiri, yakni para mahasiswa aktivis yang sudah berjasa menumbangkan Orde Lama
guna men-dirikan Orde Baru.
Pada tanggal 19 Desember 1974 , bertepatan hari
Ulang Tahun Universitas Gajah Mada ke-25 di Yogyakarta, Presiden Suharto dalam
pidato sambutannya memperlihatkan perhatian kepada ajaran pancasila. Menurut
Kepala Negara saat itu, ideologi negara ini perlu dilaksanakan dengan murni dan
konsekuen sejak Dekrit 5 Juli 1959 silam, akan tetapi dalam periode 1959-1965
terbukti menimbulkan penafsiran menyimpang. Ini terbukti dari upaya Presiden
Sukarno menya-tukan tiga pandangan hidup
berbangsa versi Orde Lama ketika itu, yakni: nasionalisme, agama, dan
komunisme, lalu mencanangkan gagasan tunggalnya nasional-agama-komunis,
disingkat "nasakom". Gagasan ini membuka peluang kepada PKI mengembangkan
ajaran Marxisme me-nurut kondisi yang ada di Indonesia.
Pada Dies Natalis ke-25 Universitas Indonesia
tanggal 15 Februari 1975 di Jakarta, Presiden Suharto memperkenalkan gagasan
"Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila", disingkat
"P4". Badan Pekerja MPR kemudian dibentuk guna menanggapinya, dan
sejumlah rapat Panitia Ad-Hoc lalu dilangsungkan. Kemudian lahir Tap MPR
No.II/MPR/98 untuk P-4, yang disam-paikan pada Kepala Negara/Mandataris guna
dilaksanakan. Dengan berlakunya ketetapan ini, semua lembaga negara termasuk suasta
mulai lembaga pendidikan yang ada di tanah-air harus mengikuti penataran P-4.
Penataran P-4 kemudian menjadi sarana pendidikan politik bangsa Indonesia yang
digariskan pemerintah Orde Baru.
Pada tanggal 28 Nopember 1975, sembilan hari
setelah Timor Timur memproklamirkan kemer-dekaannya dari Portugal, Indonesia lalu
menyerbu wilayah itu guna menjadikannya propinsi NKRI ke 27 yang menimbulkan
banyak korban. Ketenteraman di propinsi itu lalu bergolak, sehingga terpaksa UN
International Forces for East Timor (pasukan Internasinal PBB untuk Timor
Timur) perlu didatangkan untuk mengtasi keadaan. Pada Tanggal 20 Mei 2002,
Timor Timur mengumumkan diri sebagai negara merdeka yang berdaulat dan menjadi anggota
PBB.
Dalam menyebarluaskan P-4 ke seluruh nusantara, di
Indonesia lalu dibentuk "Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila", disingkat "BP-7"; sebuah
Lembaga non-Departement berada langsung dibawah pimpinan Presiden Suharto.
Selain BP-7 Pusat beralamat di Pejambon Jakarta, terdapat lagi cabang BP-7
untuk Daerah Tingkat I, dan cabang BP-7 Daerah Tingkat II., yang bertugas sebagai
pelaksana lapangan penataran P-4 diseantero tanah-air.
Gagasan Ibu Negara Ny. Tien Suharto membangun
"Taman Mini Indonesa Indah", disingkat "TMII", langsung mendapat
penolakan mahasiswa di tanah-air, karena khawatir akan menjadi tempat timbulnya
korupsi. Pemerintah Orde Baru lalu memberlakukan "Normalisasi Kegiatan
Kampus/Badan Kegiatan Kampus", disingkat "NKK/BKK" ketika itu. Mahasiswa
lalu dilarang melakukan kegiatan politik di lingkungan kampus di seluruh Indonesia.
3. Peristiwa Tanjung Periok dan DOM
Aceh 1985-1995
Sebagai dampak dari penguasaan "Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional", disingkat: BP-PN, berlebihan atas
"Badan Perencanaan Pembangunan Daerah", disingkat BPPD, maka pada
tanggal 4 Desember 1976 di Aceh Tengku Hasan Tiro mendeklarasikan "Gerakan
Aceh Mer-deka", disingkat "GAM". Sejak saat itu GAM menyerbu
kompleks kilang Mobil Oil di Lhok Seumawe. TNI, yang ketika itu bernama
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) lalu terlibat aktif dalam perang melawan GAM.
Pemerintah Orde Baru pimpinan Presiden Suharto saat
itu lalu mengirim pasukan ke Aceh dari pulau Jawa, lalu menetapkan Aceh sebagai
"Daerah Operasi Militer", disingkat "DOM". Ribuan
"Komando Opersi Khusus", disingkat Kopasus, diterjunkan di bumi
Seulawah untuk menumpas gerakan separatis itu. Pada tahun 1990 jumlah pasukan pusat
diterjunkan telah melampaui duabelas ribu orang, bersandi Operasi Jaring Merah.
Ribuan rakyat tidak berdosa lalu menjadi korban DOM, kuburan massal lalu
bermunculan dimana-mana di seluruh tanah Serambi Mekah itu. Puluhan ribu wanita
menjadi janda, dan tidak terhitung jumlah anak-anak yang telah kehilangan orang
tua yang sangat mereka cintai.
DOM yang diberlakukan lebih dari tiga dekade
lamanya di Acek ketika itu, lalu berakhir dengan perdamaian yang ditengahi
Presiden Finlandia dari Eropa. Setelah kesepakatan segitiga dicapai, Tengku
Hasan Tiro selaku pemimpin GAM, lalu pulang ke tanah Rencong dari tempat
pengasi-ngannya di luar negeri lalu disambut dan dieluelukan rakyat Aceh
di bandara Blang Bintang.
Pada tahun 1977 ayah dan ibu berkunjung ke Jepang
dalam rangka kerjasama kehutanan antara Indonesia dengan negara Matahari Terbit
itu.
Dari Padang Sidempuan, terbetik khabar bahwa
Ompung Hajjah Maimunah Siregar sedang sakit. Orang tua yang oleh cucu-cucunya
dipanggil “Ompung Sidimpuan” tinggal di jalan Lubuk Raya no.2, Tanah Lapang,
telah berumur 77 tahun. Ompung yang sempat menghadiri pernikahan putri-putri ibu
di Bogor silam, generasi ketiga dirinya, berpulang ke Rachmatullah hari Rabu
tanggal 16 Februari 1977 di Padang Sidempuan. Ia kemudian dimakamkan di
Pargarutan, diba-ringkan dalam Bale berdampingan dengan Ompung Sutan Mulia. Ibu
dan bujing Chadidjah be-rangkat ke
Padang Sidempuan lewat Medan, dan masih dapat berjumpa dengan Ompung Maimunah
di kediamannnya, saat itu dikhabarkan sedang sakit keras.
Pada tanggal …1978, ayah menerima khabar bahwa
Uda Mursan Nasution, adik kandung lang-sung
dibawah ayah meninggal dunia di Medan. Ayah bersama ibu berangkat ke Medan
untuk melayat adiknya itu sekaligus menemui keluarga berduka yang ditinggalkan.
Pada tanggal 21 September 1979 muncul televisi
berwarna pertama di tanah-air, di Ibukota ne-gara, bertepatan berlangsungnya
pembukaan SEA (South East Asia) Games ke-VIII dilang-sungkan di Jakarta.
Pada bulan Desember 1979, Uni-Sovyet menyerbu
Afganistan untuk menjadikannya sebuah ne-gara satelit negara Blok-Timur.
Presiden Carter dari Amerika Serikat lalu mendukung para pejuang Afganistan
yang melakukan perlawanan dari Pakistan untuk menggagalkan.
Pada tahun 1979 ayah dan ibu kembali berkunjung
ke Medan untuk meresmikan rumah yang dibangun di jalan Gelugur By-Pass.
Pada tahun 1979, Revolusi yang dipimpin Ayatollah
Rohullah Khomeini dari luar negerinya ber-hasil menggulingkan Syah Iran dari
singgsana di Teheran, Iran, menimbulkan keberangan Ame-rika Serikat dan
sekutunya Raja yang tengah bertakhta di tanah Persia ketika itu. Syah Iran
terpaksa hengkang meninggalkan tanah-airnya hijrah ke luar negeri orang untuk
selamanya.
Pada tanggal 31 Agustus 1957, Malaysia memperoleh
kemerdekaan dari Inggris cara damai, dan dengan gemilang berhasil menyelesaikan
program ekonomi yang mensejahterakan rakyatnya. Sejak dari tahun 1980 negeri tanah
Melayu anggota ASEAN itu, kemudian menjadi tujuan wisata kerja (labour
tourism), ratusan ribu tenaga kerja asal: Indonesia, Filipina, Vietnam,
Srilangka, dan Bengladesh, yang mengadu nasib untuk jadi: pembantu rumah
tangga, pekerja bangunan, buruh kilang, dan tenaga perkebunan. Para pengadu
nasib dari tanah seberang itu kemudian mengubah wajah negeri para Sultan, Datuk, dan
Encik itu menjadi segelintir negara Asia dengan ekonomi terkemuka
dunia.
Pada
tahun 1981 Ronald Wilson Reagen terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang
baru. Ia berhasil mengalahkan Jimmy Carter dalam kampanye mengatasi maslah
sandra Amerika Serikat di Iran. Meski menjadi orang tertua yang pernah
memerintah di Amerika Serikat saat terpilih menjadi Presiden, akan tetapi
rakyat di negeri Paman Sam itu tetap memilihnya kembali untuk masa jabatan
kedua tahun 1984. Ia lalu digantikan Bill Clinton tahun 1989.
REPELITA KETIGA
Kabinet Pembangunan III
Dalam musim Haji tahun 1982, antara tanggal 19
Agustus hingga 1 Oktober ayah dan ibu kem-bali mendaftarkan diri untuk
berangkat ke Tanah Suci yang kedua. Kali ini ikut serta putra ayah Arif Mulia
Nasution (si Uncok) dan adik kandung ibu bujing Chadidjah Harahap. Meski ayah
mendapat gangguan kesehatan dalam perjalanan, namun keseluruhan perjalanan
ibadah haji kedua berjalan lancar. Setibanya kembali di tanah-air ayah harus
menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta. Keesokan harinya ayah telah
diperkenankan pulang ke rumah di jalan Belitung no.15 Bogor. Beberapa hari
kemudian, oleh keluhan kembali dirasakan, ayah lalu men-jalani perawatan ulang
di Rumah Sakit Islam Jakarta guna memulihkan kesehatan.
Ayah berpulang ke Rahmatullah
Pada tanggal 18 Januari 1983, jam 8.00 WIB,
ayahanda tercinta: Ir. Hasan Basjarudin Nasution berpulang ke Rachmatullah di
Rumah Sakit Islam Jakarta dengan tenang didampingi ibu. Inna-lillahi Wa Inna
Ilaihi Rojoun. Kahanggi, anakboru, mora, kerabat, sejawat, dan handai tolan
yang mendapat khabar duka, mulai: Bogor, Jakarta, Bandung, Medan, Padang
Sidempuan, sampai kampung halaman di Muara Botung, lalu berduka merasa
kehilangan. Khabar duka lalu disiarkan lewat RRI agar cepat sampai kepada
kaum, rekan kerja, handai tolan, dan kenalan, yang me-ngenal baik almarhum di
berbagai kota nusantara sepanjang hayatnya. Di rumah duka berdata-ngan para
pelayat: kahanggi, kerabat, pejabat, kenalan, handai tolan, rekan sekerja,
semuanya menyampaikan ucapan belasungkawa yang diterma ibu, putra dan putri ditinggalkan,
dengan permintaan agar sabar, tabah, dan bertawakkal kepada Ilahi Rabbi menerima
keadaan.
Setelah segala urusan berhubungan dengan Rumah
Sakit Islam diselesaikan, mendiang ayah lalu diberangkatkan ke Rumah Duka di
jalan Belitung no.15 Baranangsiang, Bogor. Bayak pelayat datang mengunjungi Rumah Duka di Bogor,
menyampaikan rasa belasungkawa yang dalam ke-pada ibu, putera, dan puteri yang
tengah berduka. Selama ayah dirawat di rumah sakit Islam Jakarta, kahanggi
marga Nasution berdatangan dari Medan begitu pula anakborunya. Menjelang
sholat ashar, setelah segala sesuatu yang berhubungan dengan fardhu kifayah
syariat Islam dilaksanakan, diawali azan dikumandangkan menantu Hafitdz Darwis
Siregar S.H., jenazah ayah tercinta lalu diberangkatkan dari Rumah Duka ke TPU
(Tempat Pemakaman Umum) Desa Kebon Pedes guna dimakamkan. TPU Kebon Pedes
terletak di Kelurahan Kebon Pedes, Keca-matan Tanah Sareal, Kabupaten Bogor,
Jawa Barat. Tiga malam berturut-turut berlangsung tah-lil membaca Surat Yasin
di rumah duka guna memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wata-ala, agar kepada
almarhum ayah diberi tempat lapang dalam kubur, diampuni dosa yang pernah
dilakukan selama hayatnya termasuk kepada kedua orangtua dan leluhur di kampung
halaman silam, dan tempat baik di alam barzah.
Peringatan 40 Hari Ayah Wafat
Pada tanggal 1 Maret 1883, berlangsung peringatan
40 hari wafatnya ayah: Ir. Hasan Basjarudin Nasution, gelar Sutan Borotan
Pandapotan di rumah duka di jalan Belitung No.15 Baranang-siang, Bogor.
Kahanggi, anakboru, mora dan sanak saudara serta kaum kerabat berdatangan untuk membacakan “Surat Yasin” memanjatkan doa
untuk almarhum. Ustadz yang memimpin pembacaan ayat-ayat suci diambil dari
Al-Quran ul Karim juga memberi ceramah berhubungan dengan perjalanan anak
manusia yang telah meninggalkan alam fana untuk bersua dengan Sang Khalik.
Ayah dan ibu mendidik putera dan
puteri
Ayah dan ibu, menyelesaikan pendidikan putra dan
putri setelah keluarga kembali tinggal di Bogor untuk kedua kalinya. Puteri ayah
sulung, Rusmini S.R. Nasution usai SMA tahun 1963, lalu melanjutkan ke ke IPB,
dan memilih Fakultas Peternakan. Awalnya semua perkuliahan berjalan
lancar, akan tetapi setelah muncul G30S, menuju akhir tahun 1965 dan sepanjang
tahun 1966 perkuliahan terpaksa berhenti, karena banyak anggota HMI (Himpunan
Mahasiswa Islam) dari IPB turut mendukung Orde Baru saat itu. Para mahasiswa
dengan beragam kendaraan
berbon-dong-bondong menuju ke Jakarta berdemonstrasi berhari lamanya,
siang dan malam, untuk am-bil bagian menumbangkan pemerintah Orde Lama pimpinan
Presiden Sukarno. Perkuliahan IPB baru kembali pulih setelah gejolak sosial di
tanah-air reda tahun 1967, menyebabkan puteri sulung ayah ambil bagian dalam
wisuda IPB tanggal …..tahun 1970.
Puteri ayah kedua, Nilawati Nasution, usai SMA
Bogor meneruskan pendidkan ke Universitas Indonesia Jakarta, dan memilih
Fakultas Hukum. Awalnya tinggal bersama keluarga Oom Su-pardi di jalan Teuku
Umar tidak terlalu jauh dari UI di Salemba. Akan tetapi ketika pada malam perajurit-perajurit
TNI simpatisan PKI menyerang kediaman Jenderal A.H.Nasution, puteri kedua ayah sedang
berada di rumah, sehingga mendengar langsung rentetan tembakan yang dilepaskan
perajurit-perajurit subuh hari, karena rumah Jenderal A.H.Nasution tepat
bersebera-ngan dengan kediaman Oom Supardi di jalan Teuku Umar, Menteng. Dalam
suasana yang sedang mencekam, agar dapat meneruskan kuliah, puteri ayah kedua lalu
pindah ke rumah Ompung Rawasari di Jakarta Timur, lalu dari sana ke rumah
bujing Hadidjah Harahap di Rawa-mangun. Setelah selesai perkuliahan, ia
diwisuda tanggal 27 Desember 1972. Putri kedua ayah kemudian bekerja di BPPT, dan sempat mengambil
S2 di Universitas Indonesia menjadi Ahli Perundang-Undangan.
Puteri ayah ketiga, Fatmasari Nasution, awalnya
meneruskan ke SMP I setelah ayah sekeluarga
kembali tinggal di Bogor, lalu melanjutkan ke SMA. Ia kemudian pindah ke
SMA-Kesatria di jalan Percetakan Negara Jakarta untuk menyelesaikan SMA dan
tinggal bersama bujing di Rawa-mangun. Ia kemudian melanjutkan ke Universitas
Indonesia dan memilih Fakultas Hukum
Ex-tension. Perkuliahan di FHUI lalu terhenti sampai tingkat sarjana muda
setelah terjadi G30S. Ka-rena tidak berminat lagi meneruskan, lalu memilih mengikuti
berbagai kursus kewanitaan di Bandung bersama adik sepupu si Armada.
Putri ayah keempat, Penta Riris Nasution, setelah
kembali tinggal di Bogor melanjutkan ke SMP I di jalan Gedung Sawah,lalu
melanjutkan ke SMA, dan dari sana ke IPB memilih Fakultas Perikanan. Karena IPB
telah berjalan normal semenjak tahun 1967, putri ayah ini tidak mendapat
kesulitan apapun dalam menyelesaikan studinya tepat waktu, dan diwisuda
tanggal……..tahun 19 .
Puteri ayah kelima, Nurhayati Nasution, setelah
menyelesaikan SMA, lalu melanjutkan ke UNPAD (Universitas Pajajaran) Bandung,
memilih Fakultas Kedokteran. Ia berhasil menyele-saikan pelajaran sampai
sarjana muda. Karena tidak berbakat menjadi dokter, lalu tahun 1978
mengundurkan diri. Kemudian ia mengikuti Pitman School di London, Inggris,
selama dua tahun, dan sekembalinya di tanah-air mendapat pekerjaan di ELNUSA,
anak perusahaan P.N.Pertamina.
Putera ayah keenam, Arif Mulia Nasution, awalnya ikut
TK Mexindo di Taman Malabar Bogor tahun 1965. Dari sana ke SD Teladan di Jalan
Bangka selesai tahun 1972. Ia lalu meneruskan ke SMP Negeri III di jalan Taman Malabar
selesai tahun 1975, kemudian SMA II Negeri di jalan Ir. Haji Djuanda tammat
tahun 1978. Dari SMA ia melanjutkan ke Universitas Gajah Mada di Yogyakarta,
akan tetapi tidak sampai selesai. Lalu pindah ke Sekolah Tinggi Perkebunan
(STIPER) di kota yang sama dan meraih Sarjana Teknik Kehutanan, lalu diwisuda
tanggal ….tahun 19.
Puteri ayah ketujuh, Tety Rahmasari Nasution,
sebagaimana putera ayah keenam juga turut ke sekolah yang sama sampai SMA. Lalu
melanjutkan ke IPB, dan memilih Fakultas Pertanian. Ia tidak mengalami
kesulitan apa-apa di Institut Pertanian itu, lalu diwisuda tanggal ….tahun 19 .
Ia juga mengikuti kursus melancarkan Bahasa Inggris di Australia selama satu
tahun.
Ibu dan Ayah menikahkan putera dan puteri
Ayah dan ibu menikahkan
putra dan putri setelah keluarga kembali tinggal di Bogor. Anak ayah yang sulung:
Ir.Rusmini Sri Rahaju Nasution, menikah dengan Ir. Rusli Harahap dari Hanopan,
Sipirok, Tapanuli Selatan tanggal 2 Desember 1972. Awalnya mereka tinggal di
jalan Sumber Bhakti no.9 Tomang, Jakarta Barat. Lalu pindah ke jalan Aren no.2
di Rawamangun, kemudian jalan Batu Intan
Baiduri no. 9, Pulomas Jakarta Timur. Kini menetap di jalan Batu Pancawarna
1/2A, Pulomas, Jakarta Timur.
Anak ayah kedua:
Nilawati Nasution S.H., menikah dengan Darwis Siregar S.H. dari Baringin,
Sipirok Tapanuli Selatan tanggal 11 Mei 1973. Mereka awalnya tinggal di jalan
Pinang 32, Rawamangun, lalu pindah ke jalan Intan no. 20, Pulomas, Jakarta
Timur.
Ayah dan Ibu sekeluarga
Kehadiran Jenderal DR A.H.Nasution dan Ibu
Dr. Pamusuk Harahap memberi kata sambutan
Anak ayah keempat: Ir. Penta Riris Nasution, menikah
dengan drs. Akinaga Sinaga MPA dari Pakkat, Tapanuli Utara tanggal 2 Desember
1982, dan tinggal di jalan Intan no.17, Pulomas, Jakarta Timur.
Anak ayah
kelima: Nurhayati Nasution menikah dengan drs. Irfan Lubis dari Habincaran,
Kotanopan, Mandailing, tanggal 29 Juni 1986. Awalnya mereka berdiam di Sibolga
dimana sang suami ketika itu bekerja. Dari sana pindah ke Jakarta dan
tinggal di jalan Wadas II, no.19 Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.
Anak ayah keenam:
Ir.Arif Mulia Nasution menikah dengan Ita boru dari Jawa Tengah tanggal 28
Oktober 2001. Mereka kemudian dibawa pulang ke Muara Botung untuk dipabotohon
dengan kaum kerabat di kampung. Kini mereka tinggal di Taman Galaxy, jalan
Permata 284/285 Blok D, Bekasi.
Anak ibu
ketujuh, putri: Ir. Tety Rachmasari Nasution menikah dengan Ir. Akmal Gani
beasal dari Bogor, Jawa Barat pada tanggal 3 Februari 1990. Awalnya mereka
beriam di jalan Belitung no.15 Bogor bersama ibu, kemudian pindah ke jalan Wadas
II no. 17 Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi; dan bertetangga dengan putri ibu
yang kelima.
Ibu Ayah Bersama Para Cucu
Dari anak pertama, putri, ayah mendapat cucu
laki-laki pertama: Arifilmiansyah Parlindungan Harahap (Arif), lahir tanggal 11
Juli 1974. Lainnya juga seorang cucu laki-laki: Budiadiliansyah Pardomuan
Harahap (Budi), lahir tanggal 30 Maret 1976, dan cucu perempuan: Altinai Molu-nasari
Harahap (Inai), lahir tanggal 23 Juni 1978. Semuanya lahir di Jakarta.
Dari anak kedua, putri, ayah mendapat cucu perempuan
pertama: Nurhasanah Titik Darnila Siregar (Titik), lahir tanggal 11 Maret 1974
di Jakarta. Lainnya seorang
cucu laki-laki: Muhamad Kodri Siregar (Odi), lahir tanggal 4 Oktober 1975 di
Jakarta.
Dari anak ketiga, putri ayah mendapat seorang
cucu puteri: Adhalina Anggiasari Hutasuhut (Anggi), lahir tanggal 28 September
1982 di Jakarta.
Dari anak keempat, putri, ayah mendapat tiga
orang cucu, semuanya perempuan, masing-masing: Indira Konora Sinaga (Noya),
lahir tanggal 11 Maret 1980; Mira Kemalasari Sinaga (Mira), lahir tanggal 1
April 1985; dan Tamara Nuramalia Sinaga (Tara), lahir tanggal 2 Oktober 1986. Semu-anya
lahir di Jakarta.
Dari anak kelima, putri ayah mendapat dua orang
cucu, semuanya perempuan: Shameira Rizkia Lubis (Ira), lahir tanggal 23 Mei
1987 di Sibolga, dan Annisa Saskia Lubis (Ica), lahir tanggal 4 Januari 1991 di
Bogor.
Dari anak keenam, putera, ayah mendapat seorang
cucu, puteri bernama: Lendy Nooramina Na-sution (Lendi), lahir pada tanggal 17
April 2003 di Jakarta.
Dari anak ketujuh, putri, ayah mendapat tiga
orang cucu putera dan puteri, masing-masing: Mirza Akmarizal Gazali (Mirza),
lahir tanggal 11 Mei 1993; Tatiana Anindia Ramadhani (Tati), lahir tanggal 7
Maret 1995; dan Kevin Abdulazis Gazali (Kevin), lahir tanggal 22 Juni 1999. Semuanya
lahir di Jakarta.
Sumber Tulisan
1. Daftar
Riwayat Hidup ayah H. Ir. Hasan Basyarudin Nasution disusun di Bogor pada
tanggal 14 Juni 1980.
2.
Penuturan ibunda Ny. Hj. Hasan Basyarudin Nasution, dan kumpulan tanya-jawab
yang
disampaikan oleh putera dan puterinya
dalam beragam kesempatan.
3. Kumpulan kenangan putera dan puteri ayah H.
Hasan Basyarudin Nasution dalam kehidu-
pan keluarga dari kecil sampai
dewasa dan berumah tangga.
4. Mr. Palti-Radja Siregar. Hukum Warisan
Adat Batak, disusun Januari 1958.
5. H. Porkas Daulae.
Sedikit Tentang Marga Batak. Sebuah Studi. Cetakan Pertama. Lembaga Kebudayaan
Rakyat. Sumatera Utara, Medan. 1960.
6. Yayasan Kesejahteraan Keluarga Pemuda 66.
Pantja Windu Kebangkitan Perjuangan
Pemuda Indonesia. Maret 1970,
diterbitkan Departemen Penerangan R.I.
7. H.M.D Harahap S.H. Perang Gerilya
Tapanuli Selatan. Front Sipirok. Cetakan Pertama.
Penerbit P.T Azan Mahani, Jakarta 1986.
8. Baginda Hanopan Harahap. Pengalaman Masa Perang Jepang “Dai Toa
Senso” 1942-1945
Dalam Gotong Royong ‘Kingrohoshitai’. Diterbikan Sendiri. Desember 1992.
9. Time-Life Books. Live at War. Special
Edition. First Printing. Dai Nippon Printing Co. Ltd
Hong Kong. 1985.
10. Drs. E.K.Siahaan. Monografi Kebudayaan Angkola-Mandailing. Proyek
Pengembangan
Permuseuman Sumatera Utara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia, Medan. 1982.
11. Jenderal Dr. Abdul Haris Nasution. Sekitar
Perang Kemerdekaan Indonesia. Jilid 1 s/d 11.
Cetakan Kedua. Disjarah-AD, Penerbit
Angkasa, Bandung. 1977.
12. Encyclopaedia
Britannica, London, Great Britain. 1957.
13. Encyclopaedia
International, Grolier, USA. 1963.14. Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta. 1982.
15. Ensiklopedi Nasional Indonesia, P.T.Cipta Adi Pustaka, Jakarta. 1990.
16. Nazwir Abu Nain.
Siapa Dalang G30S 1965 PKI atau Tentara. Antara Fakta dan Pemutar-
balikan Sejarah. Cetakan Pertama. Penerbit Studio Press, Jakarta. 2001.
17. Hadi Soebadio.
Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/PERMESTA. Terbitan
Pertama. Penerbit P.T.Gramedia Pustaka Utama. 2002.
18. Lee Kuan Yew.
Memoirs From Third World To First. The Singapore Story: 1965-2000
Time Media Private Limited of the Times Publishing GroupTimes Centre, New
Industrial
Road Singapore 536196.
19. PDAT Tempo.
Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai. Perjalanan Hidup A.H.
Nasution Percetakan Temprint Jakarta.
1998.
20. Antonie C.A. Dake.
Sukarno File. Cetakan Keempat. Berkas-berkas Soekarno 1965-1967.
Kronologi Suatu Keruntuhan. Penerbit Aksara Kaunia 2006.
21. Badan Penerbit
Y.D.B.K. M.I. Jakarta. Cetakan Pertama. Presiden Suharto Bapak
Pembagunan Indonesia, Evaluasi
Pembangunan Pemerintahan Orde Baru., P.T. Harapan
Bandung 1983.
22. Rosanna Kelly.
Russia. A Motovun Group Book, Second Printing, Flint River Press Ltd.,
143-149 Great River Portland Street, London WIN 5FB, U.K. 1996.
23. Majalah Tempo, Edisi 23-29 Juli 2007 dan Edisi 13-18
Agustus 2007.
24. J.E.Habibie. Dari
Pare-Pare Sampai ke Court St. James. Penerbit Yayasan AA&RA
Habibie Jakarta 2004.
Penulis:
H. Ir. Arif Mulia Nasution
Bekasi: Jalan
Permata 284/285 Blok D, Taman Galaxy.
Tel: 8242-8978. HP: 0818750338
Bogor: Jalan Belitung no. 15,
Baranangsiang.
Tel: 0251-8323151.






No comments:
Post a Comment